Kelangkaan BBM di Bali Mulai Berdampak pada Industri Perjalanan Wisata
DIKSIMERDEKA.COM, BADUNG — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) dalam lima hari terakhir mulai dirasakan pelaku industri perjalanan wisata di Bali.
Antrean mengular di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) menghambat mobilitas mereka dalam mengantar tamu, sehingga jadwal perjalanan harus diatur ulang.
Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Provinsi Bali Putu Winastra mengatakan biro perjalanan yang paling terdampak adalah yang mengandalkan kendaraan kecil, seperti mobil van.
“Di mobil-mobil kecil, terutama yang van, ini sedikit terkendala, terutama untuk mengatur jadwal kegiatan mereka,” terang Winastra, Jumat (16/10/2026).
Winastra mengungkapkan, salah satu biro perjalanan anggota ASITA sempat melaporkan tidak bisa mengantar tamunya ke bandara tepat waktu karena terhambat kemacetan di sekitar SPBU.
“Kami berharap ruas jalan, terutama yang menuju bandara, diberikan ruas jalan lebih luas agar wisatawan kita tidak sampai tidak bisa terbang,” ungkapnya.
Meski demikian, Winastra menyebut sejauh ini belum ada pembatalan kunjungan wisatawan ke Bali. Menurutnya, wisatawan yang datang ke Bali umumnya sudah terjadwal.
Ia mengatakan, perubahan hanya terjadi pada pola kegiatan wisata. Wisatawan yang semula merencanakan kegiatan di Bali Selatan beralih ke lokasi yang tidak terlalu padat.
“Perubahan tur ada, misalnya awalnya ke Tanah Lot, tapi karena macet, mereka memilih ke tempat-tempat yang lebih dekat dan tidak macet,” terangnya.
Winastra berharap kelangkaan dan antrean di SPBU tidak berlangsung lama. Ia juga belum bisa memperkirakan kerugian yang dialami Bali jika kondisi ini berlarut-larut.
“Saya kurang tahu, jadi harapan kita jangan terlalu lama,” ungkapnya.
Winastra menambahkan, setiap biro perjalanan anggota ASITA telah memberi pemahaman kepada tamu bahwa kelangkaan BBM merupakan keadaan force majeure yang harus dipahami bersama.
Reporter: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan