DIKSIMERDEKA.COM TEHERAN- Iran tutup Selat Hormuz lagi. Dunia langsung menahan napas. Jalur vital minyak dunia kembali tercekik, sementara ketegangan dengan Amerika Serikat justru makin memanas. Di tengah harapan damai, peluru justru kembali meluncur di laut yang mengalirkan seperlima kebutuhan minyak dunia itu. seperti dalam laporan Media Inggris The Guardian, Minggu (19/4/2026).

Keputusan Iran tutup Selat Hormuz bukan gertakan kosong. Teheran menegaskan jalur itu kini kembali berada di bawah “kendali ketat militer”.

Namun demikian, langkah ini diambil setelah Amerika Serikat menolak mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran. Akibatnya, situasi yang sempat mereda langsung berbalik tegang.

Lebih jauh lagi, Selat Hormuz bukan jalur biasa. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati titik sempit ini. Oleh karena itu, setiap gangguan langsung mengguncang harga energi global.

Ketegangan tidak berhenti di pernyataan. Kapal tanker dilaporkan ditembaki.

Badan maritim Inggris mengungkap, kapal yang melintas di dekat Oman didekati lalu diserang oleh kapal bersenjata IRGC. Bahkan, laporan lain menyebut kapal berbendera India juga ikut diserang.

Meski demikian, awak kapal dilaporkan selamat. Akan tetapi, insiden ini memperjelas bahwa konflik sudah menyentuh jalur perdagangan global.


Iran vs AS: Saling Tekan, Damai Masih Jauh

Iran bersikeras: pembatasan akan terus berlaku jika AS tidak menjamin kebebasan pelayaran.

“Kami telah membuat kemajuan, tapi jaraknya masih besar,” ujar negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf

Di sisi lain, Presiden Donald Trump menegaskan pembicaraan berjalan baik. Namun, ia juga memperingatkan Iran agar tidak melakukan agenda“pemerasan” melalui Selat Hormuz.

Karena itu, negosiasi terlihat berjalan—tetapi tidak benar-benar mendekatkan solusi.


Dampak Global: Harga Energi Terancam Meledak

Penutupan kembali jalur ini langsung berdampak luas. Harga minyak dunia melonjak. Pasar global menjadi gelisah.

Selain itu, perang yang sudah memasuki minggu kedelapan memperparah situasi. Ribuan korban jatuh, dan konflik meluas hingga Lebanon.

Dengan kata lain, ini bukan lagi konflik regional—melainkan krisis global.


Salah Langkah Berulang, Perdamaian Tertahan

Situasi ini menunjukkan pola yang sama: langkah maju di meja diplomasi, tetapi mundur di lapangan.

Iran membuka jalur lalu menutupnya kembali. AS berbicara damai namun mempertahankan tekanan.

Akibatnya, kepercayaan sulit terbentuk. Dan tanpa kepercayaan, perdamaian hanya menjadi wacana.


Apa Selanjutnya?

Pembicaraan lanjutan direncanakan. Namun jadwalnya belum pasti.

Meski demikian, harapan masih ada. Menteri luar negeri Mesir menyebut kesepakatan bisa tercapai dalam beberapa hari.

Tetapi, dengan kondisi saat ini, satu percikan kecil saja bisa memicu ledakan besar.