Kemenkes Siaga setelah Ada Kontak Erat dari MV Hondius

DIKSIMERDEKA.COM JAKARTA-Kementerian Kesehatan RI meningkatkan kewaspadaan terhadap virus Hanta setelah muncul laporan kontak erat kasus hantavirus dari kapal pesiar MV Hondius yang sempat menjadi pusat wabah internasional.

Pelaksana tugas Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, mengatakan Indonesia menerima notifikasi resmi dari International Health Regulation National Focal Point (IHR NFP) Inggris terkait seorang warga negara asing yang tinggal di Jakarta dan memiliki kontak erat dengan pasien hantavirus di kapal tersebut.

“Pada 7 Mei 2026 pukul 21.55 WIB, IHR NFP Inggris menginformasikan adanya satu kontak erat yang berada di Indonesia,” kata Andi dalam konferensi pers virtual, Senin (11/5).

Tinggal Satu Hotel dengan Pasien Hantavirus

Pria berinisial KE berusia 60 tahun itu disebut sempat berada di kapal MV Hondius pada Maret hingga April 2026. Ia juga diketahui menginap di hotel yang sama dan berada dalam penerbangan yang sama dengan seorang perempuan 69 tahun yang kemudian meninggal akibat hantavirus.

Baca juga :  Besok, PeduliLindungi Resmi Berganti

Menurut Kemenkes, KE turun dari kapal di Saint Helena sebelum melanjutkan perjalanan ke Johannesburg, Zimbabwe, dan akhirnya kembali ke Indonesia.

Hasil PCR Negatif Hantavirus

Setelah menerima laporan tersebut, Kemenkes langsung melakukan penyelidikan epidemiologi. Pemeriksaan awal menunjukkan KE tidak memiliki gejala yang mengarah pada hantavirus.

Selain itu, hasil PCR dari lima spesimen berupa serum, urin, air liur, swab tenggorokan, dan sampel darah seluruhnya dinyatakan negatif hantavirus.

“Hasil PCR negatif. Yang bersangkutan tinggal sendiri, minim interaksi, dan memahami situasi dengan baik,” ujar Andi.

Meski demikian, KE masih menjalani pemantauan dan karantina di RSPI Sulianti Saroso.

Kemenkes Siapkan 21 Rumah Sakit Sentinel

Untuk memperkuat pengawasan, Kemenkes kini menyiapkan 21 rumah sakit sentinel di 20 provinsi guna mendeteksi potensi kasus HFRS-type hantavirus di Indonesia.

Baca juga :  Vaksinasi Booster Dimulai 12 Januari, Kemenkes: Cek Tiket Vaksinasi di PeduliLindungi

Selain itu, pemerintah juga menunjuk 198 rumah sakit rujukan penyakit infeksi emerging.

Andi mengatakan rumah sakit sentinel akan aktif melakukan pengawasan terhadap pasien dengan gejala mencurigakan seperti penyakit kuning atau jaundice.

“Kalau ada pasien dengan gejala kuning, jangan langsung dianggap penyakit liver atau leptospirosis,” katanya.

Rumah sakit sentinel sendiri merupakan rumah sakit yang ditunjuk pemerintah sebagai pusat pemantauan dan deteksi dini penyakit tertentu. Selain merawat pasien, rumah sakit ini bertugas mengumpulkan data kasus, melakukan pengawasan penyebaran penyakit, pemeriksaan laboratorium, hingga melaporkan temuan ke sistem surveilans nasional.

Dalam kasus hantavirus, rumah sakit sentinel akan menjadi “mata dan telinga” pemerintah untuk mendeteksi potensi wabah lebih cepat sebelum meluas ke masyarakat.

Indonesia dan MV Hondius Punya Strain Berbeda

Kemenkes menjelaskan virus hantavirus yang sebelumnya ditemukan di Indonesia berbeda dengan wabah di MV Hondius.

Baca juga :  Dokter Kira Cuma Anxiety, Wanita di Kapal Hantavirus Kini Kritis

Kasus di Indonesia merupakan tipe Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dengan strain Seoul Virus. Sedangkan wabah di MV Hondius terkait Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dengan strain Andes Virus yang dikenal lebih berbahaya.

Menurut Andi, pemeriksaan PCR menjadi sangat penting untuk membedakan jenis strain virus tersebut.

“Kalau hasil PCR positif, kita harus lanjut identifikasi strain apakah HFRS atau HPS,” ujarnya.

Masa Inkubasi Bisa Lebih dari Dua Pekan

Kemenkes menyebut kondisi KE akan terus dipantau setiap hari karena masa inkubasi hantavirus bisa berlangsung lebih dari dua minggu.

Pemerintah juga memperketat pengawasan di pintu masuk negara melalui thermal scanner, pengamatan visual, serta sistem surveilans pelaku perjalanan internasional.

Masyarakat diimbau tetap tenang namun waspada dengan menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak langsung dengan tikus atau kotorannya.