DIKSIMERDEKA.COM RIYADH –Ancaman mematikan dari Rudal Houthi kembali meneror langit Arab Saudi. Bandara Internasional di Riyadh lagi-lagi menjadi sasaran empuk serangan pada hari Minggu(11/10/2026). Insiden berdarah ini terjadi hanya sehari setelah serangan rudal oleh kelompok pemberontak sokongan Iran tersebut menewaskan 13 orang di fasilitas yang sama..

Menurut otoritas penerbangan sipil Arab Saudi, sebuah proyektil nyasar yang belum teridentifikasi menghantam Terminal 4 di Bandara Internasional Raja Khalid. Ledakan itu memicu kebakaran hebat, merenggut satu nyawa, dan melukai 11 orang lainnya. Sistem pertahanan udara Saudi memang sempat mencegat sebuah rudal jelajah di sekitar bandara, namun gempuran ini adalah rentetan ke sekian kalinya yang menjadikan bandara tersebut sebagai bulan-bulanan sepanjang minggu ini.

Gempuran yang makin membabi-buta ini tak pelak mengancam akan menyeret lebih banyak negara ke dalam pusaran konflik berdarah Yaman. Efek dominonya berisiko memperluas imbas perang AS-Iran yang sudah lebih dulu menjalar ke Lebanon dan Irak.

Saking gentingnya situasi, Kedutaan Besar Inggris di Arab Saudi lewat platform X langsung mengeluarkan travel warning. Mereka mengimbau warganya agar menghindari perjalanan yang tidak mendesak ke kota Jeddah dan Dammam, serta menjauhi hampir seluruh bandara di negara tersebut.

H2: Trump Pikir-pikir Ikut Perang, Houthi Makin Jemawa

Pasca-serangan maut hari Sabtu di Bandara Riyadh, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku sedang menimbang-nimbang untuk ikut campur langsung dalam kampanye militer Saudi di Yaman. Kepada para wartawan, Trump merespons singkat namun penuh makna:

“Kami akan memeriksanya (mempelajarinya).”

Di kubu seberang, kelompok Houthi sekutu Iran dengan jemawa mengklaim bertanggung jawab atas serangkaian serangan ke bandara tersebut. Serangan hari Sabtu yang menewaskan 13 nyawa dan melukai lebih dari 300 orang itu tercatat sebagai serangan paling berdarah di negara Teluk sejak perang dengan Iran meletus pada bulan Maret. Ini menjadi bukti eskalasi gila-gilaan dalam perang Houthi melawan Arab Saudi dan pemerintah Yaman yang disokong Riyadh.

Baca juga :  Trump Bikin Geger! Kesepakatan Nuklir AS Arab Saudi Mendadak Berubah, Israel Jadi Syarat Baru

Buntut dari kekacauan ini, otoritas Saudi memperpanjang penutupan bandara dan mengalihkan seluruh aktivitas sekolah menjadi daring (online) hingga hari Kamis.

Tak mau kalah, Houthi berkoar bahwa Arab Saudi membalas dengan menyerang bandara di ibu kota Yaman yang dikuasai pemberontak, Sana’a, pada hari Minggu. Namun, mereka tidak merinci kerusakan maupun jumlah korban. Jubir Houthi menyebut serangan udara Saudi di Sana’a itu menghantam sebuah rumah, menewaskan satu anak, dan melukai enam orang lainnya.

Di jagat maya, video amatir merekam kepanikan mencekam. Para pelancong tampak kocar-kacir berjalan melewati puing-puing bangunan di Bandara Riyadh dengan iringan raungan sirene. Tragedi rudal ini merenggut nyawa warga dari berbagai negara: empat warga Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing satu warga Palestina, AS, Mesir, Yordania, Suriah, dan Sudan.

Malam Minggunya, teror terus berlanjut. Otoritas Saudi mengonfirmasi bahwa Bandara Internasional Raja Fahd di kota timur Dammam turut diserang. Otoritas penerbangan sipil negara itu berkicau di X: “Penilaian atas kerusakan dan verifikasi keselamatan fasilitas bandara masih berlangsung, berkoordinasi dengan otoritas terkait.”

Juru Bicara Koalisi pimpinan Saudi di Yaman, Mayjen Turki al-Maliki, menjanjikan pembalasan. Ia menegaskan koalisi akan “merespons dengan tegas” gempuran brutal tersebut.

H2: Ancaman Mengerikan: “Yang Terburuk Belum Terjadi”

Alih-alih gentar, Houthi justru melipatgandakan ancamannya pada hari Minggu. Mereka menakut-nakuti maskapai penerbangan, penumpang, hingga staf bandara agar angkat kaki dari bandara-bandara Saudi. Kelompok pemberontak ini bahkan mengancam “yang terburuk belum terjadi” jika aksi militer Saudi di Yaman terus berlanjut.

