DIKSIMERDEKA.COM LA PAZ – Hantu masa lalu rupanya belum mau melepaskan Evo Morales. Mantan Presiden Bolivia beraliran kiri yang pernah berkuasa dengan tangan besi ini kini resmi masuk bidikan Kejaksaan Agung negaranya sendiri. Tuduhannya tak main-main: keterlibatan dalam kasus pembunuhan dan penyiksaan brutal terhadap sejumlah warga negara Eropa pada tahun 2009 silam.

Laporan The Guardian menyebut skandal ini bak bom waktu yang akhirnya meledak. Jaksa Agung ad interim Bolivia, José Armando Urioste, yang baru sepekan menjabat, langsung tancap gas mengumumkan penyelidikan awal terhadap Morales pada Senin (12/10/2026) waktu setempat.

Langkah hukum ini diambil setelah adanya laporan resmi dari dua anggota parlemen sayap kanan, Tomasa Yarhui dan Rodrigo Antonio, yang mendesak keadilan bagi para korban.

Tragedi Santa Cruz: Tiga Diberondong Peluru, Dua Disiksa

Mundur ke belasan tahun lalu, tepatnya pada 2009, pasukan kepolisian Bolivia menggerebek sebuah hotel di kota Santa Cruz. Operasi itu berujung pada mandi darah.

Baca juga :  Pembunuhan di Monang Maning, Kasat Reskrim Polresta Denpasar Sebut Karena Masalah Pribadi

Tiga orang tewas diberondong peluru mematikan. Mereka adalah Eduardo Rózsa Flores (warga negara ganda Bolivia-Kroasia), Michael Dwyer (warga Irlandia), dan Árpád Magyarosi (warga Hungaria-Rumania).

Tidak berhenti di situ, dua orang lainnya yang selamat dari maut—Mario Tadic (Bolivia-Kroasia) dan Elöd Tóásó (Hungaria)—mengaku mengalami penyiksaan keji setelah mereka ditangkap oleh aparat.

Kala itu, pemerintahan Morales punya alibi kuat. Mereka berdalih bahwa Rózsa Flores sedang memimpin gerakan separatis pemberontak, yang konon didanai oleh elite ekonomi sayap kanan di Santa Cruz.

Jejak Perintah Sang Mantan Presiden

Kini, kebenaran mulai dicari. Dalam surat resminya kepada Mahkamah Agung, Jaksa Agung Urioste menegaskan bahwa pihak berwenang tengah mengumpulkan tumpukan bukti untuk menjerat Morales beserta mantan Wakil Presidennya, Álvaro García Linera.

Baca juga :  Tim Gabungan Polda Bali Tangkap Pelaku Pembunuhan Buruh Bangunan

Keduanya dibidik “atas dugaan melakukan kejahatan pembunuhan, pelecehan, penyiksaan, dan penahanan tidak sah”.

Jejak keterlibatan Morales sebenarnya pernah meluncur dari mulutnya sendiri. Tepat setelah penggerebekan berdarah itu terjadi, Morales yang saat itu tengah melakukan kunjungan kenegaraan ke Venezuela, sesumbar kepada awak media bahwa dirinyalah yang memerintahkan penahanan para warga asing tersebut. Kala itu, ia melabeli para korban sebagai “tentara bayaran”.

Kasus ini sebenarnya sudah pernah dibawa oleh keluarga korban ke Komisi Hak Asasi Manusia Inter-Amerika (IACHR). Hasilnya? Pada tahun 2021, lembaga tersebut secara tegas menyimpulkan bahwa pemerintah Bolivia di era Morales telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia.

Hingga berita ini diturunkan, baik Morales maupun García Linera masih bungkam dan belum memberikan komentar apapun terkait penyelidikan terbaru ini.

Baca juga :  Bolivia Membara! Demo Krisis Ekonomi Berujung Bentrok dengan Polisi

Nasib Tragis Morales: Dari Presiden Menjadi Buronan Berlapis Kasus

Kondisi Evo Morales saat ini sungguh berbalik 180 derajat. Sosok yang pernah mencetak sejarah sebagai orang Pribumi pertama yang memimpin Bolivia itu kini hidup dalam pelarian.

Morales saat ini berstatus buron dan sedang bersembunyi dari dua surat perintah penangkapan aktif yang memburunya. Kasus pertama berkaitan dengan perannya yang diduga menjadi dalang di balik protes besar-besaran yang melumpuhkan Bolivia selama 53 hari pada awal tahun ini.

Sedangkan kasus kedua jauh lebih kelam: ia dituduh melakukan perdagangan anak di bawah umur, yang kabarnya telah melahirkan seorang anak perempuan hasil hubungan dengannya. Atas semua tuduhan berlapis yang kini menjerat lehernya, Morales membantah keras. Namun, jerat hukum tampaknya makin ketat mengurung sang mantan penguasa.