PTS di Bali Hadapi Penyusutan Mahasiswa
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Bali tengah menghadapi ujian. Dalam beberapa tahun terakhir, tren penerimaan mahasiswa baru menunjukkan grafik yang tidak menggembirakan. Meski tidak semua PTS mengalami penurunan, sebagian besar merasakan semakin ketatnya persaingan dalam merekrut mahasiswa.
Jika tidak diantisipasi, kondisi ini bukan hanya mengancam keberlangsungan PTS, tetapi juga berpotensi mengurangi akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi yang selama ini turut ditopang oleh lembaga swadaya masyarakat tersebut.
Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Provinsi Bali Prof I Made Suarta mengungkapkan penyebab menyusutnya penerimaan mahasiswa di PTS. Menurutnya, kuota rekrutmen yang besar di Perguruan Tinggi Negeri (PTN), khususnya di PTN dengan status badan hukum atau PTNBH, menyebabkan banyak mahasiswa terserap ke kampus negeri.
“Dengan otonomi yang dimiliki, PTNBH dapat menerima mahasiswa dalam jumlah yang sangat besar. Akibatnya, pasar mahasiswa yang sebelumnya menjadi potensi bagi PTS semakin berkurang,” ungkapnya saat ditemui di Universitas PGRI Mahadewa, Senin (01/06/2026).
Di samping besarnya kuota penerimaan di PTN, kehadiran Universitas Terbuka (UT) yang menawarkan skema daring juga turut menjadi faktor yang membuat seretnya penerimaan mahasiswa di PTS.
Menurut Suarta yang juga Rektor Universitas PGRI Mahadewa itu, fleksibilitas yang ditawarkan UT melalui pembelajaran jarak jauh menjadi daya tarik tersendiri bagi calon mahasiswa, terutama mereka yang ingin bekerja sambil kuliah atau memiliki keterbatasan waktu dan biaya.
“Sementara perguruan tinggi lainya, berdasarkan izinya hanya bisa 40-60 persen melakukan pembelajaran daring dan luring,” terangnya.
Lebih jauh, dia menjelaskan Bali memiliki karakteristik tersendiri yang turut memengaruhi minat masyarakat untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
Banyak lulusan SMA/SMK memilih langsung bekerja, terutama di sektor pariwisata dan industri kapal pesiar yang menawarkan peluang penghasilan dalam waktu relatif cepat.
Kondisi tersebut membuat pendidikan vokasi masih memiliki daya tarik karena dinilai lebih dekat dengan kebutuhan dunia kerja. “Perguruan tinggi yang memiliki jurusan vokasi akan banyak dia mendapatkan mahasiswa,” terangnya.
Meski demikian, secara umum sebagian besar perguruan tinggi swasta di Bali tetap mengalami penurunan jumlah mahasiswa baru dalam beberapa tahun terakhir.
Sebagai gambaran, Universitas PGRI Mahadewa yang dipimpinnya, sejak pandemi Covid-19, mengalami penurunan jumlah mahasiswa 60-70 persen.
“Sekarang kami sudah mulai mengalami kenaikan. Salah satunya disumbang dari program mahasiswa PPG yang cukup rumayan sehingga kami bisa stabil,” terangnya.
Suarta mengatakan kondisi PTS di Bali itu, sebetulnya telah disampaikan saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) APTISI Pusat di Bandung pada 2025. Ia berharap ada sentuhan pemerintah untuk mengatur keseimbangan antara PTN dan PTS.
Sampai saat ini, katanya, perhatian pemerintah terhadap PTS belum setara dengan PTN. Misalnya dalam bantuan penelitian dan program pengembangan lainnya.
Ia berharap pemerintah dapat meningkatkan proporsi bantuan bagi PTS, baik dalam bentuk hibah penelitian maupun program pengabdian kepada masyarakat.
Dia memahami bahwa semua perguruan tinggi memiliki peluang yang sama untuk berkembang. Namun dukungan pemerintah yang lebih proporsional akan membantu PTS meningkatkan kualitas dan daya saingnya.
“Harapan kami, proposal penelitian dari PTS tidak lebih banyak ditolak dibanding diterima. Dengan semakin banyak dosen yang mendapatkan hibah penelitian, maka kualitas tridarma perguruan tinggi juga akan meningkat,” terangnya.
Reporter: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan