Inggris Udah Mimpi Final, Eh Argentina Comeback 2-1! Messi Bikin Mimpi Itu Hancur
DIKSIMERDEKA.COM ATLANTA – Argentina Comeback, ya mimpi Inggris untuk kembali tampil di final Piala Dunia setelah 60 tahun sirna dengan cara yang paling menyakitkan. Sempat unggul lebih dulu, The Three Lions justru runtuh pada menit-menit akhir sebelum akhirnya menyerah 1-2 dari Argentina dalam semifinal Piala Dunia 2026 yang berlangsung dramatis di Atlanta.
Anthony Gordon sempat membuat publik Inggris percaya sejarah akan berubah ketika mencetak gol pembuka pada menit ke-55. Namun, seperti berkali-kali terjadi dalam sejarah duel klasik kedua negara, Argentina kembali menunjukkan mental juara.
Gol Enzo Fernández pada menit ke-86 menghidupkan harapan Albiceleste. Ketika pertandingan tampak akan berlanjut ke babak tambahan, Lionel Messi memperlihatkan magisnya. Kapten Argentina itu melewati kawalan lawan sebelum mengirim umpan silang matang yang disambut sundulan Lautaro Martínez untuk memastikan kemenangan 2-1 sekaligus tiket ke final.
Statistik Bicara: Argentina Menang Bukan karena Beruntung
Kebangkitan Argentina ternyata sudah tercermin dari statistik pertandingan.
Sepanjang laga, tim asuhan Lionel Scaloni tampil dominan dengan 64 persen penguasaan bola, jauh di atas Inggris yang hanya mencatat 36 persen. Dominasi tersebut membuat Albiceleste leluasa mengontrol tempo pertandingan dan terus menekan pertahanan lawan.
Argentina juga membukukan 578 operan dengan akurasi luar biasa mencapai 93 persen, sementara Inggris hanya menghasilkan 331 operan dengan akurasi 84 persen. Angka ini menunjukkan betapa rapinya sirkulasi bola Argentina dibandingkan permainan Inggris yang lebih banyak bertahan setelah unggul.
Dalam urusan menyerang, Albiceleste juga tampil lebih agresif. Mereka melepaskan 14 tembakan, enam di antaranya mengarah tepat ke gawang Jordan Pickford. Inggris hanya mampu menciptakan enam percobaan dengan tiga tembakan tepat sasaran.
Dominasi juga terlihat dari situasi bola mati. Argentina memperoleh enam tendangan sudut, sedangkan Inggris hanya satu. Tekanan tanpa henti itu akhirnya memaksa lini belakang Inggris melakukan berbagai penyelamatan hingga akhirnya runtuh di menit-menit akhir.
Tuchel Bermain Aman, Argentina Menghukum
Setelah Anthony Gordon membawa Inggris unggul, Thomas Tuchel memilih memperkuat pertahanan dengan memasukkan Ezri Konsa dan mengubah formasi menjadi lima bek.
Keputusan itu justru menjadi titik balik pertandingan.
Alih-alih meredam serangan Argentina, perubahan tersebut membuat Albiceleste semakin leluasa menguasai bola. Inggris nyaris tak mampu keluar dari tekanan dan hanya menunggu serangan demi serangan datang ke wilayah pertahanannya.
Messi menjadi pusat permainan. Setiap sentuhan sang kapten membuka ruang bagi rekan-rekannya, sementara Alexis Mac Allister, Enzo Fernández, dan Julián Álvarez terus menggempur pertahanan Inggris.
Messi Kembali Jadi Pembeda
Meski tak mencetak gol, Lionel Messi sekali lagi menunjukkan mengapa dirinya masih menjadi pemain paling menentukan di turnamen ini.
Umpan pendeknya dari situasi sepak pojok melahirkan gol penyama kedudukan Enzo Fernández. Tak lama berselang, aksi individu Messi di sisi kanan diakhiri umpan silang akurat yang disundul Lautaro Martínez menjadi gol kemenangan.
Kontribusi itu membuat Messi kembali menjadi aktor utama di balik keberhasilan Argentina melangkah ke final.
Inggris Kembali Hidup dalam Luka Lama
Bagi Inggris, kekalahan ini terasa begitu menyakitkan. Mereka sudah berada di ambang final pertama sejak 1966, tetapi kembali gagal mempertahankan keunggulan.
Statistik memperlihatkan bahwa The Three Lions terlalu pasif setelah memimpin. Minimnya penguasaan bola, hanya 36 persen, serta sedikitnya peluang yang diciptakan membuat mereka kesulitan keluar dari tekanan Argentina.
Sementara itu, Albiceleste membuktikan bahwa penguasaan permainan, efektivitas operan, dan ketenangan di bawah tekanan menjadi modal utama menuju partai puncak.
Kini Argentina bersiap menghadapi Spanyol di final Piala Dunia 2026. Sementara Inggris kembali pulang dengan satu cerita yang terus berulang: harapan besar yang kembali kandas tepat di depan pintu sejarah.
Kemenangan ini juga memperpanjang dominasi Argentina atas Inggris di panggung Piala Dunia sekaligus memperlihatkan mental juara Albiceleste. Saat tertinggal, mereka tetap sabar menguasai permainan dan terus mencari celah hingga akhirnya membalikkan keadaan. Sebaliknya, Inggris kembali harus menerima kenyataan pahit setelah gagal mempertahankan keunggulan dan kembali tersingkir di fase krusial turnamen besar yang membuat ribuan suporter larut dalam euforia..

Tinggalkan Balasan