DIKSIMERDEKA.COM – Kekayaan tanaman herbal Indonesia menyimpan potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk kesehatan bernilai ekonomi. Potensi tersebut dapat menjadi peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha berbasis bahan alam sekaligus melestarikan kearifan lokal.

Semangat inilah yang melandasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Optimalisasi Pemanfaatan dan Pengembangan Produk Herbal sebagai Komoditas Kesehatan Bernilai Ekonomi bagi Masyarakat Penglipuran, Bali dalam Upaya Melestarikan Kearifan Lokal”, yang diketuai oleh Prof. apt. Tutik Sri Wahyuni, M.Si.

Pada tanggal 24 Oktober 2026, kegiatan dilaksanakan di Balai Desa Panglipuran, Bali. Kegiatan ini melibatkan lebih dari 30 peserta dari unsur UMKM dan Karang Taruna yang ada di Desa Penglipuran. Program ini didanai melalui Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) Fakultas Farmasi Universitas Airlangga tahun 2026 dengan nomor kontrak 3704/B/DST/UN3.FF/PM.01.01/2026, serta bekerja sama dengan Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Cabang Denpasar dan Universitas Bali Internasional (UNBI).

Kegiatan dibuka oleh Kepala Desa Panglipur, Ketua IAI Cab Denpasar, Prof apt Tutik Sri Wahyuni, M.Si sebagai ketua kegiatan menyampaikan,” Budaya local harus kita lestarikan untuk meningkatkan Kesehatan dan perekonomian UMKM, wilayah Bali menyimpan banyak warisan pengobatan tradisional yang sayang jika tidak dimanfaatkan dengan baik. Maka dari itu, kami dari FFUA bekerja sama dengan FF UNBI dan IAI Denpasar bekerjasama untuk memberikan nilai tambah dan jaminan mutu pada produk lokal.”

Mengembangkan Herbal Menjadi Produk Bernilai Tambah

Salah satu agenda utama kegiatan adalah pemaparan materi dan praktik pembuatan produk aromaterapi yang disampaikan oleh Dr. Suciati. Peserta diperkenalkan pada pembuatan solid perfume atau parfum padat dan roll-on aromatherapy yang memanfaatkan bahan aromatik. Kedua produk tersebut memiliki bentuk praktis dan berpotensi dikembangkan sebagai produk unggulan berbasis bahan alam.

Praktik pembuatan produk diharapkan dapat memberikan pengalaman langsung kepada peserta mengenai proses pengolahan bahan, formulasi sederhana, dan pengembangan produk yang menarik bagi konsumen. Inovasi semacam ini membuka peluang bagi masyarakat untuk tidak hanya memanfaatkan tanaman herbal secara tradisional, tetapi juga mengolahnya menjadi produk dengan nilai jual yang lebih tinggi.

Pengembangan produk herbal juga dapat mendukung diversifikasi usaha masyarakat, terutama apabila dipadukan dengan identitas lokal Penglipuran yang dikenal dengan kekayaan budaya dan komitmennya dalam menjaga tradisi. Dengan demikian, produk yang dihasilkan berpeluang menjadi bagian dari pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

Teknologi Destilasi untuk Mendukung Pemanfaatan Bahan Alam

Selain praktik pembuatan produk aromaterapi, kegiatan ini juga mencakup penjelasan mengenai alat destilasi dan penyerahan alat kepada masyarakat. Pengenalan teknologi destilasi menjadi langkah penting untuk memperluas pemahaman peserta mengenai proses memperoleh minyak atsiri dari bahan alam.

Minyak atsiri merupakan salah satu bahan yang dapat dimanfaatkan dalam pengembangan berbagai produk aromatik, termasuk produk pewangi dan aromaterapi. Pemanfaatan teknologi pengolahan yang tepat diharapkan dapat meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengembangkan bahan alam menjadi bahan baku maupun produk yang memiliki nilai tambah.

