DIKSIMERDEKA.COM, JAKARTA – Wakil Menteri Kesehatan RI Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono mengingatkan bahwa resistensi antimikroba telah menjadi ancaman besar.

Data global pada 2019 menunjukkan 1,2 juta kematian disebabkan oleh bakteri yang resisten terhadap antimikroba. Lebih mengkhawatirkan, sebuah studi memprediksi bahwa tanpa pengendalian yang efektif, akan ada 10 juta kematian per tahun pada 2050.

“Inilah mengapa AMR disebut sebagai silent pandemic,” kata Prof. Dante dilansir dari Kemenkes.go.id, Rabu (18/9/2024).

Baca juga :  10.453 Suspek Campak di Indonesia Jelang Mudik Lebaran 2026, Pakar UGM Ingatkan Bahaya Penularan

Prof. Dante menambahkan, situasi resistensi antimikroba di Indonesia sangat memprihatinkan. Lebih dari 400 ribu orang meninggal akibat sepsis, dengan 34 ribu di antaranya disebabkan oleh resistensi antimikroba.

Data dari Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) online menunjukkan bahwa 25 persen kematian akibat sepsis berasal dari pasien rawat inap pada 2023, dengan Provinsi Jawa Timur mencatat jumlah kasus tertinggi.

Untuk mengatasi ancaman ini, Prof. Dante menyatakan bahwa prinsip pengendalian resistensi antimikroba adalah mencegah infeksi dan menerapkan penggunaan antimikroba secara bijaksana, atau dikenal dengan penatagunaan antimikroba (antimicrobial stewardship).

Baca juga :  Puskesmas III Denpasar Selatan Raih Penghargaan dari Kemenkes RI

Kementerian Kesehatan juga aktif mempromosikan pengendalian resistensi antimikroba untuk meningkatkan kesadaran di antara semua pemangku kepentingan, termasuk pembuat kebijakan dan regulator.

“Inisiatif GeMa CerMat (Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat) di masyarakat juga menjadi bagian penting dari upaya ini,” ujar Prof. Dante.

Baca juga :  Stok Vaksin MR Aman, Kemenkes Siapkan 16 Juta Dosis untuk Tangani Lonjakan Campak

Prof. Dante menekankan pentingnya pendekatan One Health dan keterlibatan mitra, sektor swasta, dan masyarakat untuk memperkuat penggunaan antimikroba secara bijak di Indonesia.

Mernurutnya, perjuangan melawan resistensi antimikroba bukan hanya tantangan ilmiah atau medis, tetapi juga tanggung jawab bersama.

“Dengan bekerja sama, kita dapat menjaga efektivitas penggunaan antimikroba secara bijak dan melindungi kesehatan generasi masa depan kita,” tegas Prof. Dante.

Reporter: Dewa Fathur