Hujan Rudal di Bandara Riyadh: 12 Tewas, Ratusan Luka, Trump Siap Turun Gunung Gempur Houthi!
DIKSIMERDEKA.COM RIYADH Tragedi Serangan Houthi di Riyadh kembali menebar horor berdarah di ibu kota Arab Saudi. Serangan rudal mematikan menghantam Bandara Internasional King Khalid pada Minggu (11/10/2026) dini hari, menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Otoritas penerbangan sipil melaporkan sejumlah korban luka kini dalam kondisi kritis. Koalisi pimpinan Arab Saudi langsung menuding pemberontak Houthi asal Yaman yang disokong Iran sebagai dalang di balik teror ini.
Sebuah proyektil rudal sukses menjebol kompleks bandara, tepatnya menghantam Terminal 3 dan 4 yang difungsikan untuk penerbangan domestik.
Tragedi Serangan Houthi di Riyadh ini tidak pandang bulu. Pernyataan resmi pemerintah Saudi merinci belasan nyawa yang melayang: empat warga negara Arab Saudi, dua warga Bangladesh, serta masing-masing satu warga Palestina, Amerika Serikat, Mesir, Yordania, Suriah, dan Sudan. Saat ini, ratusan korban luka tengah berjuang di berbagai rumah sakit setempat.
Trump Panas, AS Ancam Ikut Campur
Melihat nyawa warga negaranya ikut melayang, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, langsung meradang. Ia menyatakan sedang mengevaluasi opsi apakah militer AS perlu ikut campur membantu Arab Saudi menggempur Houthi di Yaman.
“Kami mungkin (akan bergabung). Kami akan meninjaunya,” tegas Trump. “Kami baru saja mengetahui serangan terbaru ini. Jadi kami akan membuat keputusan. Kami bergerak sangat cepat.”
Senada dengan sang Presiden, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, melontarkan kecaman keras. Rubio menyebut serangan itu sebagai tindakan yang “sangat tercela” dan menekankan bahwa “mereka harus berhenti sekarang”.
Kepanikan di Terminal dan Dampak Meluas
Kengerian di lokasi kejadian tergambar jelas dari kesaksian para calon penumpang. Ledakan keras memecah antrean, menyebarkan pecahan kaca dan kepanikan massal.
“Saya berada di gate 403,” ujar salah seorang saksi mata di terminal domestik kepada kantor berita Agence France-Presse. “Saya melihat gate 401 dihantam, saya melihat orang-orang terluka di depan mata saya. Semua orang berlarian.” Keluarga dari salah satu korban menyebut kerabatnya menderita luka di bahu dan lengan akibat tertembus pecahan kaca.
Serangan ini rupanya dilakukan secara sporadis. Koalisi Saudi menyebut sebuah proyektil lain juga jatuh di dekat Bandara Internasional King Fahd di Dammam, yang selama ini menjadi rute alternatif penting di tengah rentetan serangan ke Riyadh.
Buntut dari krisis keamanan ini, Kementerian Pendidikan Saudi menginstruksikan seluruh sekolah di Riyadh beralih ke sistem pembelajaran jarak jauh (daring) selama sepekan penuh. Insiden hari Sabtu ini menandai puncak eskalasi serangan rudal Houthi, di mana dalam pekan ini saja bandara Riyadh sudah dua kali dibombardir—meninggalkan korban jiwa dan pesawat yang rusak parah. Houthi semakin brutal menyerang bandara, fasilitas minyak, dan kapal tanker Saudi semenjak gencatan senjata kolaps pada Juli lalu.
Adu Klaim di Selat Bab al-Mandab: Siapa Menang?
Teror di jantung Saudi ini terjadi bersamaan dengan klaim kemenangan kubu pemerintah Yaman yang diakui PBB atas perebutan kembali Selat Bab al-Mandab dari tangan Houthi. Namun, laporan di lapangan masih simpang siur.
Juru bicara Houthi menepis kekalahan tersebut dengan mengklaim bahwa pasukan pro-Saudi di Aden justru telah dibantai. “Mereka ditargetkan dengan sejumlah besar rudal balistik, dukungan artileri, dan senjata berat, yang mengakibatkan kehancuran lebih dari 22 kendaraan lapis baja dan menewaskan serta melukai puluhan orang, termasuk sejumlah komandan,” koar Houthi. Mereka menambahkan, lebih dari 30 ambulans mondar-mandir di Aden untuk mengangkut pasukan “musuh Saudi”.
Sebaliknya, Duta Besar Saudi untuk Yaman, Mohammed al-Jaber, mengklaim kemenangan mutlak. “Jumat yang penuh berkah dan kemenangan bagi setiap warga Yaman dan Arab. Bab al-Mandab telah dibersihkan dari sisa-sisa milisi teroris Houthi.”
Presiden Dewan Transisi Selatan (STC), Aidarous al-Zubaidi, juga sesumbar bahwa Pulau Perim dan wilayah pesisir telah direbut kembali. Namun, juru bicara militer resmi pasukan pro-PBB, Waddah al-Dabish, mencoba realistis dengan menyebut baru separuh wilayah yang berhasil dikuasai, seraya mengklaim ribuan milisi Houthi tewas setelah garis pertahanan mereka ditembus.
Pulau Perim seluas 13 kilometer persegi ini sangat vital karena mengontrol jalur lalu lintas dari Laut Merah ke Teluk Aden hingga Samudra Hindia. Houthi yang menguasai selat itu sejak dua pekan lalu telah memblokir semua lalu lintas komersial yang berafiliasi dengan Saudi.
Di tengah ambisi Saudi untuk memamerkan kemenangan militer kepada sekutu Barat, Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, memberikan peringatan pahit kepada Dewan Keamanan PBB di New York. Ia menegaskan bahwa Yaman kini telah jatuh kembali ke dalam jurang perang berskala penuh, dan korban utamanya lagi-lagi adalah perempuan dan anak-anak.

Tinggalkan Balasan