WHO Warning! Kasus Hantavirus dari MV Hondius Diprediksi Bertambah
WHO Minta Negara-Negara Bersiap
DIKSIMERDEKA.COM NEW YORK-Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus meminta negara-negara di dunia bersiap menghadapi kemungkinan munculnya lebih banyak kasus hantavirus setelah wabah di kapal pesiar MV Hondius.
Tedros mengatakan masa inkubasi virus yang panjang membuat potensi kemunculan kasus baru masih sangat mungkin terjadi dalam beberapa pekan ke depan.
“Saat ini belum ada tanda wabah besar, tetapi situasi bisa berubah dan mungkin akan muncul lebih banyak kasus,” kata Tedros dalam konferensi pers di Madrid.
Penumpang Prancis Kini Dirawat Intensif
Otoritas kesehatan Prancis mengungkap seorang perempuan Prancis berusia 65 tahun yang terinfeksi hantavirus dari MV Hondius kini berada dalam kondisi kritis dan dirawat di ICU menggunakan ventilator.
Dokter Xavier Lescure menyebut pasien mengalami bentuk paling parah dari gangguan kardiopulmoner akibat hantavirus.
“Ia menggunakan paru-paru buatan dan bypass darah agar bisa melewati fase ini,” ujarnya.
WHO Prediksi Kasus Akan Bertambah
WHO menyebut tingginya interaksi antarpenumpang di kapal sebelum alarm wabah diumumkan menjadi alasan utama kemungkinan bertambahnya kasus baru.
Kasus pertama di kapal diketahui muncul pada 6 April 2026, sementara langkah pencegahan baru dilakukan beberapa waktu kemudian.
Tedros mengatakan periode inkubasi hantavirus Andes bisa mencapai enam hingga delapan minggu sehingga pengawasan masih harus dilakukan secara ketat.
Spanyol dan Belanda Temukan Kasus Baru
Kementerian Kesehatan Spanyol mengonfirmasi satu dari 14 warga Spanyol yang dievakuasi dari MV Hondius positif hantavirus dan mengalami gejala ringan seperti demam serta gangguan pernapasan.
Sementara di Belanda, sebuah rumah sakit mengarantina 12 tenaga medis setelah darah dan urin pasien hantavirus ditangani tanpa prosedur keamanan yang sesuai.
Meski demikian, otoritas Belanda menyebut risiko penularan tetap rendah.
MV Hondius Kini Berlayar ke Rotterdam
MV Hondius kini sedang menuju Rotterdam, Belanda, setelah sebelumnya melakukan pengisian bahan bakar dan logistik di Tenerife, Spanyol.
Kapal tersebut masih membawa 25 kru serta tenaga medis selama perjalanan menuju pelabuhan akhir.
WHO juga memuji langkah pemerintah Spanyol yang menerima kapal tersebut ketika sejumlah wilayah lain menolak memberi izin sandar.
Tedros menyebut respons Spanyol menjadi contoh solidaritas internasional dalam menangani krisis kesehatan global.

Tinggalkan Balasan