DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Provinsi Bali akan menggelar Musyawarah Daerah (Musda) XV di InterContinental Bali Resort, Jimbaran, 16 Oktober 2026.

Ketua ASITA Bali I Putu Winastra menjadi satu-satunya calon yang mendaftar dalam proses penjaringan ketua periode 2026-2031.

Ketua Panitia Pengarah atau Steering Committee Musda XV ASITA Bali, I Ketut Ardana mengatakan proses penjaringan calon ketua telah dilakukan sesuai mekanisme organisasi.

Ardhana mengatakan proses penjaringan diawali dengan pengumuman dan pendaftaran calon ketua sejak 24 September hingga 2 Oktober 2026.

Namun hingga 30 September 2026 kata Ardana, baru Winastra yang mendaftarkan diri.

Panitia pun kemudian kembali mengingatkan seluruh anggota mengenai pendaftaran sebagai calon Ketua ASITA Bali.

Meski demikian, hingga batas akhir pendaftaran pada 2 Oktober 2026 pukul 18.00 WITA, tidak ada anggota lain yang mendaftarkan diri.

Baca juga :  Wisman ke Bali Tembus Rekor 7,1 Juta di 2025, Menpar Apresiasi Kinerja Gubernur Koster

“Karena hanya terdapat satu calon, tentu nanti pada 16 Oktober itu akan terjadi pemilihan ketua secara aklamasi,” kata Ardana dalam konferensi pers di Gedung BTB, Kamis (8/10/2026).

Sementara itu, Ketua Panitia Musda XV ASITA Bali, IG Ayu Kade Purnamawati, mengatakan Musda ditargetkan diikuti 250 biro perjalanan wisata (BPW) dari total 371 anggota ASITA Bali.

“Per hari ini yang sudah register sebanyak 223 peserta anggota aktif ASITA Bali, baik full member maupun associate member,” ujarnya.

Selain anggota ASITA Bali, Musda XV akan dihadiri Ketua Umum DPP ASITA, Gubernur Bali, Dinas Pariwisata Provinsi Bali, wali kota dan bupati se-Bali, Bali Tourism Board, serta sejumlah pemangku kepentingan dan mitra industri pariwisata.

Baca juga :  Pesona Negari 2025 Siap Digelar, Angkat Potensi Kuliner dan Budaya Desa

Sebelumnya, dalam konfrensi pers Winastra menyampaikan gagasan repositioning pariwisata Bali yang mencakup repositioning kelembagaan dan destinasi.

Dari sisi kelembagaan, ASITA ingin memperkuat posisi organisasi sebagai wadah bagi pelaku usaha perjalanan wisata yang legal dan profesional.

Menurut Winastra, ASITA tidak hanya perlu memperjuangkan kepentingan anggotanya, tetapi juga memberikan kontribusi dan solusi terhadap berbagai kebijakan pariwisata Bali.

“ASITA harus semakin solid sebagai organisasi yang mewadahi pelaku usaha perjalanan wisata yang legal dan profesional,” ujarnya.

Sementara dari sisi destinasi, ASITA Bali mendorong agar aktivitas pariwisata tidak terus terkonsentrasi di Bali Selatan. Winastra menilai Bali Utara, Bali Timur, dan Bali Barat memiliki potensi wisata yang besar dan perlu dikembangkan melalui perencanaan yang baik.

Baca juga :  ASITA Bali Gelar Musda 16 Oktober 2026, Bahas Repositioning Pariwisata Bali

Menurut dia, pengembangan destinasi di luar Bali Selatan akan memberikan lebih banyak pilihan bagi wisatawan sekaligus membuka peluang agar manfaat ekonomi pariwisata dapat dirasakan secara lebih merata.

“Ini bukan hanya persoalan memindahkan wisatawan. Ini adalah upaya mengurangi tekanan di satu wilayah sekaligus membuka peluang ekonomi di wilayah lainnya,” katanya.

Winastra mengatakan berkembangnya destinasi baru juga akan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal, mulai dari UMKM, transportasi, akomodasi, restoran, pemandu wisata hingga sektor ekonomi kreatif.

Karena itu, pemerataan pariwisata dinilai bukan sekadar strategi pengembangan destinasi, melainkan bagian dari upaya memperluas kesempatan ekonomi bagi masyarakat Bali.

Reporter: Agus Pebriana