DIKSIMERDEKA.COM WASHINGTON DC Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman keras, bahkan dengan bahasa kasar, jika Iran tidak segera membuka kembali jalur pelayaran vital tersebut.

Lewat media sosialnya, Trump menegaskan bahwa ia siap menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan di Iran jika tenggat waktu yang ia tetapkan tidak dipenuhi.

Ia bahkan kembali mengulang ancaman sebelumnya. “Selasa akan menjadi hari pembangkit listrik dan hari jembatan di Iran, semuanya dalam satu waktu. Tidak akan ada yang seperti ini. Buka Selat itu sekarang juga, kalian gila, atau kalian akan hidup dalam neraka. Lihat saja!” tulis Trump DILANSIR DARI BBC.

Namun di balik ancaman tersebut, Trump mengaku masih melihat peluang damai. Ia mengatakan kepada media AS bahwa ada kemungkinan besar kesepakatan dengan Iran bisa tercapai.

Baca juga :  Tembakan Terdengar Dekat Gedung Putih, Secret Service Bergerak Cepat

Iran Balas Sindiran

Iran tidak tinggal diam. Pemerintah Teheran justru mengejek ultimatum tersebut.

Seorang jenderal militer Iran menyebut ancaman Trump sebagai tindakan yang “tidak berdaya, gugup, tidak seimbang, dan bodoh”.

Ia bahkan membalas dengan peringatan keras bahwa “gerbang neraka akan terbuka” bagi Amerika Serikat jika eskalasi terus berlanjut.


Selat Hormuz Jadi Kunci

Ketegangan ini berakar dari penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Jalur ini sangat vital karena sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia melewati kawasan tersebut.

Gangguan di selat ini langsung membuat harga minyak global melonjak dan memicu kekhawatiran inflasi di berbagai negara.

Trump pun sudah beberapa kali memberi tenggat kepada Iran untuk membuka jalur tersebut. Namun hingga kini, belum ada kepastian.

Baca juga :  Perang Timur Tengah Melebar! Milisi Houthi Turun Tangan, Dunia Terancam Krisis Energi

Ancaman Serius dari AS

Trump bahkan menyebut opsi ekstrem jika negosiasi gagal. Ia mempertimbangkan untuk menghancurkan seluruh infrastruktur penting Iran dan mengambil alih sumber minyaknya.

Meski demikian, tenggat waktu yang ia berikan terus berubah. Terbaru, ia memperpanjang batas waktu hingga Selasa malam waktu AS.


Situasi Perang Makin Memanas

Ketegangan ini terjadi di tengah konflik yang sudah berlangsung lebih dari sebulan. Iran terus membalas serangan udara AS dan Israel dengan menyerang negara-negara sekutu di Teluk.

Di sisi lain, Israel juga terus menggempur fasilitas energi dan infrastruktur Iran. Bahkan bandara internasional di Iran turut menjadi sasaran serangan.

Serangan balasan Iran juga tak kalah intens. Drone dan rudal terus diluncurkan ke wilayah Israel dan sekutu AS.

Baca juga :  Rodrigo Duterte Segera Diadili! ICC Tegaskan Ada Bukti Pembunuhan Massal

Di Haifa, sebuah bangunan permukiman bahkan terkena langsung rudal balistik. Empat orang dilaporkan terluka.


Situasi ini menunjukkan bahwa konflik sudah berada di titik berbahaya. Ancaman terbuka dari Trump bukan sekadar retorika, tetapi sinyal eskalasi yang bisa memicu perang lebih luas.

Di sisi lain, Iran juga tidak menunjukkan tanda mundur. Justru, mereka mulai memainkan kartu ekonomi dengan membatasi jalur energi global.

Jika Selat Hormuz terus terganggu, dampaknya tidak hanya regional, tetapi global. Harga energi, inflasi, hingga stabilitas ekonomi dunia bisa ikut terguncang.


Konflik Trump ancam Iran Selat Hormuz kini bukan sekadar perang kata-kata. Ini adalah pertarungan kepentingan besar antara kekuatan global.

Jika negosiasi gagal, dunia bisa menghadapi krisis energi dan konflik yang lebih luas.