DIKSIMERDEKA.COM PANAMA CITY Pemerintah Panama resmi menetapkan status darurat nasional pada Sabtu (10/10/2026) waktu setempat. Keputusan ini diambil setelah dua gempa bumi dahsyat bermagnitudo 7,7 dan 6,6 mengoyak negara tersebut, disusul teror lebih dari 100 gempa susulan yang membuat warga panik tak karuan selama berjam-jam.

Meski guncangannya sangat brutal, pejabat setempat memastikan tidak ada korban tewas akibat bencana yang terjadi sejak Jumat tersebut. Namun, Gempa Panama ini sukses membuat babak belur seluruh 10 provinsi dan dua wilayah adat di negara tersebut.

Pusat gempa pertama yang juga dirasakan hingga negara tetangga, Kolombia, berada sekitar 10 kilometer di barat daya daerah terpencil Pitaloza Arriba, Provinsi Herrera. Kedalamannya sangat dangkal, hanya 10 kilometer di bawah permukaan bumi, memicu guncangan hebat yang memaksa evakuasi besar-besaran di penjuru negara Amerika Tengah itu. Seismolog mencatat ratusan gempa susulan, beberapa di antaranya mencapai magnitudo 5,8, 5,5, dan 5,2.

Baca juga :  Banjir Bandang Nepal 900 Pekerja Terkubur Hidup-hidup di Terowongan PLTA

Dilansir The Guardian, Menteri Kepresidenan Panama, Juan Carlos Orillac, mengumumkan langsung status darurat ini dalam konferensi pers di ibu kota, Panama City. Ia membeberkan bahwa rumah, sekolah, fasilitas kesehatan, jalan, hingga hotel rusak parah dihantam gempa. Sementara itu, Wakil Direktur Sistem Perlindungan Sipil Nasional, Malitzie Rivera, melaporkan ada 27 orang mengalami luka ringan hingga sedang.

Ratusan Bangunan Ambruk, Warga Tidur di Jalanan

Berdasarkan data Badan Perlindungan Sipil, kerusakan terparah terpusat di provinsi Veraguas, Herrera, Cocle, dan Los Santos. Angka kerusakannya bikin merinding: sekitar 420 rumah dan 420 sekolah umum hancur. Tak hanya itu, tujuh hotel, sembilan jembatan, dan sedikitnya 13 gereja ikut terdampak.

Kondisi mencekam terlihat jelas di La Villa de Los Santos, sebuah komunitas era kolonial yang berjarak 64 kilometer dari pusat gempa. Di sana, rumah-rumah warga dan sebuah gereja Katolik bersejarah rata dengan tanah. Warga terpaksa tidur di jalanan beratapkan langit, menunggu uluran tangan dan arahan pemerintah.

Baca juga :  Korban Tewas Gempa Venezuela Tembus 920 Orang, Pemerintah Berjanji Selamatkan Korban Sebanyak Mungkin

Kepanikan ini tergambar dari kesaksian Tony Jiménez, lansia yang rumahnya hancur separuh. Duduk bersama kerabatnya di bawah tenda darurat, ia menceritakan betapa mengerikannya guncangan tersebut.

“Kami sudah di sini sejak jam 1 siang kemarin; kami belum beranjak sama sekali,” ujar Tony. “Ini benar-benar mengerikan. Saya bisa katakan dengan sangat yakin bahwa selama 90 tahun hidup saya, saya belum pernah mengalami hal seperti ini. Guncangannya sangat dahsyat – benar-benar dahsyat.”

Hingga Sabtu, tidak ada laporan warga yang hilang. Namun, akses ke beberapa daerah masih terputus total akibat tanah longsor dan jalan yang hancur.

Nol Korban Jiwa dan Bantuan Internasional Mengalir

Di balik kerusakan masif, fakta bahwa tidak ada korban jiwa dalam Gempa Panama ini menjadi sorotan. Kepala Departemen Seismologi di Universitas Otonom Nasional Meksiko, Carlos Valdés, menyebut keajaiban ini kemungkinan besar berkat ketatnya aturan konstruksi bangunan di Panama, terutama regulasi untuk gedung pencakar langit di ibu kota.

Baca juga :  Presiden Jokowi Tinjau Sarana Terdampak Bencana Banjir di Kabupaten Banjar

Dukungan internasional pun langsung mengalir deras. Presiden Panama, Jose Raul Mulino, pada Jumat menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para pemimpin Amerika Latin. Ia mengaku telah berkoordinasi dengan Presiden Cile, Uruguay, dan Guatemala yang siap turun tangan.

Amerika Serikat juga tak tinggal diam. Departemen Luar Negeri AS pada Sabtu menyatakan telah mengerahkan tim tanggap bencana lengkap dengan keahlian pencarian dan penyelamatan, serta tim pemantau udara dan darat. Paman Sam juga menggelontorkan dana bantuan kemanusiaan sebesar 5 juta Dolar AS (sekitar Rp 76 miliar).

Sebagai aksi cepat tanggap, Komando Selatan Militer AS yang didukung biro pengendalian narkoba Departemen Luar Negeri, langsung menerbangkan dua helikopter. Mereka mendistribusikan 907 kilogram makanan bagi warga yang menjadi korban kebrutalan alam ini.