Demi Masa Depan Lebih Baik, Pemuda Harus Berperan di KTT G-20
DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Pemuda harus berperan dalam pembahasan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 November mendatang. Hal ini lantaran salah satu isu prioritas yang dibahas adalah transisi energi lebih ramah lingkungan yang merupakan isu sangat berkaitan dengan masa depan pemuda hari ini.
Demikian terungkap dalam diskusi yang diselenggarakan Maritim Muda Nusantara Daerah Bali bertajuk “Peran Pemuda Dalam KTT G20 di Bali”, bertempat di Terali Resto, Denpasar, Selasa (25/10/2022).
Dalam kesempatan tersebut aktivis muda Bali, Agus Pebriana menyampaikan bahwa kelompok muda memiliki kepentingan dalam setiap agenda, rumusan, atau keputusan yang dihasilkan KTT G-20 nanti.
“Hal ini karena segala macam keputusan ini akan berkaitan dengan nasib pemuda hari ini dimasa depan. Apakah pemuda hari ini dimasa depan masih bisa hidup nyaman, aman, sejahtera, adil secara ekonomi, dan bebas dari krisis kesehatan atau krisis ekonomi, ini tergantung dari apa hasil keputusan yang dibuat dalam KTT G-20 nanti,” terangnya.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa atas dasar itulah pemuda harus bergerak mendesak forum KTT G-20 untuk mempertimbangkan dan mengakomodir aspirasi kelompok muda berkaitan dengan bagaimana nasibnya di masa depan. Sebagai contoh bagaimana pemuda mendorong lahirnya keputusan konkrit terkait transisi energi.
“Kelompok muda harus memastikan bahwa pembahasan berkenaan dengan transisi energi dapat menghasilkan keputusan konkrit. Ini karena transisi energi merupakan sesuatu hal yang betul-betul mendesak dibutuhkan untuk menciptakan bumi yang lebih bersih, nyaman, dan aman bagi para penghuninya,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa selama ini penggunaan energi bersumber dari fosil yang notabene menyumbang pencemaran dan mengakibatkan krisis iklim telah membuat bumi dalam keadaan rusak ditandai dengan ketidakpastian iklim seperti hujan dengan intensitas deras, kepanasan, kekeringan, dan kedinginan.
“Kondisi bumi yang tidak pasti ini kemudian menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, dan bencana lainya yang kemudian membuat penghuninya yakni manusia dalam keadaan yang juga tidak pasti karena dihantui oleh bencana,” sebutnya.
Ia pun menjelaskan bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di Bali akhir-akhir ini dapat menjadi contoh yang mengindikasikan bahwa Bumi dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Dimana ketahanan bumi mulai melemah sehingga bumi tidak bisa me-recovery dirinya sendiri.
Berdasarkan alasan tersebut, menurut Agus Pebriana, kelompok muda harus mengambil peran dengan cara mendesak dan ikut aktif dalam perumusan segala macam keputusan KTT G-20 untuk memastikan agar keputusan yang lahir merupakan keputusan yang lebih mengedepankan keberlangsungan dan kelestarian lingkungan.
“Pendekatan hari ini yang harus dilakukan oleh kelompok muda adalah pendekatan kebijakan dengan mendesak terlahirnya kebijakan-kebijakan yang lebih ramah terhadap lingkungan agar kemudian bumi yang kita tinggali di masa mendatang lebih nyaman dan aman,” tandasnya. (Gus)

Tinggalkan Balasan