Tuchel: Kami Pernah Redam Haaland, Kini Giliran Messi
DIKSIMERDEKA.COM ATLANTA – Pelatih Inggris Thomas Tuchel sama sekali tidak gentar menghadapi tantangan terbesar Inggris di Piala Dunia 2026. Menjelang duel semifinal melawan juara bertahan Argentina, pelatih asal Jerman itu justru menaruh kepercayaan penuh kepada skuadnya. Menurutnya, The Three Lions memiliki karakter spesial yang mampu mengatasi tekanan, bahkan saat harus berhadapan dengan Lionel Messi.
Tuchel menyebut para pemain Inggris sebagai sosok dengan mentalitas langka, tipe pemain yang mampu tampil maksimal di panggung terbesar sepak bola dunia.
“Anda harus menjadi manusia dengan karakter yang sangat istimewa untuk bisa bermain di pertandingan seperti ini,” kata Tuchel seprti yang dilansir BBC..
Tuchel Balas Sindiran Bellingham dengan Candaan
Menjelang laga semifinal, Tuchel sempat mengangkat kembali polemik kecil yang muncul setelah Inggris mengalahkan Norwegia 2-1 di perempat final.
Saat itu Jude Bellingham kurang senang karena Tuchel mengkritik kualitas permainan timnya, meski Inggris berhasil menang.
Bellingham bahkan sempat menyindir sang pelatih.
“Mungkin dia tidak tahu bagaimana rasanya bermain dalam cuaca seperti itu menghadapi Erling Haaland, Martin Odegaard, Antonio Nusa, dan Alexander Sorloth.”
Alih-alih memperpanjang perdebatan, Tuchel memilih menjawab dengan humor.
“Saya punya kutipan lucu untuk kalian. Anda tidak harus menjadi seekor kuda untuk menjadi joki yang hebat.”
Ucapan itu merupakan kutipan legendaris Arrigo Sacchi ketika ditunjuk melatih AC Milan pada 1987, meski tak pernah memiliki karier besar sebagai pemain.
Tuchel merasa kisah hidupnya juga tidak jauh berbeda.
Karier Sebagai Pemain Biasa Saja
Pelatih berusia 52 tahun itu mengakui dirinya bukan pesepak bola hebat.
Cedera lutut memaksanya pensiun pada usia 24 tahun.
Sepanjang kariernya, Tuchel hanya sempat bermain di kasta kedua Jerman bersama Stuttgart Kickers dan klub semi-profesional SSV Ulm.
“Karier saya sebagai pemain biasa-biasa saja,” ujarnya sambil tersenyum.
Namun menurut Tuchel, pengalaman tersebut justru membuatnya semakin menghargai para pemain yang mampu tampil di level tertinggi.
“Saya Bersyukur Tidak Harus Bermain”
Tuchel mengaku sering merasakan kagum setiap kali berdiri di pinggir lapangan sebelum pertandingan besar dimulai.
Ia mengenang final Piala FA bersama Chelsea ketika berdiri bersama pemain saat lagu kebangsaan dikumandangkan.
Momen itu membuatnya sadar betapa berat tekanan yang harus ditanggung para pemain.
“Saya berpikir, luar biasa. Saya sangat dekat dengan mereka, tetapi ternyata rasanya benar-benar berbeda ketika berada di posisi mereka.”
Ia juga mengalami hal serupa saat menjalani laga kandang pertamanya sebagai pelatih Borussia Dortmund.
Bahkan dua menit sebelum pertandingan dimulai, Tuchel justru bersyukur dirinya tidak lagi menjadi pemain.
“Saya sangat senang tidak harus bermain karena saya yakin kaki saya tidak akan sanggup.”
Tuchel: Pemain Inggris Punya Mental yang Tidak Dimiliki Semua Orang
Menurut Tuchel, tidak semua pesepak bola mampu tampil dalam pertandingan sebesar semifinal Piala Dunia.
Karena itulah ia sangat menghormati anak asuhnya.
“Anda harus menjadi pribadi yang berbeda jika ingin memainkan pertandingan seperti ini.”
