MBG Disebut Mulai Berikan Dampak Terhadap Produktifitas Pertanian di Bali
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut mulai memberikan dampak terhadap produktifitas sektor pertanian di Bali. Keberadaan dapur MBG membuat hasil panen petani lebih mudah terserap pasar, sehingga mendorong produktivitas pertanian sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat di daerah.
Ketua Fraksi Gerindra DPRD Bali I Gede Harja Astawa mengatakan program unggulan Presiden Prabowo Subianto itu tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia, tetapi juga menciptakan efek berganda terhadap perekonomian lokal.
“Kami melihat di daerah yang sudah memiliki dapur MBG, khususnya di Kabupaten Buleleng, para petani mulai bergairah kembali menjalankan usaha pertaniannya. Selama ini kendala utama petani adalah pemasaran hasil panen. Dengan adanya MBG, hasil panen menjadi lebih mudah terserap,” ujarnya.
Ia mencontohkan komoditas semangka yang menjadi salah satu hasil pertanian di daerah asalnya. Sebelum ada MBG, petani kerap kesulitan menjual hasil panen saat produksi melimpah sehingga sebagian buah berisiko membusuk. Namun kini, hasil panen dapat diserap oleh dapur MBG dengan harga yang dinilai lebih baik.
Selain buah-buahan, kata dia, kebutuhan dapur MBG juga menyerap berbagai komoditas lokal seperti sayuran, telur, dan daging ayam setiap hari.
“Satu dapur rata-rata melayani sekitar 3.000 porsi makanan setiap hari. Itu berarti ribuan butir telur, daging ayam, sayur, dan buah dibutuhkan setiap hari. Kondisi ini tentu menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus membuka pasar bagi produk pertanian dan peternakan lokal,” katanya.
Menurut Gede Harja, manfaat program MBG juga dirasakan langsung oleh keluarga penerima manfaat. Ia menilai masih banyak anak dari keluarga berpenghasilan rendah yang sebelumnya berangkat ke sekolah tanpa sarapan atau belum mendapatkan asupan gizi yang memadai.
“Dengan adanya MBG, pemerintah memastikan setiap siswa memperoleh makanan bergizi saat berada di sekolah. Orang tua juga menjadi lebih tenang karena kebutuhan gizi anaknya telah dipenuhi,” ujarnya.
Meski demikian, ia mengakui pelaksanaan program masih menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait distribusi di beberapa daerah. Namun, menurutnya hal itu merupakan tantangan yang wajar mengingat MBG masih tergolong program baru.
Ia mengajak seluruh masyarakat ikut mengawal pelaksanaan MBG dengan memberikan kritik yang membangun agar kualitas layanan terus meningkat.
“Pengawasan itu bukan untuk mencari-cari kesalahan, tetapi memastikan jika ada kekurangan dapat segera diperbaiki sehingga program ini semakin baik,” katanya.
Gede Harja juga mendukung langkah Presiden Prabowo menindak tegas pihak-pihak yang diduga menyalahgunakan program MBG, termasuk dugaan praktik jual beli dapur yang mencuat di tingkat nasional.
Menurutnya, hingga saat ini DPRD Bali belum menerima laporan adanya dugaan penyimpangan serupa di Bali.
“Kami belum menerima pengaduan terkait hal itu. Mudah-mudahan memang tidak terjadi di Bali. Kalau ada yang terbukti menyalahgunakan program ini, tentu harus diproses sesuai ketentuan hukum,” ujarnya.
Ia memperkirakan Bali membutuhkan sekitar 400 dapur MBG agar seluruh sekolah dna penerima manfaat merasakan program ini secara optimal. Jika target tersebut tercapai, menurutnya perputaran ekonomi yang dihasilkan akan sangat besar karena mampu menyerap produk-produk pertanian dan peternakan lokal secara berkelanjutan.
“Kalau 400 dapur beroperasi, uang yang berputar di Bali bisa mencapai ratusan miliar rupiah setiap bulan. Ini akan meningkatkan daya beli masyarakat, membuka lapangan kerja, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah,” ungkapnya.
Reporter: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan