Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan “Kun” Adnyana. (Foto: istimewa)

DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR, BALI – Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Prof. Dr. I Wayan “Kun” Adnyana mengungkapkan terbitnya surat Gubernur Bali tentang Penegasan Pembuatan dan Pawai Ogoh – Ogoh dalam rangka menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1944 dan Surat Edaran Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali tentang Pembuatan dan Pawai Ogoh – Ogoh menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1944, pada prinsipnya merupakan apresiasi Gubernur Bali dan lembaga Desa Adat se-Bali terhadap kreativitas Yowana (generasi muda, red) di Bali terkait pembuatan karya Ogoh – Ogoh.

Baca juga :  BBTF 2025 Resmi Dibuka, Bali Tampilkan Kekuatan Pariwisata Berkelanjutan

“Pembuatan Ogoh – Ogoh serangkaian Hari Suci Nyepi, Kita ketahui bersama merupakan tradisi tahunan di setiap Desa Adat se-Bali. Jadi hal ini merupakan respon positif dari Gubernur Bali dan MDA untuk senantiasa mengapresiasi kreativitas pembuatan Ogoh – Ogoh, terutama dari segi bahan dan material yang tidak menggunakan styrofoam dan plastik. Tapi lebih mengutamakan kreativitas dengan menggunakan material ramah lingkungan, atau bahkan dapat menggunakan bahan-bahan alam, seperti ijuk, kerangka bambu, daun-daun kering, dan lain-lainnya,” jelas Rektor ISI Denpasar, Kun Adnyana. 

Baca juga :  Kisah Perjuangan Wayan Koster, dari Les Privat hingga Gubernur

Lebih lanjut, Kun Adnyana menyebut di dalam pembuatan Ogoh – Ogoh kalangan Yowana Bali dinilainya sangat kreatif, termasuk dalam memilih subjek karya ogoh-ogoh, hingga bentuk yang terkadang memakai metode rakit dengan paduan teknologi kinestetik berupa gerakan-gerakan unik. “Kreativitas seperti ini tentu positif, terlebih mendapat pelindungan dari Gubernur Bali dan juga MDA,” katanya. 

Baca juga :  Tegas! Pemprov Bali Terbitkan Aturan untuk Jaga Martabat Pariwisata Bali

Meskipun mendapatkan pelindungan, namun Rektor ISI Denpasar ini meminta seluruh stakeholder (Bandesa Adat bersama prajuru yang terkait, termasuk Satgas Covid-19, red) khususnya para Yowana Desa Adat di Bali untuk memberi atensi terkait pawai atau pengarakan Ogoh – Ogoh melalui upaya-upaya pengendalian Covid-19 di setiap wewidangan Desa Adat. (*/sin)