DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Gubernur Bali, Wayan Koster mengatakan 17 pemimpin negara telah mengkonfirmasi hadir pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20  bulan November mendatang di Bali. Sementara Presiden Rusia, Vladimir Putin, dikatakan akan datang namun masih menunggu konfirmasi. 

“Sudah ada 17 (pemimpin negara yang akan datang). Putin akan datang tapi belum konfirmasi,” ungkap koster saat  ditemui usai membawa sambutan pembuka dalam acara Festival Pangan Lokal Bali Tahun 2022, di Lapangan Puputan Margarana, Denpasar, Kamis (03/11/2022). 

Baca juga :  Menjadi Presidensi G20, Presiden Jokowi Ingin WNI Bangga pada Indonesia

Sebagaimana yang diberitakan, kehadiran Vladimir Putin dalam KTT G-20 menjadi salah satu isu yang mencuri perhatian. Hal ini lantaran Rusia kini tengah berhadapan dengan sanksi Internasional akibat melakukan invasi ke Ukraina 

Sejak melancarkan invasi ke Ukraina pada Februari 2022 lalu. Rusia terus mendapatkan kecaman dan diisolasi oleh negara Barat. 

Dalam beberapa kesempatan negara-negara Barat juga mengusulkan kepada Indonesia untuk tidak mengundang Presiden Rusia, Vladimir Putin ke Bali sebagai respon atas serangan Rusia ke Ukraina.

Baca juga :  Bertemu Wamen LHK, KMHDI Dorong Agar Presidensi G20 Menjadi Momentum Atasi Climate Change

Sebelumnya, Wayan Koster berharap pulau Bali sebagai tuan rumah KTT G 20 dapat menjadi tempat terwujudnya perdamaian dunia, mengingat terjadi ketegangan politik dan ekonomi cukup tajam antara beberapa negara yang juga tergabung dalam anggota G-20. 

“Mudah-mudahan presiden Amerika datang, presiden Rusia datang, dan bersitegang antara satu dengan yang lain supaya kumpul di Bali lalu kemudian berdamai di Bali untuk kedamaian dunia,” terangnya saat menyampaikan sambutan dalam acara Festival Anak Negeri, bertempat di Art Center, Denpasar, Minggu (30/10/2022).

Baca juga :  Indonesia Jadi Tuan Rumah KTT G20 Tahun 2022

Lebih lanjut, Koster menjelaskan bahwa kedamaian dunia merupakan kebutuhan bersama masyarakat dunia, di tengah ketegangan antar negara akibat kepentingan politik, ekonomi, maupun juga kepentingan-kepentingan lainya.

“Bali lah tempatnya untuk membangun satu persahabatan, kedamaian, serta kemanusiaan, harmony, peace, and humanity from Bali to the World. Saya kira itu menjadi sesuatu yang sangat penting untuk membangun tatanan baru, tatanan dunia era baru paksa pandemi covid-19,” ujarnya.