DIKSIMERDEKA.COM JAKARTA– Sempat bikin warga dan turis di Pulau Dewata ketar-ketir karena antrean di SPBU, teka-teki seretnya pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) di Bali akhirnya terjawab. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang juga Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, blak-blakan memastikan masalahnya bukan karena negara kehabisan bensin, melainkan murni urusan logistik kapal yang telat sandar.

Pernyataan tegas ini disampaikan Bahlil langsung di hadapan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Menurut Bahlil, macetnya pasokan BBM di Bali beberapa waktu lalu terjadi karena distribusi dari Jawa Timur tersendat akibat keterlambatan kedatangan kapal pengangkut. Namun, pemerintah langsung tancap gas membereskan masalah tersebut. Kini, warga Bali bisa kembali bernapas lega.

“Alhamdulillah hari ini di Bali Bapak Presiden stoknya sudah mencapai 12 hari,” ungkapnya.

Cadangan Nasional Dipastikan Luber, Tak Ada Alasan Panik

Bahlil juga menyentil agar masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah, tidak perlu panik (panic buying). Secara nasional, tangki cadangan BBM pemerintah dalam kondisi sangat aman. Bensin sejuta umat, yakni Pertalite, dipastikan melimpah ruah.

Baca juga :  Capaian Triwulan I Tahun 2021 Kementerian ESDM, Jargas dan KBLBB Terus Didorong

“Untuk cadangan BBM kita sekarang untuk pertalite Bapak Presiden di angka 16 sampai 18 hari. Ini yang subsidi. RON 90. Kalau yang lainnya semua di atas standar minimum nasional,” ujar Menko Bahlil.

Tantangan pendistribusian energi ke pelosok yang kerap terhambat cuaca atau sungai dangkal di Kalimantan hingga Papua juga terus diakali pemerintah. Ketersediaan gas melon atau LPG nasional pun dipastikan anteng di atas rata-rata 13 hari.

Bahkan, ketergantungan Indonesia terhadap solar luar negeri perlahan mulai diputus. Lewat aturan baru yang diteken Presiden Prabowo soal skema Government-to-Government (G2G), Bahlil membawa kabar gembira soal kedaulatan energi.

Baca juga :  Prabowo Panggil Direksi PLN, Ungkap Penyebab Pemadaman Listrik

“Untuk solar Pak Presiden, alhamdulillah sudah tidak kita lakukan impor, jadi clear, khususnya solar (CN)48, solar CN51 kita masih sebagian melakukan impor,” jelasnya.

Bukan cuma urusan bensin, PLN juga kena pantau. Kasus listrik byar-pet di Batam yang sempat bikin geger sudah ditangani. “Kami laporkan bahwa untuk kondisi listrik di Batam yang kemarin sempat eror, sudah bisa tertangani dan sekarang program kita untuk listrik adalah bagaimana memastikan di semua wilayah tidak ada lagi pemadaman bergilir,” katanya.

Setoran ke Negara Tembus Rp 165 Triliun untuk Tambal Subsidi

Untuk menjaga agar harga BBM subsidi seperti Pertalite tidak mencekik kantong rakyat awam, pemerintah terus menggenjot pendapatan dari sektor tambang dan energi. Bahlil memamerkan kinerja jajarannya yang sukses mengumpulkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp127,74 triliun hingga Oktober 2026.

Baca juga :  Pertamina : Harga Pertalite Tetap Rp10 Ribu

Angka ini ditargetkan terus digenjot hingga menembus Rp165 triliun di akhir tahun untuk menyuntik dompet negara.

“Target kita nanti untuk membantu Menteri Keuangan dalam rangka menambal devisit terhadap subsidi BBM itu kita akan mencapai Rp165 triliun Pak Menteri Keuangan. Jadi surplus sekitar Rp30 triliun, ini untuk PNBP,” ujar Menko Bahlil.

Menariknya, meski volume ekspor batu bara kita turun dari 374 juta ton menjadi 343 juta ton, duit yang masuk ke kas negara justru melonjak dari 21 miliar dolar AS menjadi 23,71 miliar dolar AS. Ekspor nikel pun ikut meroket menembus 24,55 miliar dolar AS.

“Jadi barang produksi turun pendapatan naik,” tegas Menko Bahlil tersenyum sumringah.

Bagi warga Bali dan sekitarnya, pesan dari Istana hari ini jelas: BBM aman, kapal sudah sandar, dan negara punya cukup uang untuk menjaga agar bensin tidak langka.