Warning Pakar IPB! Perut Kenyang Nasi Saja Tak Cukup, SDM Indonesia Terancam Loyo Tanpa Protein Hewani
DIKSIMERDEKA.COM BOGOR Bicara soal masa depan Indonesia, para elite dan politisi biasanya sibuk berkoar-koar soal inovasi teknologi, pertumbuhan ekonomi, hingga megaproyek infrastruktur. Namun, ada satu fondasi vital yang justru kerap luput dari radar dan dianggap sepele: kualitas isi piring generasi penerus bangsa.
Faktanya, fondasi sejati dari pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang tangguh bukanlah sekadar sekolah gratis, melainkan kecukupan protein hewani seperti susu, daging, dan telur. Jika urusan gizi ini terus dianaktirikan, jangan kaget jika daya saing SDM kita di kancah global nanti bakal kehabisan napas.
Pakar Genetika Ekologi dari IPB University, Prof Ronny Rachman Noor, melempar kritik keras soal kebiasaan makan masyarakat kita. Menurutnya, masih banyak orang tua yang merasa sudah tenang dan aman asalkan perut anaknya penuh dijejali nasi. Asupan protein hewani malah dikesampingkan dan dianggap barang mewah yang tak wajib ada.
Ilusi Kenyang: Beda Nasib Nasi dan Protein Hewani
Asal anak tak rewel dan perut buncit terisi karbohidrat, orang tua kerap merasa tugasnya selesai. Padahal, urusan gizi bukan cuma soal membungkam rasa lapar sesaat.
“Tidak ada yang menyangkal bahwa nasi bisa membuat anak-anak kita kenyang dan berhenti menangis hari ini. Namun, dalam 20 tahun ke depan, susu, daging, dan telur akan membantu anak-anak kita menjadi lebih cerdas serta memiliki fisik yang sehat dan berkualitas,” ujar Prof Ronny dengan tajam.
Secara medis, tubuh manusia menuntut 20 jenis asam amino. Sembilan di antaranya masuk kategori esensial yang tak bisa diproduksi sendiri oleh tubuh alias wajib disuplai dari meja makan. Lantas, bagaimana dengan tahu dan tempe yang selama ini jadi “primadona” lauk murah meriah?
“Dari segi kualitas gizi, tahu dan tempe merupakan sumber protein, tetapi tidak selengkap protein hewani dari susu, daging, dan telur. Produk ternak disebut sumber protein lengkap karena menyediakan semua asam amino esensial dalam satu hidangan,” jelas Prof Ronny membedah mitos gizi di masyarakat.
Telur, Daging, dan Susu: ‘Senjata’ Cetak Otak Cemerlang
Jangan remehkan sebutir telur. Di balik harganya yang merakyat, telur menyimpan 6 gram protein super lengkap dan nyaris seluruh vitamin krusial. Telur punya nilai biological value menyentuh angka 100, artinya paling mudah diserap tubuh. Ditambah lagi, ada kandungan kolin untuk menajamkan memori, serta Lutein dan DHA yang jadi ‘bahan bakar’ utama otak dan retina.
Bagaimana dengan daging? Zat besi pada daging mampu diserap tubuh hingga 25 persen, membanting telak zat besi dari sayur bayam yang cuma terserap 5 persen. Jika daging dijauhi, ancaman penyakit siap mengintai kaum muda kita.
“Kekurangan zat besi akan menyebabkan anemia dan otot juga akan kekurangan oksigen. Data empiris menunjukkan bahwa 1 dari 3 remaja putri di Indonesia mengalami anemia, yang berdampak langsung pada produktivitas dan kualitas belajar,” jelas Prof Ronny memaparkan realita miris di lapangan.
Belum lagi bicara soal susu. Kalsium, fosfor, dan protein dalam susu adalah kunci agar anak tumbuh menjulang tinggi. Sayangnya, rapor Indonesia di sektor ini sangat jeblok.
“Dari sisi konsumsi susu, Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan negara lain. Konsumsi susu per kapita di Indonesia hanya 5 liter/tahun, sedangkan konsumsi susu orang Belanda mencapai 100 liter/tahun per kapita. Sehingga, jika dibandingkan, tinggi badan orang Indonesia yang rata-rata 158 cm masih kalah jauh dari rata-rata tinggi badan orang Belanda yang mencapai 183 cm,” ungkapnya.
Kalau Abai, Bonus Demografi Bisa Berubah Jadi Bencana Demografi
Sikap abai terhadap konsumsi protein hewani ini bukan tanpa harga mahal. Mengacu pada Survei Status Gizi Indonesia 2023, 1 dari 5 anak Indonesia masuk jurang stunting alias bertubuh pendek dengan otak yang gagal berkembang maksimal. Angka stunting yang menembus 21,5 persen ini adalah rapor merah sekaligus bukti nyata kealpaan negara dan masyarakat dalam menyediakan protein hewani yang layak.
“Perlu dipahami bahwa golden age untuk membentuk otak yang berkualitas adalah usia 0 sampai dengan 5 tahun karena pada fase ini otak tumbuh sebesar 80%. Tanpa protein hewani yang cukup pada fase ini, sel otak tidak akan dapat terbentuk secara optimal,” tegas sang profesor.
Bila gizi terus-terusan memble, impian mulia soal bonus demografi hanya akan jadi pepesan kosong.
“Jadi, bonus demografi yang didengungkan akan menguntungkan Indonesia pada tahun 2020 mendatang, tidak akan berarti banyak jika produktivitas generasi saat ini rendah karena anemia, kurang fokus, serta tidak menjaga kesehatan tubuh dengan baik,” simpulnya kritis.
Susu, daging, dan telur harus mulai dilihat sebagai investasi negara, bukan semata pengganjal perut. Masa depan bangsa dipertaruhkan di atas piring makan anak-anak kita setiap harinya.
“Pengabaian konsumsi protein akan menurunkan daya saing SDM Indonesia. Protein hewani penting untuk membangun otak tajam, tubuh sehat, dan sumber daya manusia kompetitif di tingkat global,” tutup Prof Ronny memberi peringatan keras.

Tinggalkan Balasan