DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Ny. Putri Suastini Koster, mendorong generasi muda Bali untuk mulai menekuni keterampilan menenun guna menjaga keberlangsungan kain tenun endek sebagai warisan budaya Pulau Dewata. Menurutnya, regenerasi penenun menjadi tantangan terbesar yang dihadapi industri tenun tradisional Bali saat ini.

Ajakan tersebut disampaikan saat membuka Dekranasda Bali Fashion Day di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, Jumat (29/5/2026). Dalam kesempatan itu, Putri Koster mengingatkan bahwa meningkatnya penggunaan kain endek belum diimbangi dengan tumbuhnya jumlah penenun muda.

“Semakin banyak masyarakat memakai kain endek Bali, tetapi minat anak-anak muda untuk menjadi penenun justru sangat rendah. Ini kondisi yang harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya.

Menurut Putri Koster, banyak penenun yang selama ini menjadi tulang punggung industri endek mulai meninggalkan profesinya. Jika kondisi tersebut terus berlangsung tanpa regenerasi, Bali berpotensi kehilangan sumber daya manusia yang mampu memproduksi kain endek secara tradisional.

Baca juga :  TP PKK Bali Perkuat Peran Perempuan Lewat Kreativitas dan Kemandirian Ekonomi

Ia menegaskan, ancaman terbesar bagi endek Bali bukan pada rendahnya permintaan pasar, melainkan berkurangnya jumlah penenun yang mampu meneruskan keterampilan tersebut kepada generasi berikutnya.

“Tenun endek Bali saat ini sedang menghadapi tantangan serius. Kalau anak-anak muda tidak tertarik belajar menenun, suatu saat kita hanya menjadi pengguna tanpa lagi memiliki kemampuan untuk memproduksinya,” katanya.

Putri Koster juga mengungkap hasil survei yang dilakukan bersama Universitas Hindu Indonesia (UNHI). Dari hasil penelitian tersebut diketahui sekitar 83 persen kain bermotif endek yang beredar di pasaran berasal dari luar Bali, sementara produksi asli Bali hanya sekitar 17 persen.

Baca juga :  Putri Koster Angkat Seni Tradisi di Harsiarnas ke-93 KPID Bali

Data tersebut menunjukkan bahwa pasar endek Bali saat ini semakin dipenuhi produk dari luar daerah. Kondisi itu dinilai dapat mempercepat menurunnya aktivitas produksi tenun lokal apabila tidak segera diantisipasi melalui upaya regenerasi penenun dan penguatan industri tenun tradisional.

Karena itu, ia mengajak seluruh pihak, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, lembaga pendidikan, hingga masyarakat, untuk bersama-sama menciptakan ruang pembelajaran dan pemberdayaan bagi generasi muda agar tertarik menekuni profesi penenun.

“Kalau generasi muda Bali tidak lagi bisa menenun, maka suatu saat endek akan diproduksi oleh daerah lain. Orang Bali hanya akan menjadi pemakai, sementara keterampilan menenunnya hilang,” tegasnya.

Selain mendorong lahirnya penenun muda, Putri Koster juga mengajak masyarakat menjadi konsumen yang bijak dengan memilih produk tenun yang benar-benar dibuat oleh perajin Bali. Dukungan terhadap produk lokal dinilai menjadi salah satu cara efektif menjaga keberlangsungan industri tenun tradisional.

Baca juga :  21 Siswa SMPN 1 Denpasar Tembus Olimpiade Internasional di Thailand

Ia juga menegaskan bahwa motif endek Bali telah memperoleh perlindungan hukum melalui hak kekayaan intelektual. Karena itu, pihaknya akan terus mendorong penegakan aturan terhadap pihak-pihak yang menggunakan motif endek Bali tanpa memperhatikan ketentuan yang berlaku.

Dekranasda Bali Fashion Day tahun ini turut menampilkan peragawan dan peragawati dari sejumlah perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas promosi wastra Bali sekaligus menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap kain tenun endek sebagai identitas budaya Bali yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.