DIKSIMERDEKA.COM JOGJAKARTA – Kasus kepikunan atau demensia di Indonesia ibarat bom waktu yang siap meledak, dengan proyeksi menembus 4 juta penderita pada 2050. Mirisnya, masyarakat masih sering abai dan memaklumi perubahan daya ingat lansia sebagai proses penuaan biasa, padahal kelalaian ini membuat gejala awal terlambat ditangani.

Dosen Keperawatan Jiwa dan Komunitas FKKMK UGM, Dr. Sri Mulyani, S.Kep., Ns., M.Ng, menyentil minimnya kesadaran publik dan ketidaksiapan sistem pendataan nasional.

“Angka demensia di Indonesia itu belum ada data yang jelas. Yang ada itu penelitian yang skalanya tidak terlalu besar dan juga hasil-hasil screening, di mana screening itu berbeda dengan diagnosis,” kritiknya tajam.

Baca juga :  Wacana Kuliah Gratis PTN: Pakar UGM Ingatkan Ancaman Defisit Kampus dan Subsidi Salah Sasaran

Menurutnya, edukasi masyarakat harus dipacu. “Jadi, tantangan terbesarnya adalah awareness dulu. Semua orang perlu tahu demensia itu apa, gejalanya seperti apa, agar bisa membedakan yang penuaan normal itu seperti apa, yang mengarah ke demensia itu yang seperti apa,” terangnya.

Keluarga Garda Terdepan, Jangan Tunggu Parah!

Keluarga dituntut peka terhadap perubahan sekecil apa pun. “Biasanya orang terdekatlah yang pertama kali notice. Tahu ini kok jadi aneh, kok perilakunya begini. Yang paling mengganggu biasanya adalah perubahan perilakunya, bukan hanya lupa-lupanya,” jelas Sri.

Baca juga :  Ketua TP PKK Bali Sosialisasikan Pola Hidup Sehat di Karangasem

Jika sudah terdiagnosis, penderita tidak boleh dikucilkan. “Jadi, bukan berarti setelah terdiagnosis itu end of the world. Setelah diagnosis, keluarga tetap harus mendukung melibatkan orang dengan demensia atau yang biasa disebut ODD, untuk tetap aktif. Kita juga tetap melibatkan dalam kegiatan-kegiatan keluarga, membantunya melakukan hobinya,” tambahnya.

Baca juga :  Gempa M 7,7 NTT, Pakar UGM Ingatkan Gempa Susulan dan Ancaman Longsor

Kabar baiknya, ancaman ini bisa ditangkal sejak muda lewat pengendalian hipertensi, diabetes, dan kebiasaan makan sembarangan. “Jadi, ternyata kasus demensia itu berdasarkan penelitian bisa dicegah hingga 40 persen jika sejak awal, early life, sudah melakukan pencegahan-pencegahan,” tuturnya.

Kuncinya sederhana: jaga organ peredaran darah Anda. “Jadi, apa yang bagus untuk jantung juga bagus untuk perlindungan otak,” pungkas SrI