“Saya tidak akan pernah berhenti memuji pemain-pemain yang berani bertarung, mengerahkan seluruh tenaga, dan tampil tanpa rasa takut.”
Kalimat tersebut menjadi suntikan motivasi bagi Harry Kane, Jude Bellingham, Bukayo Saka, hingga Declan Rice menjelang duel hidup-mati melawan Argentina.
Semifinal yang Bisa Mengubah Sejarah Inggris
Pertandingan melawan Argentina bukan sekadar laga semifinal biasa.
Inggris baru tiga kali mencapai semifinal Piala Dunia.
Mereka menjadi juara setelah mengalahkan Portugal pada 1966, tetapi kemudian gagal melawan Jerman Barat melalui adu penalti pada 1990 serta tumbang dari Kroasia pada edisi 2018.
Tuchel memahami betapa besar arti pertandingan ini bagi publik Inggris.
Namun ia meminta pemainnya tidak memikirkan sejarah terlebih dahulu.
“Fokus kami bukan menjadi legenda. Fokus kami adalah melakukan apa yang dibutuhkan agar bisa memenangkan pertandingan.”
Messi Dianggap Salah Satu yang Terbaik Sepanjang Masa
Tuchel juga menolak memberikan perhatian berlebihan kepada Lionel Messi.
Ketika ditanya apakah kapten Argentina itu merupakan pemain terbaik sepanjang masa, jawabannya cukup singkat.
“Salah satu yang terbaik.”
Menurutnya, sepak bola memiliki banyak posisi dan banyak pemain hebat dari berbagai era.
Namun Messi jelas berada di jajaran paling elite.
Inggris Yakin Bisa Menemukan Cara Menghentikan Messi
Meski mengakui kualitas Messi, Tuchel tetap optimistis.
Ia mencontohkan keberhasilan Inggris meredam Erling Haaland ketika menghadapi Norwegia di perempat final.
“Kami berhasil menemukan cara menghentikan Haaland. Sekarang kami akan menemukan cara menghadapi Messi.”
Pernyataan itu menunjukkan kepercayaan diri tinggi dari kubu Inggris menjelang laga terbesar mereka dalam beberapa dekade terakhir.
Argentina Masih Punya Celah
Tuchel dan staf pelatih Inggris melihat Argentina bukan tanpa kelemahan.
La Albiceleste memang terus menang sepanjang turnamen, tetapi permainan mereka belum sepenuhnya dominan.
Beberapa kali Argentina bahkan nyaris tersingkir saat menghadapi lawan yang secara peringkat berada di bawah mereka.
Lini pertahanan juga kerap memberikan ruang.
Namun satu hal yang membuat Argentina tetap berbahaya adalah kemampuan mereka bertahan hingga detik terakhir.
Ketika situasi sulit datang, Messi hampir selalu muncul sebagai pembeda.
Inggris Datang dengan Optimisme Tinggi
Meski performa Inggris sepanjang turnamen belum sepenuhnya meyakinkan, Tuchel percaya timnya masih memiliki potensi yang belum keluar sepenuhnya.
The Three Lions terus menciptakan banyak peluang di setiap pertandingan.
Bahkan ketika tertinggal, mereka selalu mampu bangkit.
Selain itu, Tuchel juga dikenal berani melakukan pergantian pemain yang cepat dan berisiko, sesuatu yang beberapa kali mengubah jalannya pertandingan.
Tuchel Menikmati Tekanan
Menjelang duel melawan Argentina, Tuchel mengaku justru menikmati atmosfer pertandingan besar.
Baginya, beberapa menit sebelum laga dimulai merupakan momen paling hidup dalam kariernya.
“Saat lagu kebangsaan berkumandang sebelum pertandingan, saya merasa benar-benar hidup.”
“Tidak ada tempat lain di dunia yang ingin saya datangi selain berada di stadion untuk pertandingan seperti ini.”
Kini, seluruh fokus Tuchel tertuju pada satu misi: membawa Inggris melewati hadangan Lionel Messi dan Argentina demi mengakhiri penantian panjang menuju final Piala Dunia.

Tinggalkan Balasan