DIKSIMERDEKA.COM SYDNEY-Dunia mulai berubah. Australia, salah satu raksasa batu bara, mulai mengerem ekspansi tambang.Melalui siaran pers-nya Pemerintah Negara Bagian New South Wales (NSW) pada Senin 23 Maret 2026.

mengajukan kebijakan baru yang melarang pembangunan tambang batu bara baru di lahan greenfield. Kebijakan ini tertuang dalam rencana NSW Coal Industry 2026–2050.

“Langkah ini bukan berarti industri batu bara langsung berhenti. Pemerintah masih membuka peluang untuk perpanjangan tambang yang sudah ada, termasuk eksplorasi di area sekitar dan perpanjangan usia operasional,” tulis siaran pers tersebut

Di sisi lain, tekanan global makin kuat. Bahkan negara-negara Arab kini didorong untuk ikut meninggalkan investasi batu bara.

Pemerintah negara bagian New South Wales (NSW), Australia, mengusulkan larangan pembangunan tambang batu bara baru. Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi menekan emisi menuju target nol karbon 2050.

Baca juga :  Pakar Energi Sentil RI: Jangan Santai, Konflik Iran–Israel Bisa Ganggu BBM

Langkah ini cukup signifikan. NSW menyumbang sekitar 40 persen produksi batu bara hitam Australia yang menjadi negara yang selama ini dikenal sebagai eksportir batu bara terbesar kedua dunia setelah Indonesia.

Meski tidak langsung menutup tambang lama, arah kebijakan sudah jelas: ekspansi baru mulai dibatasi.

Keputusan ini sejalan dengan tekanan global yang semakin kuat terhadap industri batu bara. Tidak hanya dari sisi lingkungan, tetapi juga dari sektor keuangan.

Laporan terbaru dari Greenpeace Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) bersama Global Ethical Finance Initiative (GEFI) menyebut investasi batu bara kini makin sulit dibenarkan secara etis, bahkan dalam perspektif keuangan Islam.

Baca juga :  Jaga Kebutuhan Batu Bara Dalam Negeri, Menkeu Tetapkan PMK Denda dan Dana Kompensasi

Laporan tersebut menyoroti bahwa dampak polusi dari bahan bakar fosil, termasuk batu bara, menyebabkan sekitar 6,7 juta kematian dini setiap tahun. Angka ini menjadi alarm keras bagi dunia keuangan global.

Lebih jauh, laporan itu membandingkan batu bara dengan industri tembakau. Jika tembakau sudah dilarang dalam investasi karena dampak kesehatannya, maka batu bara dinilai berada di jalur yang sama.

Direktur Eksekutif Greenpeace MENA, Ghiwa Nakat, menyebut investasi batu bara bukan lagi sekadar risiko ekonomi, tetapi juga melanggar prinsip keberlanjutan dan etika.

Tekanan juga datang dari konsep maqāṣid al-sharīʿah, yang menekankan perlindungan kehidupan, lingkungan, dan kesejahteraan manusia. Dalam konteks ini, batu bara dinilai tidak lagi sejalan dengan prinsip tersebut.

Baca juga :  Hubungan dengan Australia Memburuk, China Keluarkan Peringatan Perdagangan

Bahkan, inisiatif global mulai mendorong pergeseran investasi. Salah satunya melalui program Tayyib Fellowship yang bertujuan mencetak generasi baru pelaku keuangan Islam yang fokus pada energi bersih dan solusi iklim.

Potensinya tidak kecil. Diperkirakan, jika hanya 5 persen aset keuangan Islam dialihkan ke sektor energi terbarukan, akan tercipta peluang pembiayaan hingga 400 miliar dolar AS.

Kondisi ini menandai perubahan besar. Dari Australia yang mulai membatasi tambang baru, hingga tekanan etis dari dunia keuangan global, batu bara kini semakin terdesak. Batu bara belum hilang. Tapi arah dunia sudah jelas: pelan-pelan ditinggalkan.