Korban Gempa Venezuela Tembus 4.118 Jiwa, Kerusakan Diperkirakan Capai Rp667 Triliun
DIKSIMERDEKA.COM CARACAS – Gempa Venezuela terus menyisakan luka mendalam. Hampir dua pekan setelah dua gempa besar mengguncang negara Amerika Selatan itu, jumlah korban tewas terus bertambah hingga menembus 4.118 jiwa. Ribuan keluarga masih bertahan di sekitar puing-puing bangunan, berharap dapat menemukan kerabat mereka yang hingga kini masih dinyatakan hilang.
Pemerintah Venezuela pada Jumat (11/7) mengonfirmasi sedikitnya 16.740 orang mengalami luka-luka, sementara ribuan lainnya belum diketahui keberadaannya. Meski operasi penyelamatan resmi telah dihentikan, warga tetap melakukan pencarian secara mandiri agar anggota keluarga mereka dapat dimakamkan secara layak.
Dua Gempa Besar Meluluhlantakkan La Guaira
Bencana bermula pada 24 Juni ketika dua gempa besar mengguncang Venezuela hanya dalam selang 39 detik.
Gempa pertama berkekuatan Magnitudo 7,2, kemudian disusul gempa yang lebih kuat berkekuatan Magnitudo 7,5, tercatat sebagai gempa terbesar yang melanda Venezuela dalam lebih dari satu abad.
Guncangan dahsyat itu merobohkan apartemen bertingkat, menghancurkan permukiman, dan meluluhlantakkan sebagian besar wilayah pesisir La Guaira, daerah yang mengalami kerusakan paling parah.
Warga Masih Mencari Anggota Keluarga
Meski harapan menemukan korban selamat semakin tipis, banyak keluarga belum menyerah.
Setiap hari mereka kembali ke lokasi bangunan yang runtuh, menggali puing menggunakan alat seadanya untuk mencari orang-orang yang mereka cintai.
Suasana duka kembali terasa ketika gempa susulan berkekuatan Magnitudo 3,0 mengguncang Caracas pada Jumat. Meski tidak menimbulkan kerusakan berarti, getaran tersebut sempat memicu kepanikan dan memaksa sejumlah gedung dievakuasi.
PBB Minta Bantuan Darurat
Besarnya kerusakan membuat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meluncurkan permohonan bantuan internasional.
PBB meminta dana hampir US$300 juta, setara sekitar Rp5,41 triliun (kurs US$1 = Rp18.045,30), untuk membantu sekitar 1,3 juta warga yang membutuhkan bantuan darurat.
Dana tersebut akan digunakan untuk menyediakan makanan, layanan kesehatan, rumah sakit lapangan, dapur umum, hingga tempat penampungan sementara bagi para penyintas.
Di La Guaira, berbagai fasilitas darurat mulai bermunculan di ruang-ruang publik untuk melayani ribuan korban.
Kerugian Diperkirakan Rp667 Triliun
Kantor PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana memperkirakan kerusakan fisik akibat gempa mencapai US$37 miliar atau sekitar Rp667,68 triliun.
Kerusakan tersebut meliputi rumah tinggal, gedung bertingkat, jalan, jembatan, fasilitas kesehatan, hingga infrastruktur publik lainnya.
Angka itu diperkirakan masih dapat bertambah seiring proses pendataan yang terus berlangsung.
Pemerintah Minta Aset yang Dibekukan Dicairkan
Presiden sementara Venezuela Delcy Rodríguez mengakui negaranya menghadapi tantangan besar dalam proses pemulihan.
Karena itu, ia meminta aset Venezuela yang dibekukan di luar negeri dapat digunakan untuk membiayai rekonstruksi.
Salah satu permintaan tersebut disampaikan kepada Raja Charles III agar sekitar 30 ton emas Venezuela yang dibekukan di Inggris akibat sanksi internasional dapat dilepaskan.
Menurut Rodríguez, dana dari aset tersebut sangat dibutuhkan untuk mempercepat pembangunan kembali wilayah yang hancur.
Respons Pemerintah Dikritik
Di tengah upaya pemulihan, pemerintah juga menghadapi kritik dari masyarakat.
Sejumlah warga menilai respons pemerintah berjalan lambat, terutama pada hari-hari pertama setelah gempa terjadi sebelum bantuan internasional mulai berdatangan.
Rodríguez membantah anggapan tersebut. Ia menegaskan pemerintah telah bekerja maksimal dan memastikan Venezuela tidak akan terjerumus ke dalam kekacauan sosial akibat bencana itu.
Meski demikian, tantangan besar masih membayangi. Ribuan korban belum memiliki tempat tinggal, sementara proses pembangunan kembali diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Tinggalkan Balasan