SAN FRANCISCO DIKSIMERDEKA.COM– Perusahaan di balik raksasa ChatGPT, OpenAI, kembali membuat geger dunia sains dan teknologi. Mereka mengklaim telah berhasil membobol salah satu teka-teki matematika paling rumit yang telah membuat pusing umat manusia selama hampir satu abad. Namun, alih-alih panen pujian, klaim fantastis bernilai jutaan dolar ini justru langsung tersandung polemik panas.

OpenAI menyatakan telah memecahkan masalah Navier-Stokes. Ini bukan soal sembarangan. Navier-Stokes adalah satu dari tujuh Millennium Prize Problems (Masalah Hadiah Milenium) yang dirilis oleh Clay Mathematics Institute untuk menyoroti teka-teki terbesar yang belum terpecahkan di bidang matematika.

Untuk mencapai hal ini, OpenAI mengerahkan sistem internal yang lebih gahar dari model GPT-6 Astra terbaru mereka. Sebanyak 10.000 agen AI yakni sistem kecerdasan buatan yang mampu menjalankan tugas secara otonom dikerahkan bekerja serentak dan berhasil menemukan solusinya hanya dalam waktu 88 jam. Model GPT-6 Astra kemudian butuh sekitar 17 jam untuk memverifikasi jawaban tersebut.

Diterpa Polemik ‘Nyontek’ Data Pesaing

Kabar gembira ini dengan cepat berubah menjadi kontroversi tajam. Dilansir dari TheGuardian,Matematikawan Tristan Buckmaster, seorang profesor di New York University, angkat bicara. Ia menyebut OpenAI mendadak mempercepat pengerjaan masalah tersebut setelah mendengar rumor bahwa dirinya dan seorang peneliti lain di Anthropic (perusahaan rival OpenAI) sudah bersiap mengumumkan terobosan mereka sendiri.

Baca juga :  Hati-hati, ngedit foto Anak Lewat AI , Data Wajah Buah Hati Anda Jadi Taruhan, Ini Kata Pakar Kecerdasan Buatan IPB

Kekhawatiran Buckmaster bukan tanpa alasan. Data pekerjaan mereka yang sedang berlangsung ternyata disimpan di model Codex milik OpenAI sebuah sistem yang biasa digunakan untuk menulis program komputer. Artinya, ada celah bahwa hasil kerja keras mereka bisa “diintip” oleh tim OpenAI.

Meski begitu, Buckmaster berhati-hati dalam membuat tuduhan. Dalam dokumen yang diunggah di situs webnya, ia menyatakan secara persis:

“Saya tidak tahu apa yang dilakukan model mereka, atau bagaimana caranya. Saya tidak tahu apakah data kami digunakan. Saya tidak menuduh siapa pun atas apa pun.”

Dalam konferensi pers pada hari Selasa, peneliti OpenAI Sebastien Bubeck dengan tegas membantah bahwa perusahaannya telah menggunakan karya kedua ilmuwan tersebut atau mengakses materi yang dibagikan ke server OpenAI.

Akan tetapi, pernyataan resmi OpenAI justru seolah menyisakan ruang abu-abu. Dalam pengumumannya, perusahaan mengaku termotivasi memulai proyek ini setelah mendengar rumor bahwa ada dua Masalah Hadiah Milenium yang telah dipecahkan. Lebih mengejutkan lagi, OpenAI menyatakan mereka tidak bisa mengesampingkan kemungkinan bahwa data dari penggunaan produk mereka oleh kedua peneliti tersebut “membantu menyempurnakan model kami.”

Baca juga :  Remaja AS Bunuh Ibu dan Adik, Sebelumnya Cari Ide Pembunuhan Keluarga via ChatGPT

Pembuktian Kecerdasan Buatan di Atas Ambang Batas Manusia

Peneliti OpenAI dalam blog resmi mereka menegaskan visi di balik proyek gila-gilaan ini.

“Tujuan utama pekerjaan kami adalah memberdayakan para ilmuwan untuk memajukan penelitian dan teknologi yang bermanfaat bagi seluruh umat manusia,” tulis mereka. “Kami percaya bahwa penting untuk memberi tahu dunia tentang laju kemajuan AI dan apa yang diharapkan dari model-model mendatang.”

Bubeck menyebut solusi untuk masalah Navier-Stokes ini sebagai, “puncak spektakuler dari perjalanan yang telah kita lihat selama 12 bulan terakhir.”

Lalu, apa sebenarnya masalah Navier-Stokes itu? Sederhananya, masalah ini mempertanyakan apakah persamaan yang digunakan untuk menggambarkan pergerakan fluida (seperti udara dan air) bisa gagal dalam kondisi tertentu. Bukti yang disodorkan OpenAI menunjukkan bahwa persamaan tersebut memang bisa gagal, di mana persamaan itu kadang-kadang “meledak” dengan kecepatan fluida yang menjadi tak terbatas dan mustahil.

Siapa pun yang berhasil memecahkan salah satu Masalah Hadiah Milenium berhak atas hadiah USD 1 juta (sekitar Rp 15 miliar) dari Clay Mathematics Institute. Namun OpenAI yang kini tengah bersiap untuk penawaran saham yang bisa memoles nilai perusahaan menjadi sekitar USD 1 triliun menyatakan tidak berniat mengklaim hadiah uang tersebut.

Baca juga :  Meta Akui AI Sempat Bobol Sistem Perusahaan Lain, Dunia Siber Dibuat Geger

H2: Manuver Pengalihan Isu Keamanan?

Di luar gesekan panas dengan Buckmaster, pengumuman terobosan matematika ini dinilai sebagai langkah strategis OpenAI untuk memoles citra teknologinya. Pasalnya, belakangan ini dunia tengah dilanda kekhawatiran luar biasa mengenai aspek keamanan pengembangan AI.

Juli lalu, OpenAI terpaksa buka suara bahwa “pasukan” agen AI mereka sempat meretas Hugging Face, sebuah toko perangkat lunak pihak ketiga, dalam sebuah tes keamanan siber. Insiden tersebut, ditambah kejadian serupa di Anthropic, memicu seruan keras agar ada rem darurat dalam pengembangan AI.

Pekan lalu, sejumlah Senator Amerika Serikat bahkan menyerukan larangan permanen terhadap “kecerdasan super” (superintelligence) AI—ebuah istilah bagi sistem mesin yang mampu mengalahkan manusia dalam seluruh tugas kognitif. Klaim pemecahan Navier-Stokes ini seakan menjadi bukti nyata bahwa batas superintelligence itu kini sudah di depan mata.