Operasi Interpol Sita 650 Ton Narkoba, Ribuan Liter Etomidate Modus Vape Ditemukan di Indonesia
Operasi Lionfish-Mayag IV Selamatkan 89,6 Juta Nyawa dari Potensi Dosis Fatal
DIKSIMERDEKA.COM JAKARTA – Operasi penegakan hukum lintas negara yang dipimpin oleh INTERPOL, bersandi Lionfish-Mayag IV, berhasil menyita 650 ton narkoba, bahan prekursor, dan produk farmasi ilegal. Operasi yang menargetkan pasar narkoba sintetis global pada 18 Mei hingga 4 Juni ini ditaksir berhasil mencegah beredarnya 89,6 juta dosis fatal ke pasar konsumen.
Dalam operasi yang melibatkan 17 negara tersebut, Indonesia menjadi salah satu titik temuan yang signifikan. Otoritas penegak hukum Indonesia melaporkan penyitaan 1.975 liter etomidate.
Secara medis, etomidate merupakan obat yang digunakan untuk keperluan anestesi. Namun, temuan ini mengonfirmasi penyalahgunaan zat tersebut di pasar Asia sebagai narkoba rekreasi yang dikonsumsi melalui rokok elektrik atau vape seperti yang dilansir dari press release Interpol, Selasa (6/10/2026).
Secara global, Operasi Lionfish-Mayag IV mencatatkan 7.247 penyitaan dengan estimasi nilai mencapai USD 1,1 miliar. Ganja dan cannabinoid menyumbang porsi terbesar, yakni 94 persen dari total volume, yang mayoritas didorong oleh empat penyitaan besar di Filipina.
Pergeseran tren terjadi pada kategori narkoba sintetis. Untuk pertama kalinya dalam sejarah operasi INTERPOL, penyitaan ketamin melampaui sabu-sabu (methamphetamine). Sebanyak 17 ton ketamin berhasil diamankan, mewakili sekitar 40 persen dari total perkiraan nilai sitaan. Sementara itu, sitaan sabu-sabu dan pil Ya Ba tercatat sebanyak 8,2 ton.
Data intelijen dari operasi ini mengonfirmasi bahwa Asia Tenggara, khususnya wilayah Mekong, tetap menjadi pusat utama pembuatan narkoba sintetis global. Otoritas Myanmar mencatat rekor penyitaan tunggal terbesar dalam operasi ini dengan temuan 10,6 juta pil Ya Ba (campuran sabu dan kafein).
Selain etomidate di Indonesia, tren penggunaan narkoba melalui vape juga terlihat dari penyitaan 724 kg Dimethyltryptamine (DMT) dalam bentuk cair yang ditujukan untuk vape. Jumlah ini merupakan rekor sitaan DMT terbesar dalam operasi kepolisian, yang banyak dicegat oleh otoritas di Amerika Serikat dan Australia melalui paket-paket kecil dari Eropa.
Direktur Kejahatan Terorganisir dan Berkembang INTERPOL, David Caunter, menyatakan bahwa pergeseran tren ini menuntut kerja sama global yang lebih ketat.
“Lonjakan penyitaan ketamin dan pertumbuhan narkoba berbasis vape seperti etomidate dan DMT menunjukkan betapa cepatnya perdagangan narkoba sintetis berkembang,” kata Caunter. “Jaringan kriminal melintasi perbatasan dan respons kita harus melakukan hal yang sama. Narkoba menghancurkan kehidupan dan komunitas, dan para penjahat yang mengendalikan perdagangan ini tidak melambat. Kita juga tidak boleh melambat.”
Operasi ini juga mengungkap meluasnya fasilitas produksi narkoba mematikan di Asia Tenggara. Di Malaysia, kepolisian menggerebek sebuah laboratorium aktif yang memproduksi fentanyl, lengkap dengan bahan kimia prekursor serta produk akhir dalam bentuk cair dan bubuk. Ini merupakan penyitaan pertama dari jenisnya di negara tersebut.
Selain itu, otoritas Tiongkok mengidentifikasi rute perdagangan maritim baru yang sebelumnya tidak terdokumentasi, dengan menyita 307 kg kokain dari Amerika Selatan yang dikirim melalui jalur laut, menghindari koridor tradisional trans-Atlantik.
Operasi Lionfish-Mayag IV didanai oleh Badan Kepolisian Nasional Korea dan melibatkan aparat dari Australia, Kamboja, Tiongkok, Ceko, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Laos, Malaysia, Myanmar, Belanda, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Thailand, Amerika Serikat, dan Vietnam.

Tinggalkan Balasan