Oleh: Dewa Putu Adi Wibawa

Apa yang terjadi selama 24 jam lebih menyepi? Ini yang terjadi. Meskipun Sundarigama hanya menjelaskan keseluruhan tahapan yadnya hingga “….enjangnia Nyepi amati geni, tan wenang sajatma anyambut karya sakelwirnya ageni – geni saparanya tan wenang”, yakni mencakup pantangan menyalakan api dan larangan bekerja. Namun penulis memilih untuk sekalian tidak makan dan minum, tidak pula melakukan apa pun termasuk berbicara. Selain itu, seluruh bola lampu dalam ruang dimatikan ketika malam. Walau relung-relung ruang tetap dirembesi cahaya dari luar. Maklum, tak seperti Bali, pelaku brata penyepian di wilayah ini hanya penulis dan istri. Tantangan tersendiri, menyepi di tengah keriuhan perkotaan. Uniknya, situasi itu mendorong terciptanya kontras yg tebal, yaitu menyepi dalam ramai. Sepi di tengah-tengah keramaian adalah sepi yang kuat, sepi yg berakar dari tekad besar, sepi yg mendekati hakiki.

Laku brata dimulai pada pagi hari hingga pagi berikutnya, termasuk melepas perangkat komunikasi. Lagi-lagi tidak seperti di Bali yang terfasilitasi pemutusan koneksi layanan internet, wilayah ini tetap tersambung. Smartphone menyala nyalang menunggu diajak berselancar. Butuh tekad berlipat-lipat untuk lepas dari kenikmatan menggulir berderet tayangan audio visual yang biasa disajikan media sosial. Tantangan ini nyata, namun relatif mudah dilalui karena adanya alasan yang kuat. Tidak hanya untuk pemenuhan kebutuhan brata, namun juga upaya menghindari dampak buruk bagi kesehatan mental yang disebabkan kebiasaan menggulir tayangan-tayangan pendek media sosial. Para pakar kesehatan mental menyebut masalah itu sebagai doomscrolling syndrom. Kekhawatiran terjerat sindrom menjadialasan yang kuat untuk menganggap pengendalian diri dari dorongan menggulir media sosial adalah sesuatu yang bermanfaat.

Ada tekad yang bulat, mulai pagi ini hingga pagi esoknya, membebaskan tangan dan pikiran dari beban arus informasi. Bosan memang merayap, puncaknya tepat saat tengah hari. Bayangkan saja, 364 hari lebih melakukan beragam laku dengan jeda ketika tidur saja, itu pun sudah termasuk mimpi dan terkadang bangun memikirkan masalah-masalah yg telah lalu atau yg belum tentu terjadi di masa mendatang, lantas satu hari lebih ini diminta tak melakukan apapun, do nothing. Hanya melayang mengikuti aliran udara, mengambang di atas gelombang samudra. Tanpa upaya, tanpa cemas, tanpa harapan agar lebih ringan dan lega, begitu seharusnya. Bagaimana dg hajat tertentu, tak boleh kah ke toilet seperti gurauan teman-teman masa kecil dulu? Sesuatu yang alamiah tak perlu banyak berusaha bukan? Itu sesuatu yang tak perlu diusahakan. Cukup dengan melepas, selesai sudah.

Baca juga :  16 Besar Ogoh-ogoh Terpilih Denpasar Tampil di Kasangafest pada 6-8 Maret di Catur Muka

