DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Pemerintah Provinsi Bali menjadikan penyebaran kegiatan pariwisata sebagai strategi utama untuk mendorong pemerataan ekonomi di seluruh wilayah. Melalui Calendar of Event (CoE) Bali 2026, sebanyak 56 agenda pariwisata dirancang tersebar sepanjang tahun dan merata di seluruh kabupaten/kota.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Wayan Sumarajaya, mengatakan kebijakan tersebut ditempuh untuk mengurangi ketimpangan ekonomi pariwisata yang selama ini cenderung terpusat di kawasan dan waktu tertentu. Dengan pola penyebaran event, manfaat ekonomi diharapkan menjangkau lebih banyak masyarakat.

“Kalender kegiatan ini kami susun agar kunjungan wisatawan tidak menumpuk di satu tempat atau satu musim saja. Tujuannya jelas, supaya perputaran ekonomi pariwisata bisa dirasakan lebih merata oleh masyarakat di seluruh Bali,” ujar Sumarajaya di Denpasar, Minggu (18/1/2026).

Baca juga :  BBTF ke-8, Cok Ace Paparkan Rencana Baru Kepariwisataan Bali

Ia menjelaskan, 56 kegiatan yang masuk dalam Bali CoE 2026 mencakup berbagai sektor, mulai dari budaya, olahraga, MICE, fesyen, musik hingga kuliner. Keragaman jenis kegiatan tersebut diyakini mampu menggerakkan berbagai lapisan pelaku ekonomi lokal.

“Event budaya menghidupkan seniman dan desa adat, festival kuliner menggerakkan UMKM, sementara kegiatan olahraga dan MICE membuka peluang bagi sektor akomodasi dan jasa. Inilah ekosistem ekonomi pariwisata yang ingin kita bangun,” jelasnya.

Baca juga :  Bertemu Presiden Jokowi, Gubernur Koster Bahas Pemulihan Pariwisata Bali

Sumarajaya menegaskan, pendekatan pariwisata Bali ke depan tidak lagi berorientasi pada jumlah kunjungan semata, melainkan pada kualitas dan dampak ekonomi yang berkelanjutan. Pemerataan event menjadi instrumen penting untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan daya dukung wilayah.

“Kami ingin ekonomi pariwisata tumbuh, tetapi tetap terkendali dan adil. Dengan event yang tersebar merata, tekanan terhadap destinasi tertentu bisa dikurangi, sementara daerah lain justru ikut berkembang,” katanya.

Baca juga :  Kemenparekraf Targetkan 1000 Pelaku Parekraf di Bali Sertifikasi CHSE Tahun Ini

Penyusunan Kalender Kegiatan Bali 2026 dilakukan secara kolaboratif bersama pemerintah kabupaten/kota, komunitas, pelaku industri, dan desa adat. Setiap daerah diberi ruang untuk menampilkan potensi dan kekhasan lokal sebagai daya tarik wisata.

Pemprov Bali juga menggandeng pelaku usaha, komunitas kreatif, akademisi, serta media untuk memperkuat promosi dan memastikan setiap kegiatan memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat. Dengan strategi ini, pariwisata Bali diharapkan tumbuh lebih inklusif dan berkelanjutan.