Trump Hentikan Serangan ke Iran selama dua malam berturut-turut setelah mendapat rekomendasi dari pejabat tinggi militer Amerika Serikat. Keputusan tersebut diambil di tengah berlanjutnya negosiasi diplomatik untuk mencegah konflik dengan Teheran kembali berubah menjadi perang terbuka.

WASHINGTON, DIKSIMERDEKA.COM – Amerika Serikat menghentikan sementara operasi pengeboman terhadap Iran selama dua malam berturut-turut. Langkah tersebut dilakukan setelah para petinggi militer menilai kampanye serangan telah mencapai batas efektivitas dan stok amunisi mulai menipis.

Menurut sejumlah laporan, Trump kini mempertimbangkan dua pilihan, yakni melanjutkan jalur diplomasi atau kembali melakukan operasi militer jika negosiasi gagal.

Di saat yang sama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan mengunjungi Gedung Putih pada Selasa (waktu setempat). Dilansir The Guardian, Netanyahu selama ini dikenal mendorong Washington agar tetap melanjutkan serangan terhadap Iran dan bersikap keras dalam perundingan mengenai program nuklir Teheran.

Trump Hentikan Serangan ke Iran

Laporan media Amerika menyebut Laksamana Bradley Cooper, komandan militer tertinggi AS di kawasan, memberi tahu Trump bahwa daftar target strategis di Iran hampir habis.

Baca juga :  Iran Ancam Invasi AS, Harga Minyak Tembus USD 107! Dunia di Ambang Krisis Energi

Ia juga memperingatkan bahwa melanjutkan serangan tanpa sasaran militer baru hanya akan menguras persediaan senjata dan tidak memberikan keuntungan strategis yang signifikan.

Selain itu, pejabat tinggi pemerintahan Trump juga mengingatkan bahwa stok rudal pencegat Patriot serta rudal jelajah Tomahawk mulai menurun akibat operasi militer yang berlangsung hampir dua pekan.

Iran Ikut Menghentikan Serangan Balasan

Pemerintah Iran menyatakan turut menghentikan apa yang mereka sebut sebagai serangan balasan terhadap sekutu Amerika Serikat di kawasan.

Juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, mengatakan tidak ada lagi serangan Amerika dalam dua malam terakhir sehingga Teheran juga memilih menghentikan operasi balasan.

Meski demikian, Iran menegaskan kebijakan tersebut bersifat sementara dan bergantung pada langkah Washington selanjutnya.

Jalur Diplomasi Kembali Dibuka

Di tengah meredanya serangan, diplomat Iran dan Oman dikabarkan kembali melakukan perundingan mengenai pembukaan Selat Hormuz, jalur pelayaran yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia.

Seorang pejabat Iran juga mengonfirmasi bahwa komunikasi dengan negosiator Amerika kembali dilakukan untuk mencegah perang berskala penuh.

Baca juga :  Update : Iran Targetkan Pangkalan Militer AS di Kuwait, UEA, Qatar, dan Bahrain

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan berbagai mediator sedang bekerja agar ketegangan tidak kembali meningkat.

Netanyahu Tetap Desak Operasi Militer

Sementara itu, Netanyahu dijadwalkan menggelar rapat kabinet keamanan sebelum bertolak ke Washington.

Pemimpin Israel tersebut disebut masih mendorong Amerika Serikat mengambil sikap keras terhadap program nuklir dan rudal balistik Iran.

Namun, pemerintahan Trump kini lebih memprioritaskan upaya diplomasi, termasuk memastikan Selat Hormuz kembali dibuka untuk menjaga stabilitas pasokan energi global.

Meski serangan udara dihentikan sementara, Duta Besar Amerika Serikat untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Mike Waltz, menegaskan seluruh opsi militer masih tetap terbuka apabila situasi kembali memburuk.


ekhawatiran Pasar Energi Global

Keputusan Washington menghentikan sementara serangan juga disambut dengan kehati-hatian oleh pelaku pasar energi internasional. Konflik di sekitar Selat Hormuz, yang menjadi jalur sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, selama ini memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi global.

Para analis menilai apabila jalur pelayaran tersebut kembali ditutup atau konflik meningkat, harga minyak mentah berpotensi melonjak dan memicu tekanan terhadap ekonomi dunia. Karena itu, upaya diplomasi antara Amerika Serikat, Iran, dan Oman dipandang menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas kawasan.

Baca juga :  Selat Hormuz Memanas, Pemerintah Amankan Kapal Indonesia dan Pasokan BBM

Di sisi lain, Gedung Putih menegaskan penghentian serangan bukan berarti operasi militer benar-benar berakhir. Pemerintah Amerika menyebut seluruh opsi, termasuk tindakan militer, tetap tersedia apabila Iran kembali melakukan aksi yang dianggap mengancam kepentingan AS maupun sekutunya.

Situasi ini membuat dunia internasional masih menunggu hasil pembicaraan diplomatik dalam beberapa hari ke depan. Jika negosiasi berjalan positif, ketegangan diperkirakan dapat mereda. Namun apabila perundingan gagal, risiko eskalasi konflik di Timur Tengah tetap terbuka dan berpotensi memengaruhi keamanan kawasan serta perekonomian global.

Meski intensitas serangan mulai menurun, para pengamat menilai situasi masih sangat rapuh. Setiap kegagalan dalam proses diplomasi berpotensi memicu kembali aksi militer yang lebih luas. Karena itu, perkembangan perundingan antara Amerika Serikat, Iran, dan para mediator internasional akan menjadi perhatian utama masyarakat dunia dalam beberapa hari ke depan.