Keberadaan alat destilasi juga diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran dan pengembangan keterampilan secara berkelanjutan. Pemanfaatannya perlu disertai pemahaman mengenai pemilihan bahan, kebersihan proses, pengoperasian alat, serta pengendalian mutu agar produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang konsisten.

Inovasi Produk Herbal melalui Pembuatan Loloh Cemcem

Kegiatan berikutnya adalah pembuatan produk inovasi loloh cemcem yang disampaikan oleh tim dari UNBI. Minuman tradisional ini merupakan bagian dari kekayaan kuliner dan pengetahuan lokal Bali yang memiliki potensi untuk terus dikembangkan.

Melalui inovasi produk, loloh cemcem dapat diperkenalkan sebagai salah satu contoh pemanfaatan bahan alam dalam produk yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Pengembangan tersebut diharapkan dapat memperluas peluang pemanfaatan warisan kuliner lokal sekaligus meningkatkan daya tarik produk bagi konsumen.

Meski demikian, pengembangan minuman berbahan herbal perlu memperhatikan pemilihan bahan baku, kebersihan proses produksi, konsistensi formulasi, dan keamanan konsumsi. Inovasi tidak hanya diarahkan pada tampilan atau daya tarik produk, tetapi juga pada mutu dan keamanan agar produk dapat diterima masyarakat secara lebih luas.

Memahami Keamanan dan Legalitas Produk

Potensi ekonomi produk herbal akan semakin kuat apabila diiringi pemahaman tentang keamanan dan perizinan. Oleh karena itu, rangkaian kegiatan juga mencakup pemaparan mengenai regulasi dan registrasi pangan olahan dan obat bahan alam yang mencakup juga proses sertifikasi serta perizinan melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Materi ini disampaikan oleh BPOM, ketua tim sertifikasi dan informasi komunikasi. Pelaku usaha perlu memahami kategori produk, persyaratan keamanan, mutu, informasi pada label, serta ketentuan perizinan yang sesuai dengan jenis produk yang akan dipasarkan.

Pemahaman tersebut menjadi bekal penting bagi masyarakat yang ingin mengembangkan produk herbal secara lebih profesional. Produk yang memiliki mutu terjaga dan memenuhi ketentuan yang berlaku akan lebih siap untuk memasuki pasar serta membangun kepercayaan konsumen.

Melestarikan Kearifan Lokal melalui Pemberdayaan Masyarakat

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menempatkan pelestarian kearifan lokal dan penguatan ekonomi sebagai dua tujuan yang saling mendukung. Pengetahuan tradisional mengenai pemanfaatan bahan alam dapat menjadi inspirasi pengembangan produk, sedangkan inovasi dan teknologi dapat membantu meningkatkan nilai tambahnya.

Melalui kombinasi edukasi, praktik pembuatan produk, pengenalan teknologi destilasi, penyerahan alat, dan pemahaman mengenai legalitas, masyarakat diharapkan memperoleh bekal untuk mengembangkan potensi herbal secara lebih terarah.

Ke depan, keberlanjutan program dapat diperkuat melalui pendampingan formulasi dan pengendalian mutu, pengemasan, penghitungan biaya produksi, pengembangan identitas produk lokal, serta strategi pemasaran. Dengan dukungan yang berkesinambungan, produk herbal berpotensi menjadi bagian dari penguatan usaha masyarakat dan pengembangan ekonomi kreatif di Penglipuran.

Pada akhirnya, optimalisasi pemanfaatan herbal bukan sekadar upaya menghasilkan produk baru. Lebih dari itu, langkah ini merupakan ikhtiar untuk menjaga pengetahuan lokal agar tetap relevan, mendorong kreativitas masyarakat, dan menjadikan kekayaan alam sebagai sumber manfaat yang berkelanjutan bagi kesehatan, budaya, dan kesejahteraan masyarakat. Kegiatan ini mendukung IKU 2 dan IKU 5 serta SDG 3 (Good Health and Well Being) dan 17 ( Phartnership for the Goal).