DIKSIMERDEKA.COM LONDON Bisnis udang beku makin gurih. Nilainya diprediksi melesat tajam hingga menembus 39 miliar dolar AS atau sekitar Rp600 triliun pada 2030.

Berdasarkan The Business Research Company sebuah lembaga riset bisnis internasional di Inggris, angka itu memang masih kecil jika dibandingkan industri makanan dan minuman global yang diproyeksikan mencapai 9.315 miliar dolar AS. Namun, laju pertumbuhan udang beku tak bisa diremehkan.

Pertumbuhannya stabil. Bahkan cenderung agresif.

Laporan terbaru menyebut, pasar udang beku naik dari 10 miliar dolar AS pada 2025. Rata-rata pertumbuhan mencapai 11 persen per tahun.

Baca juga :  Menperin: SNI Diterima di Pasar Global, Tingkatkan Ekspor Produk Industri

Asia Jadi Raja, China Paling Jumbo

Asia-Pasifik dipastikan menjadi penguasa pasar. Nilainya diprediksi mencapai 16 miliar dolar AS pada 2030.

Negara-negara seperti India, Vietnam, Thailand, dan Indonesia menjadi motor utama. Produksi budidaya meningkat. Ekspor digenjot. Infrastruktur pengolahan juga makin canggih.

Sementara itu, China tampil sebagai pemain paling dominan di level negara.

Nilai pasarnya diprediksi mencapai 9 miliar dolar AS. Permintaan datang dari restoran hingga industri makanan siap saji yang terus tumbuh pesat.


Udang Vaname Jadi Primadona

Dari berbagai jenis, udang vaname (whiteleg shrimp) diprediksi menjadi penguasa pasar.

Baca juga :  Kemajuan Industri 4.0 Akan Dorong Indonesia Menuju Sepuluh Besar Kekuatan Ekonomi Global

Kontribusinya mencapai 45 persen atau sekitar 17 miliar dolar AS pada 2030.

Alasannya jelas. Produksi lebih cepat. Biaya lebih efisien. Pasokannya stabil.

Tak heran, industri global makin mengandalkan jenis ini untuk memenuhi permintaan pasar.


Gaya Hidup Serba Praktis Jadi Pemicu

Lonjakan pasar udang beku tak datang tiba-tiba. Ada perubahan gaya hidup di baliknya.

Masyarakat dunia kini mencari makanan praktis. Cepat saji. Tinggi protein.

Udang beku jadi jawaban.

Masa simpan panjang, mudah diolah, dan dianggap lebih sehat membuat permintaan terus naik.

Urbanisasi dan kesibukan masyarakat juga ikut mendorong tren ini.

Baca juga :  Covid-19 Gerus Ekonomi Global Hingga USD8,8 Triliun, Negara G-20 Pikirkan Solusi Pembiayaan

Industri Ritel dan Restoran Ikut Menggila

Pertumbuhan ritel modern dan restoran cepat saji ikut mempercepat laju pasar.

Supermarket, e-commerce, hingga jaringan restoran global memperluas distribusi udang beku.

Menu seafood makin populer. Dari Asia hingga Mediterania, semuanya ikut terdongkrak.


Indonesia Ikut Kecipratan Peluang

Bagi Indonesia, ini peluang besar.

Dengan kekuatan di sektor budidaya dan ekspor, Indonesia berpotensi memperkuat posisi di pasar global.

Apalagi, tren konsumsi seafood dunia belum menunjukkan tanda melambat.

Udang bukan lagi sekadar lauk.

Ia sudah naik kelas—jadi komoditas bisnis global bernilai ratusan triliun.