Hanya saja ini tentang 364 hari tanpa henti. Terbiasa bergerak dalam dikte irama budaya dan sistem dunia, lalu tiba-tiba diminta berhenti. Bosan dan canggung tentu saja. Suasana gerah musim penghujan memperparah keadaan. Timbul pula ketidaknyamanan psikis. Pikiran yang terbiasa meloncat dari satu dahan ke dahan pemikiran yang lain semakin mengganas, dan mulai hinggap pada ingatan-ingatan yang kurang menyenangkan. Salah satunya percakapan yang tak sengaja terdengar satu minggu sebelum pelaksanaan tawur agung di Prambanan. Penanya bukan penganut Hindu namun memiliki minat yang besar pada ritus dharmaic. Ia bertanya pada seseorang yang kebetulan berasal dari Bali (namun sepertinya telah nyaman dengan praktik kelompok yang menolak otoritas Weda), cara untuk turut serta dalam acara. Alih-alih menjawab, orang yang ditanya justru merespon dengan sikap yang mengesankan peremehan atas pertanyaan penanya: “Ngapain kesana, aku aja males, panas.” Rasa jengkel atas sikap itu merangsang timbulnya gejolak pikiran yang makin mengganas. Pengalaman turut melasti juga kembali muncul. Dalam perjalanan pulang dari lokasi pelaksaan melasti, penulis sempat berdialog dengan istri. “Kamu kepanasan tadi? Matahari terik sekali.” Jawabannya di luar dugaan: “Aku enggak pernah se-excited ini. Enggak ada rasa panas, justru ada perasaan tentram dalam batin, seperti manunggal dengan alam.” Esensi melasti sebagai perwujudan tekad menghilangkan laraning (derita) hidup sepertiya tergambar jelas dalam ketentraman batinnya. Jawaban itu membantah keluhan tentang gerah dan panasnya pelaksanaan yadnya di atas.

Kisah di atas adalah bukti bahwa sepi tanpa sesuatu yang dikerjakan memacu keriuhan berpikir dan emosi. Namun di tengah itu semua, keheningan mendalam tiba-tiba menyeruak, lalu satu pertanyaan mengikuti: “Mengapa harus mempersoalkan peremehan itu?” Meski sebenarnya ekspresi peremehan itu dapat dijawab dengan menjelaskan hakikat dari melasti dan tawur agung itu sendiri, yaitu penyelarasan diri pada makrokosmos, sehingga menganggap suasana lingkungan beryadnya sebagai “panas” dan tak nyaman sama saja meletakkan semesta dalam posisi konfrontatif dengan diri. Namun penulis tetap fokus pada pertanyaan di atas, dan ternyata keriuhan berpikir dalam sepi itu justru mengingatkan untuk amulat sarira, introspeksi diri ke arah dalam ketimbang mengeksplorasi kesalahan pihak lain.

Baca juga :  Tol Bali Mandara Tutup 32 Jam Saat Nyepi, Kendaraan Darurat Tetap Dilayani

Bagaimana pun, tetap saja rasa bosan menggurita. Dorongan untuk melakukan sesuatu begitu kuatnya. Meski demikian, berkat kombinasi sepi hakiki (sepi dalam ramai) dan tekad yang membulat dengan alasan yang kuat berdasarkan pertimbangan kemanfaatan, penulis tidak terdorong untuk melakukan pelanggaran yang buruk, seperti misalnya mengakses smartphone atau perangkat hiburan. Hanya buku yang bertutur tentang rimba “Filsafat India Kuno”, tempat lahirnya praktik tapa dan brata sistematis tertua di dunia, yang penulis ambil. Lupa pada peringatan bahwa: “tan wenang sajadma anyambut gawe”. Sedangkan membaca adalah variasi dari kerja. Sudah terlanjur. Terus membaca dalam sepi dengan tekad yang kuat serta gejolak gairah tak biasa. Konsentrasi begitu tajamnya. Sayangnya, pelanggaran tetap pelanggaran. Konsekuensi (phala) selalu mengikuti tindakan (karma). Penulis tertidur pulas selama 5 jam tanpa henti setelah mencapai ekstase berulangkali dari kegiatan membaca itu. Padahal jagra (kesadaran penuh) adalah elemen kunci dalam laku brata. Perasaan gagal muncul. Seharusnya mampu menghindarkan tubuh dan pikiran dari kenikmatan tidur.

Phala (buah) harus dipetik dan dirasakan. Begitulah hukumnya. Sebagian besar tidur itu berisi mimpi. Percakapan abstrak yang lebih asing dari dialog imajiner para matematikawan bersama persamaan-persamaan matematis,mengambil alih mimpi itu. Sulit digambarkan, sulit pula ditulis. Perlu lebih dari sekedar kolom ini untuk mengalihrupakannya dalam simbol-simbol konkrit. Namun, ada satu kata yg muncul dg jelas dalam riuh percakapan itu, yakni: “sunya”. Substansi dari pelajaran Nyanya Darsana mensimbolisasinya sebagai “angka nol”. Nol lebih dari sekedar kehampaan seperti yg diglorifikasi dalam heterodoksi Weda semacam Buddhisme. Nol adalah pralambang keseimbangan, titik tengah antara afirmasi (positif) dan negasi (negatif), dapat pula menjadi lambang dari “diam” atau “off” sebagai lawan dari “true” atau “on”. Bila dirangkum segala bentuk operasionalisasinya pada berbagai ranah, maka sunya dapat berarti “seimbang”, “false”, “off”, dan “diam”. Singkatnya keseimbangan dalam diam.

