DIKSIMERDEKA.COM DETROIT – Manuver politik Obama turun gunung ke arena kampanye di Michigan resmi dimulai dan langsung menyita perhatian publik. Di hadapan ribuan pendukung Partai Demokrat yang menyemut di sekolah menengah teknik Cass, Detroit, Sabtu waktu setempat, mantan Presiden AS ini pasang badan memenangkan Abdul El-Sayed yang tengah bertarung memperebutkan kursi Senat AS.

Mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, resmi turun gunung ke arena kampanye. Di hadapan ribuan pendukung Partai Demokrat yang menyemut di sekolah menengah teknik Cass, Detroit, Sabtu (24/10/2026) waktu setempat, Obama pasang badan memenangkan Abdul El-Sayed yang tengah bertarung memperebutkan kursi Senat AS mewakili Michigan.

Kehadiran Obama bertepatan dengan hari pertama pemungutan suara awal (early voting) di Michigan. Di atas panggung, ia menegaskan bahwa El-Sayed adalah sosok yang “berjuang untuk perubahan, perubahan nyata, yang akan mengeluarkan uang dari politik dan memasukkan uang ke saku Anda”.

Sebagai catatan bagi publik awam, El-Sayed adalah seorang dokter berdarah Mesir-Amerika. Jika menang, ia akan mencetak sejarah sebagai Muslim pertama di Senat AS. Obama meyakinkan massa bahwa kandidatnya itu akan “menyelesaikan pekerjaan yang kita mulai dengan Affordable Care Act dan menjamin perawatan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau bagi setiap warga Amerika”.

Selain mendukung El-Sayed, kampanye akbar ini juga untuk memenangkan Jocelyn Benson, kandidat Demokrat untuk kursi Gubernur Michigan.

Serangan Bertubi-tubi ke Donald Trump

Bukan gaya Rakyat Merdeka jika tak menyoroti betapa tajamnya orasi Obama saat menyerang kubu lawan politiknya. Ia terang-terangan menuduh Donald Trump telah “memperkaya dirinya dan keluarganya”, serta menciptakan “budaya … di pucuk pimpinan” yang gemar memperjualbelikan bantuan politik.

“Belum pernah melihat seorang presiden begitu berniat menjual bantuan seperti ini,” sentil Obama tajam.

Sindiran tak berhenti di situ. Obama menjadikan proyek renovasi Gedung Putih ala Trump sebagai bahan tertawaan. Menurutnya, obsesi Trump merombak ruang dansa dan Rose Garden sungguh berlebihan. “Dia seharusnya berada di HGTV,” ejek Obama merujuk pada saluran TV khusus bedah rumah. “Dia membuat Gedung Putih tampak seperti Saddam Hussein membuka pabrik Cheesecake.”

Bahkan, kebijakan tarif Trump yang menyasar Kanada pun tak luput dari cibiran. Obama menyindir Trump bertindak sok keras pada negara tetangga yang ia sebut secara sarkastis sebagai “kerajaan jahat yang terkenal itu”. “Mereka adalah orang-orang yang memberi kita Martin Short dan sirup maple,” guraunya.

Menteri Pertahanan kabinet Trump, Pete Hegseth, juga kena semprot. Obama mengejek obsesi sang menteri yang “fokus bagai laser” pada “garis rahang dan tingkat testosteron pasukan kita”. Obama melontarkan retorika menohok, “Menurut Anda, berapa banyak waktu yang dihabiskan pria ini di depan cermin setiap hari?”

Tepis Friksi Internal, Rapatkan Barisan

Dukungan Obama untuk El-Sayed sempat menjadi tanda tanya besar. Pasalnya, saat masa pemilihan awal (primary) Agustus lalu, Obama memilih bungkam. Terlebih, El-Sayed yang merupakan loyalis program kesehatan universal (Medicare for All) pernah mengkritik keras Affordable Care Act (Obamacare)—yang tak lain adalah warisan kebanggaan Obama—sebagai solusi setengah matang.

Namun, di atas panggung, Obama menunjukkan kematangan berpolitiknya dengan menepis isu perpecahan. Ia mengakui publik tahu El-Sayed “tidak menyukai beberapa hal yang Anda lakukan sebagai presiden”.

“Kita tidak akan sepakat pada setiap detail dari setiap masalah,” tegas Obama diplomatis. “Anda tahu siapa lagi yang tidak setuju dengan semua yang saya lakukan? Michelle Obama.”

Yang terpenting, lanjutnya, adalah visi besar yang menyatukan mereka. “Kita berbagi nilai-nilai tersebut untuk memastikan semua orang mendapat kesempatan yang adil di masyarakat ini, dan bahwa sistem tidak hanya dijalankan untuk mereka yang berada di atas,” kuncinya.

Senator Demokrat Elissa Slotkin, yang turut hadir sebagai pembicara, juga menegaskan pentingnya kemenangan ini untuk melawan hegemoni sayap kanan. “Kita memberikan pengawasan dan keseimbangan terhadap Donald Trump di Gedung Putih,” ucap Slotkin seraya menegaskan, “Michigan percaya untuk memilih para pejuang.” Ia pun memaklumi jika ada perbedaan pandangan dengan El-Sayed. “Itu tidak apa-apa karena kita sepakat pada lebih banyak hal.”

Persaingan Ketat Melawan Jagoan Trump

Pertarungan di Michigan diprediksi berjalan sangat alot. Partai Republik, yang sudah puasa kursi Senat Michigan selama 25 tahun, melihat ini sebagai peluang emas. El-Sayed harus berhadapan dengan jagoan Donald Trump, mantan anggota kongres Mike Rogers.

Suhu politik pun makin panas. Trump kerap menyerang El-Sayed dengan narasi rasis, memanggilnya “jihadis”, dan menuduhnya punya hubungan dengan Ikhwanul Muslimin—tudingan yang dibantah keras oleh El-Sayed.

Kini, pertarungan kian sengit mengingat jajak pendapat Marist pertengahan Oktober lalu menempatkan El-Sayed unggul tipis di angka 50% berbanding 48% milik Rogers.