DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Mediterranean Bali meluluskan 2.175 peserta dalam Graduation XVIII yang digelar di Bali Nusa Dua Convention Centre (BNDCC), 29–30 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 93 persen lulusan telah terserap ke dunia kerja, sementara sisanya masih menjalani proses perekrutan dan penyaluran tenaga kerja.

Direktur Mediterranean Bali, Ni Luh Gede Intan Purwati, mengatakan lulusan lembaga pendidikan vokasi itu telah terserap di berbagai bidang industri perhotelan dan hospitality, baik di dalam maupun luar negeri.

“Berdasarkan data yang kami miliki, tingkat penyerapan lulusan mencapai 93 persen. Sementara itu, sisanya masih dalam proses perekrutan dan penyaluran tenaga kerja, termasuk untuk penempatan di luar negeri,” kata Intan.

Menurut Intan, tingginya serapan lulusan tidak terlepas dari penilaian positif mitra industri terhadap kualitas lulusan Mediterranean Bali. Para lulusan dinilai memiliki kedisiplinan, karakter, tanggung jawab, serta kesiapan kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri hospitality.

Di samping itu, Intan mengatakan lulusan juga dibekali pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan standar dan kebutuhan industri hospitality.

Intan menyebut Mediterranean menerapkan kurikulum ASEAN melalui dua skema, yakni Competency-Based Training (CBT) dan Competency-Based Assessment (CBA), dimana peserta tidak hanya mengikuti pelatihan, tetapi juga menjalani asesmen untuk mengukur kompetensi yang telah diperoleh.

Intan mengatakan pihaknya melakukan validasi kurikulum setiap tahun bersama mitra industri. Langkah tersebut dilakukan untuk memperoleh informasi mengenai perkembangan kebutuhan industri hospitality dan menyesuaikannya dengan materi pelatihan.

Mediterranean Bali juga menjalin kerja sama dengan sejumlah lembaga pendidikan pariwisata luar negeri, diantaranya Business and Hotel Management School (BHMS) di Swiss, Australian College of Pioneers di Australia, serta MDIS di Singapura.

Selain penguatan kurikulum, Mediterranean Bali turut menjadi salah satu mitra pemerintah dalam program penyiapan tenaga kerja untuk bekerja ke luar negeri.

Intan menyebut lembaganya telah berkoordinasi dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) dan Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI).

Sementara itu, Ketua Yayasan Cahaya Tunas Indonesia Bali sekaligus Founder dan CEO Medi Group, A.A. Gede Abdiarta, menekankan pentingnya pendampingan berkelanjutan bagi lulusan setelah menyelesaikan pendidikan.

Menurutnya, wisuda bukan akhir dari proses pembelajaran, melainkan awal perjalanan karier para lulusan. Melalui ekosistem Medi Group, pihaknya berupaya mendampingi peserta sejak masa pendidikan hingga memperoleh kesempatan berkarier dan mengembangkan kompetensi.

“Graduation bukanlah garis akhir, melainkan garis awal dari perjalanan karier yang sesungguhnya. Kami ingin para lulusan memanfaatkan bekal keterampilan, pengetahuan, dan pengalaman yang telah diperoleh untuk terus berkembang,” ujarnya.

Ke depan, Mediterranean Bali bersama Medi Group berencana memperkuat pendidikan vokasi dan memperluas peluang pengembangan kompetensi. Salah satu rencana yang disiapkan adalah pengembangan lembaga pendidikan tinggi vokasi di kawasan Bypass menuju Sanur.

Melalui pengembangan tersebut, Mediterranean Bali berharap dapat terus menyiapkan tenaga kerja hospitality yang kompeten, profesional, dan mampu bersaing di tingkat global.

Perlu diketahui sebagai bagian dari Medi Gruop, Mediterranean Bali didukung oleh ekosistem terintegrasi yang menghubungkan pendidikan dan pelatihan dengan kebutuhan nyata industri hospitality. Ekosistem ini dirancang sebagai one stop solution yang mendampingi peserta didik dan alumni dalam setiap tahap perjalanan karier.

Peran tersebut dijalankan melalui kolaborasi antara unit bisnis Medi Group. Dimana Mediterranean Bali berfokus pada pendidikan dan pelatihan hospitality, LSP P3 Pariwisata Bali mendukung pengujian dan sertifikasi kompetensi, sementara E-Work Indonesia menyediakan program pengembangan bahasa asing untuk membantu peserta didik dan alumni. Lalu ada PT Las Olas Indonesia yang membuka akses penempatan kerja internasional melalui jaringan kemitraan.

Reporter: Agus Pebriana