Israel Gempur Lebanon Tanpa Ampun, 6 Paramedis dan Anak Kecil Tewas dalam 24 Jam
DIKSIMERDEKA.COM BEIRUT— Serangan udara Israel di wilayah Lebanon selatan menewaskan sedikitnya 10 orang dalam kurun 24 jam, termasuk enam paramedis dan seorang anak-anak. Kementerian Kesehatan Lebanon pada Jumat, 23 Mei 2026, mengecam serangan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional dan menilai gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat semakin rapuh.
Serangan terbaru kembali terjadi pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari. Wartawan AFP di Kota Tyre, Lebanon selatan, melaporkan mendengar dua ledakan besar. Satu bangunan di pinggiran kota dihantam rudal, disusul serangan lain di dalam kota yang memunculkan kepulan asap tebal ke udara. Sebelum serangan terjadi, aparat setempat mengevakuasi warga menggunakan pengeras suara dan meminta penduduk meninggalkan kawasan tersebut.
Militer Israel sebelumnya mengeluarkan peringatan evakuasi untuk dua wilayah di Tyre dan Desa Burj Rahal di timur laut kota itu. Tentara Israel menyatakan operasi dilakukan untuk menyerang posisi kelompok Hizbullah.
Kantor berita resmi Lebanon, National News Agency, melaporkan sedikitnya lima serangan udara Israel menghantam kawasan pegunungan Nabi Sreij di pinggiran Brital menjelang tengah malam. Wilayah itu sebelumnya relatif tidak tersentuh sejak gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah diberlakukan.
Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, empat paramedis dari Islamic Health Association tewas akibat serangan Israel di Kota Hanaway pada Kamis malam hingga Jumat dini hari. Sementara itu, serangan lain di Deir Qanoun En-Nahr, Provinsi Tyre, menewaskan enam orang, termasuk dua tenaga medis dan seorang anak asal Suriah.
Militer Israel mengakui melakukan serangan di Hanaway dan menyebut sasaran mereka adalah infrastruktur Hizbullah yang disebut menjadi lokasi aktivitas militan. Di Deir Qanoun En-Nahr, Israel mengklaim tentaranya menyerang dua anggota Hizbullah yang sedang mengendarai sepeda motor di kawasan tersebut. Adapun Al-Rissala Scouts Association disebut berafiliasi dengan gerakan Amal, sekutu Hizbullah.
Meski demikian, militer Israel menyatakan masih memeriksa laporan bahwa “sejumlah warga yang tidak terlibat” ikut menjadi korban dalam serangan itu. Israel mengklaim telah mengambil langkah untuk meminimalkan korban sipil, termasuk mengeluarkan perintah evakuasi sebelum operasi dimulai.
Kementerian Kesehatan Lebanon juga merilis video yang diklaim direkam di Deir Qanoun En-Nahr. Rekaman itu memperlihatkan dua pria berjaket kuning sedang menolong seseorang di pinggir jalan. Saat ambulans mendekati lokasi, terlihat kilatan cahaya diikuti ledakan keras. Beberapa detik kemudian, kedua pria itu tampak tergeletak di tanah.
Kantor berita Reuters menyatakan telah memverifikasi lokasi video tersebut di bagian barat Deir Qanoun En-Nahr melalui kecocokan bangunan, pepohonan, dan tata letak jalan dengan citra arsip kawasan itu. Kota tersebut sebelumnya juga dihantam serangan udara awal pekan ini yang menewaskan 14 orang, menjadi serangan paling mematikan sejak gencatan senjata diumumkan bulan lalu.
Sejak konflik baru pecah pada 2 Maret lalu, lebih dari 3.100 orang dilaporkan tewas di Lebanon setelah Hizbullah meluncurkan serangan awal ke wilayah Israel. Data Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut korban tewas mencakup 123 tenaga medis, 210 anak-anak, dan hampir 300 perempuan.
“Hukum humaniter internasional memberikan perlindungan kepada petugas garis depan, tenaga kesehatan, dan infrastruktur sipil, termasuk pusat layanan kesehatan,” demikian pernyataan yang disampaikan otoritas kesehatan Lebanon.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO juga melaporkan sejumlah rumah sakit di Lebanon selatan mengalami kerusakan parah, bahkan sebagian tidak lagi beroperasi akibat rentetan serangan Israel.

Tinggalkan Balasan