Buah pikir yg hadir sebagai phala (konsekuensi) dari pelanggaran brata penyepian tidak sepenuhnya buruk. Semesta kebenaran tidak selalu dua (baik atau buruk), bukan? Buah pikir itu justru menuntun pada pemahaman lebih baik terhadap kondisi sepi yg menantang ramai ini. Bahwa keseimbangan dapat ditempuh dengan diam, tak merespon apapun, tak berupaya. Hanya diam. Persis seperti formulasi dari Sundarigama berikut: “….enjangnia Nyepi amati geni, tan wenang sajatma anyambut karya sakelwirnya ageni – geni saparanya tan wenang, kalinggania wenang Sang wruh ring tattwa jnyana gelarakena semadi, tapa yoga ametitis kasuniatan.” Hakikat berlaku brata penyepian adalah mencapai sunya atau angka nol, yakni keseimbangan dalam diam.

Baca juga :  Siwaratri, Nyepi, dan Misterinya: Ketika Sastra dan Astronomi Bertemu

Pagi hari pada momen ngembak geni penulis masih merenungi bisikan dalam mimpi kemarin petang. Sunya alias nol atau keseimbangan dalam diam dapat dikerjakan dalam ruang-ruang pribadi. Lantas bagaimana jika kita membawanya pada ruang publik? Gejala-gejala kestidakeimbangan kosmik semakin jelas. Konflik manusia melawan tatanan ekologi yang menggejala dalam banjir dan longsor. Konflik manusia melawan manusia yang menggejala dalam keresahan masyarakat pada perilaku sesama manusia yang mengancam keamanan, tindak kriminalitas yang tinggi, dan konflik horizontal. Bagaimana membangun keseimbangan dalam ranah publik hanya dengan diam? Bagi penulis, kondisi diam atau pasif tidak sama dengan absen total dari gejala-gejala publik. Sama seperti ahimsa dari Mahatma Ghandi yang dipertanyakan rasionalitasnya dalam menghadapi penindasan kolonial. Orang-orang sulit untuk melepaskan kekerasan sebagai satu-satunya metode perlawanan. Namun, Ghandi beserta puluhan juta Rakyat India membuktikan cara itu efektif. Ahimsa tidak sama dengan absen dari perlawanan, justru ia menjadi bagian dari agenda perlawanan.

Sama halnya dengan formula “keseimbangan dalam diam (sunya)” yang diletakkan dalam agenda-agenda publik, sehingga ia dapat diartikan sebagai introspeksi diri sekaligus evaluasi menyeluruh arah politik pembangunan Bali dan Indonesia. Kebijakan pro investasi yang overliberal perlu ditinjau kembali kesesuaiannya dengan keseimbangan hidup manusia dengan alam dan manusia dengan manusia. Krisis sampah di Bali sendiri, misalnya, merupakan gambaran dari produksi sampah dalam volume besar. Hal itu dapat terjadi karena efek samping dari industrialisasi pariwisata. Jeda (diam) sesaat dibutuhkan untuk membuka ruang bagi proses evaluasi menyeluruh arah politik pembangunan, industri pariwisata, hingga tatanan sosial budaya yang mulai goyah akibat perubahan komposisi demografi kultural. Evaluasi tersebut tidak hanya bermakna struktural yang dilakukan sepihak oleh pemerintah, sebab kekuatan pemerintah terbatas, namun amulat sarira kolektif seluruh pihak sebagai dukungan sekaligus kontrol terhadap pemerintah. Karenanya, formula sunya dalam ranah publik dapat diimplementasikan ke dalam diam temporal melakukan amulat sarira kolektif untuk mengembalikan keseimbangan gumi Bali. Demikilah, falsafah Nyepi seharusnya menjadi pedoman melihat ulang segala ketidakseimbangan yang terjadi untuk kemudian berbenah lebih baik lagi.