Candaan Tarik Kursi: Dokter IPB Peringatkan Ancaman Cedera Sumsum Tulang Belakang hingga Gagal Napas
DIKSIMERDEKA.COM BOGOR Bermaksud memancing tawa, sebuah lelucon klasik di ruang kelas justru kerap berujung petaka. Candaan tarik kursi saat seseorang hendak duduk masih sering dijumpai di lingkungan sekolah. Korban yang jatuh terduduk berisiko mengalami benturan keras pada tulang belakang, sebuah kondisi krisis yang tak bisa disepelekan hanya dengan kata “maaf”.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Citra Ariani, Sp KP, M Biomed, menyoroti bahaya mematikan di balik keisengan tersebut. Benturan keras akibat jatuh terduduk dapat memicu cedera sumsum tulang belakang atau Spinal Cord Injury (SCI). Kondisi ini terjadi ketika trauma fisik merusak sistem saraf pusat yang dilindungi oleh ruas-ruas tulang belakang.
Bukan sekadar memar biasa, SCI dapat merusak fungsi gerak, melumpuhkan sensorik tubuh, merusak refleks organ vital, hingga berpotensi merenggut nyawa korban.
Bom Waktu Bernama Cedera Sekunder
Kerusakan saraf akibat insiden tarik kursi tidak selalu berhenti saat benturan terjadi. Menurut dr Citra, trauma keras pada tulang belakang awalnya memicu cedera primer yang langsung merusak sel-sel saraf atau pembuluh darah penyuplai serabut saraf. Namun, bahaya sesungguhnya kerap mengintai setelahnya.
Korban akan menghadapi risiko cedera sekunder, yakni serangkaian reaksi biologis yang justru memperluas area kerusakan saraf melalui proses peradangan akut.
“Proses cedera sekunder dapat terjadi dari hitungan menit hingga berbulan-bulan setelah trauma terjadi,” jelas pakar ilmu biomedik fisiologi tersebut.
Akibatnya, korban bisa kehilangan fungsi sensorik, motorik, maupun keduanya secara permanen. Tubuh kehilangan kemampuan mendasar seperti merasakan sentuhan, mendeteksi suhu panas, hingga mati rasa terhadap nyeri, yang berujung pada kelemahan otot hingga kelumpuhan total.
“Spinal cord injury juga dapat mengganggu fungsi saraf otonom. Salah satunya adalah hilangnya kontrol untuk menahan buang air kecil. Nyeri neuropatik akibat cedera sekunder pun dapat bertahan lama dan mengganggu kualitas hidup,” tambahnya.
Menipu Mata, Mengancam Nyawa
Kritisnya penanganan cedera tulang belakang sering kali terhambat oleh kondisi fisik korban yang tampak “baik-baik saja” pasca-jatuh. Dr Citra membeberkan bahwa cedera tulang belakang tidak selalu langsung menunjukkan gejala berat. Korban yang masih sadar dan mampu diajak bicara setelah terjatuh belum tentu terbebas dari masa kritis.
Jika kerusakan saraf merambat ke area yang lebih vital, nyawa korban menjadi taruhannya.
“Pada cedera servikal yang berat, juga terdapat kemungkinan gagal napas karena gangguan saraf yang mengendalikan otot-otot pernapasan,” ujar dr Citra memperingatkan.
Pantang Asal Pindah dan Penanganan Darurat
Mengingat tingginya risiko kecacatan hingga kematian, kecepatan dan ketepatan penanganan menjadi kunci. Korban yang jatuh terduduk akibat candaan tarik kursi atau trauma punggung lainnya harus segera mendapatkan intervensi medis profesional.
Satu aturan emas yang tak boleh dilanggar: korban tidak boleh dipindahkan sembarangan tanpa stabilisasi leher dan punggung yang standar. Evakuasi asal-asalan justru berpotensi memperparah robekan atau tekanan pada saraf sumsum tulang belakang.
Masyarakat dituntut waspada jika korban menunjukkan tanda bahaya atau red flags. Gejala tersebut meliputi nyeri punggung yang terasa sangat hebat, sensasi menekan di area leher atau kepala, kelumpuhan yang datang tiba-tiba, kebas atau mati rasa (baal), hilangnya kendali buang air, hingga menurunnya tingkat kesadaran.
Lelucon fisik yang membahayakan nyawa sudah sepatutnya dihapus dari budaya pergaulan, terutama di institusi pendidikan. “Orang tua dan guru perlu memberi contoh kepada anak-anak untuk melakukan kegiatan permainan atau olahraga secara aman,” pungkas dr Citra.

Tinggalkan Balasan