“Kami memperbarui peringatan kami kepada semua maskapai penerbangan, pakar, pegawai, pekerja, dan pelancong agar tidak menggunakan bandara dan wilayah udara Saudi, karena mereka rentan terhadap serangan dan telah menjadi teater operasi (medan tempur) pasukan kami,” ancam Houthi di X.

Trump sendiri sebelumnya menyebut akan menghubungi Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman, pasca-serangan awal di bandara. Sejauh ini, keterlibatan AS sebatas bantuan intelijen dan penentuan target, dengan sekitar 200 penasihat militer nongkrong di Arab Saudi. AS belum pernah terjun langsung bertempur melawan Houthi.

Baca juga :  Trump Kena Batunya! AS Balikin Rp1.466 Triliun Gara-Gara Tarif Impor

Jika AS nekat turun gunung secara langsung, Houthi berpotensi kumat menargetkan kapal-kapal yang melintasi Selat Bab al-Mandab, jalur vital tempat 10% barang maritim global berlalu lalang. Langkah ini juga bakal bikin Washington makin terperosok ke dalam rawa perang Timur Tengah, di saat publik Amerika sudah muak dengan konflik Iran yang tak kunjung usai. Apalagi, Trump tengah dipusingkan oleh pemilu paruh waktu di bulan November, di mana perang yang tidak populer dan lonjakan harga di dalam negeri sangat mengancam nasib partainya.

H2: Dunia Mengutuk, Korban Sipil Berjatuhan

Di lapangan, Arab Saudi sebenarnya terus membombardir Houthi di Yaman melalui serangan udara. Kementerian Kesehatan versi pemerintah Houthi mengklaim bahwa serangan udara koalisi dalam enam pekan terakhir telah membunuh 91 warga Yaman dan melukai 168 lainnya, di mana 60% di antaranya disebut-sebut sebagai perempuan dan anak-anak.

Sementara itu, kisah tragis menyelimuti para korban jatuhnya rudal di Bandara Riyadh. Kedutaan Besar India mengonfirmasi salah satu warganya tewas setelah terluka dalam serangan hari Sabtu. TV pemerintah Mesir melaporkan bahwa warga wanitanya yang tewas adalah pramugari maskapai Saudi Flynas bernama Azza Ramzy (28).

Baca juga :  Capital One Bongkar Alasan Tutup Rekening Trump Organization, Terkait Kajian Anti Pencucian Uang

Kisah memilukan juga datang dari Buthaina Ahmad Oweida (56), seorang janda empat anak asal Suriah yang tewas dalam serangan itu. Keponakannya, Nisreen Oweida, menceritakan kepada Associated Press bahwa bibinya meninggalkan provinsi Idlib demi lari dari perang saudara Suriah. Buthaina sudah lima tahun tinggal di Mekkah dan meregang nyawa saat bersiap pulang usai menjenguk saudara perempuannya di Riyadh.

Serangan biadab ke bandara sipil ini memicu gelombang kecaman internasional. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres hingga Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen melontarkan kutukan keras.

“Serangan oleh proksi Iran mendorong wilayah tersebut ke dalam spiral kekerasan,” kecam von der Leyen di X. “Mereka mendestabilisasi simpul transportasi dan energi global yang krusial.”

Intensitas gempuran Houthi yang makin buas terhadap Riyadh dan infrastruktur energinya sukses memancing campur tangan asing yang lebih besar. Pada hari Senin, Arab Saudi, Pakistan, dan Turki menerbitkan pernyataan bersama untuk mempercepat implementasi pakta pertahanan mutlak mereka, termasuk mempercepat pengerahan militer ke dalam Kerajaan Saudi.

Inggris tak ketinggalan, menyatakan siap memberikan dukungan militer defensif ke Riyadh, termasuk pengisian bahan bakar untuk pesawat yang bertugas mencegat rudal Houthi. Arab Saudi terpaksa meminta bala bantuan tambahan dari Prancis, Mesir, Inggris, dan Pakistan lantaran stok rudal pencegat mereka mulai menipis.

Rentetan kekacauan ini bermula saat Houthi melancarkan operasi militer untuk merebut pesisir Laut Merah Yaman awal September lalu, merobek gencatan senjata usulan PBB tahun 2022. Perang panjang yang dikomandoi koalisi internasional pimpinan Saudi sejak 2015—pasca Houthi menggulingkan pemerintah Yaman—kini tampaknya masih jauh dari kata usai.