DIKSIMERDEKA.COM MADRID– Dunia transportasi Eropa kembali diguncang petaka. Tragedi Kereta Spanyol kembali terjadi, di mana dua kereta cepat bertabrakan hebat di rute Madrid-Andalusia, tepatnya di dekat kota Urda, Toledo, pada Rabu (28/10/2026) pagi waktu setempat. Setidaknya 68 nyawa melayang dan puluhan lainnya luka-luka dalam insiden maut yang diduga kuat dipicu oleh kelalaian fatal dari pusat kendali kereta.

Dilansir dari The Guardian,merespons insiden berdarah yang menampar wajah sektor transportasi kebanggaan negaranya ini, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez langsung mengumumkan masa berkabung nasional selama tiga hari. Kecelakaan ini melibatkan kereta milik negara, Renfe, yang menabrak bagian belakang kereta milik perusahaan swasta, Iryo, hingga membuat beberapa gerbong terlempar keluar dari jalur.

“Hari ini seluruh Spanyol berduka,” ucap PM Pedro Sánchez, yang tampak terpukul oleh insiden maut kedua di jalur yang sama dalam setahun terakhir ini.

Pada Januari lalu, 46 orang juga tewas akibat tabrakan antara kereta Renfe dan Iryo di dekat Adamuz, Andalusia. “Sangat tidak bisa diterima bagi negara seperti Spanyol mengalami dua kecelakaan kereta cepat di tahun yang sama, seperti yang kita alami,” tambah Sánchez. Ia menegaskan, jika tragedi ini murni karena kelalaian sistem keamanan, pemerintah akan mengambil tindakan dengan “ketegasan tingkat tinggi”.

Blunder Konyol Pusat Kendali di Tengah Sinyal Eror

Menteri Transportasi Spanyol, Óscar Puente, blak-blakan menyebut tabrakan dari belakang seperti ini sebenarnya “sangat tidak mungkin” terjadi, dan menuding adanya kesalahan manusia dalam situasi yang “tidak bisa dijelaskan”.

Puente membeberkan, sistem persinyalan LZB—yang otomatis menghentikan kereta jika ada halangan di depan—sempat eror karena masalah komputer sekitar pukul 08.30 pagi. Imbasnya, sekitar enam kereta berhenti total di sepanjang 63 kilometer jalur tersebut. Tanggung jawab pemantauan langsung diambil alih oleh pusat kendali 24 jam di Madrid.

Namun, bukannya mengamankan jalur, pusat kendali malah memerintahkan sedikitnya dua kereta untuk kembali melaju, padahal sinyal “berhenti” masih menyala. Kereta Iryo yang sedang berhenti statis akhirnya diseruduk oleh kereta Renfe yang disuruh jalan dan telah melaju sejauh 25 kilometer selama 17 menit. Belum diketahui pasti berapa kecepatan Renfe saat menabrak, namun jalur tersebut memungkinkan kereta melesat hingga 200 km/jam.

“Pusat kendali lah, melalui operatornya, yang membuat keputusan untuk melanjutkan lalu lintas, di bawah kondisi yang, dari sudut pandang kami, tidak dapat dijelaskan,” bongkar Puente. “Jelas, itu adalah keputusan yang salah.”

Lebih ironis lagi, pusat kendali sebenarnya punya waktu untuk menyadari blunder mereka. “Mereka punya lebih dari cukup waktu untuk memverifikasi kesalahan tersebut, dan mereka tidak memperbaikinya. Saya tidak menimpakan tanggung jawab kepada siapa pun, saya hanya menyampaikan fakta,” tegasnya.

Bahkan, kecelakaan bisa lebih parah jika seorang masinis kereta lain tidak berinisiatif mengoreksi instruksi pusat kendali untuk beralih ke operasi pandangan mata (on-sight) dengan kecepatan rendah. “Masinis itu berkata: ‘Oke, operasi berdasarkan pandangan mata’,” ungkap Puente menirukan percakapan sang masinis.

Kengerian di Lokasi: Gerbong Bertumpuk, Evakuasi Belum Usai

Pemandangan di lokasi kejadian layaknya zona perang. Rangkaian besi bengkok, panel hancur, dan puing-puing berserakan di bawah rel yang melayang. Para pejabat menyebut kedua kereta nahas itu mengangkut total 544 penumpang.

Miguel, seorang penumpang di gerbong belakang salah satu kereta, menceritakan detik-detik mengerikan itu kepada radio Cope. “Kami mendengar gemuruh besar, dentuman yang benar-benar luar biasa selama 10 detik, seolah-olah kereta akan anjlok,” tuturnya ngeri. “Melalui jendela sebelah kanan, kami bisa melihat kereta yang hancur – saya bayangkan itu pasti kereta yang satu lagi.”

Hingga Rabu sore, Pemerintah Regional Castilla-La Mancha mengonfirmasi korban tewas melonjak jadi 68 orang. Angka ini kemungkinan masih akan bertambah karena evakuasi sangat sulit.

Pemimpin Castilla-La Mancha, Emiliano García-Page, memperingatkan wartawan bahwa korban tewas bisa lebih banyak karena “belum memungkinkan untuk menjangkau bagian dasar gerbong”. Sementara itu, 107 orang dilarikan ke rumah sakit, dengan 15 di antaranya dalam kondisi kritis. Di antara korban tewas pertama yang teridentifikasi adalah seorang agen Guardia Civil berusia 31 tahun, José Manuel Chacón.

Kota Urda yang biasanya tenang dengan kebun zaitunnya, mendadak berubah menjadi pusat komando krisis. Gedung olahraga lokal disulap jadi rumah sakit darurat, sementara warga sekitar bahu-membahu membawa makanan dan air untuk keluarga korban yang panik mencari sanak saudaranya.

Pemilu Spanyol Memanas: Oposisi Tuntut Penyelidikan Independen

Tragedi ini meledak hanya beberapa minggu sebelum pemilihan umum, membuat posisi PM Sánchez dan Partai Sosialisnya makin terpojok. Sejak kecelakaan Januari lalu, oposisi sudah mencecar pemerintah karena dianggap gagal menjaga standar keselamatan kereta cepat kebanggaan Spanyol tersebut.

Menyadari suhu politik yang memanas, PM Sánchez buru-buru menepis spekulasi bahwa kedua kecelakaan maut tahun ini saling berkaitan. “Segalanya sangat menunjukkan bahwa penyebab kedua kecelakaan itu sama sekali tidak berhubungan, tetapi bukan wewenang saya untuk mengatakannya,” kilahnya. “Tapi yang jelas, jika kita perlu—dan kita pasti perlu—memperkuat keselamatan untuk membangun kembali kepercayaan pada sistem kereta cepat kita, hal itu akan dilakukan.”

Namun, oposisi tidak tinggal diam. Pemimpin Partai Rakyat, Alberto Núñez Feijóo, langsung menuntut penyelidikan independen secara menyeluruh terhadap seluruh jaringan kereta api di Spanyol. “Spanyol berhak tahu apa yang terjadi dengan infrastrukturnya,” cetus Feijóo tajam.

Kini, di tengah masa berkabung—yang bahkan membuat Federasi Sepak Bola Spanyol menunda 24 laga Copa del Rey—publik Spanyol menanti keadilan dan jawaban atas blunder konyol yang menukar 68 nyawa manusia dengan kelalaian sistem kendali.