DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali telah memetakan titik rawan banjir di seluruh kabupaten/kota menjelang puncak musim hujan pada Januari-Februari 2027. Denpasar dan Badung menjadi wilayah dengan potensi banjir yang relatif tinggi, disusul Jembrana dan Tabanan.

Kepala Pelaksana BPBD Bali I Gede Agung Teja Busana mengatakan pemetaan tersebut dilakukan untuk mendukung kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana selama musim hujan.

Meski sudah memetakan, Teja belum bisa merinci jumlah titik rawan banjir yang telah teridentifikasi.

“Di setiap kabupaten ada, tetapi jumlah dan tingkat potensinya berbeda-beda,” kata Teja Busana, Kamis (29/10/2026).

Berdasarkan pemetaan, Teja mengatakan titik banjir relatif tinggi di Denpasar dan Badung, lalu disusul Jembrana, dan Tabanan.

Di Denpasar, wilayah Sanur, Padangsambian, dan Sesetan menjadi perhatian BPBD mengingat di daerah tersebut memiliki riwayat rentan banjir ketika hujan turun.

Adapun di Badung, potensi banjir antara lain tersebar di kawasan Kuta dan Tukad Mati.

Teja Busana menegaskan bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan juga masyarakat dan dunia usaha.

Ia mengatakan saat ini BPBD Bali telah menyiapkan personel dan peralatan untuk mendukung penanganan bencana di kabupaten/kota.

BPBD Bali juga telah memasang 12 titik sistem peringatan dini banji, masing-masing enam titik di Denpasar, tiga titik di Badung, dan tiga titik di Jembrana. Meski demikian, jumlah tersebut dinilai masih perlu ditambah.

“Penguatan sistem peringatan dini masih diperlukan. Partisipasi masyarakat juga penting, terutama untuk meningkatkan kesiapsiagaan secara mandiri berdasarkan pengalaman bencana sebelumnya,” ujarnya.

Selain sistem peringatan dini, upaya mitigasi dilakukan melalui pembenahan infrastruktur drainase dan gorong-gorong, pemangkasan pohon yang berisiko tumbang, penguatan tutupan lahan hijau, serta perbaikan tata kelola sampah.

Teja Busana mengatakan sejumlah upaya telah dilakukan, termasuk pembenahan jalur air oleh Dinas Pekerjaan Umum Kota Denpasar. Namun, persoalan sampah yang masih ditemukan di sungai menjadi pekerjaan rumah bersama.

“Upaya sudah dilakukan, tetapi masih terbatas. Bencana tidak disebabkan oleh satu faktor saja, melainkan akumulasi dari berbagai persoalan, mulai dari infrastruktur, tata kelola sampah, hingga kondisi tutupan lahan,” katanya.

Ia mengimbau masyarakat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha, termasuk pengelola hotel, mengikuti perkembangan informasi cuaca melalui kanal resmi BPBD Bali serta menyiapkan langkah antisipasi sesuai risiko di wilayah masing-masing.

Dalam sektor pariwisata, Teja Busana menyebut sebanyak 117 hotel telah tersertifikasi kesiapsiagaan bencana. Sehingga mereka dinilai lebih siap menghadapi bencana.

Pengalaman banjir sebelumnya, kata dia, menunjukkan sejumlah hotel di kawasan Seminyak dan Kuta telah menyiapkan perahu serta prosedur evakuasi bagi tamu.

Kesiapan tersebut diperlukan untuk mengantisipasi kondisi darurat, termasuk ketika wisatawan harus dievakuasi atau dipindahkan ke akomodasi lain.

Reporter: Agus Pebriana