Bukan Mistis, Ini Fakta Ilmiah Suara Letusan Melompat Ratusan Kilometer

BANDUNG DIKSIMERDEKA.COM – Warga Bandung dan sekitarnya sempat dibikin senam jantung gara-gara suara dentuman misterius yang belakangan terkonfirmasi berasal dari erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Jarak ratusan kilometer seolah tak ada artinya, suara letusan itu tembus menggelegar hingga ke Tanah Pasundan.

Menjawab kehebohan publik yang mulai mengaitkan hal ini dengan rumor tak berdasar, Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SSi, MSi, langsung turun gunung membeberkan fakta ilmiahnya. Menurutnya, fenomena lompatan suara ini murni permainan alam, tepatnya efek dari lapisan inversi suhu di atmosfer kita.

“Kondisi atmosfer, khususnya saat terjadi lapisan inversi suhu, dapat membuat gelombang suara dari letusan merambat lebih jauh dan terdengar lebih kuat di permukaan,” ujar Sonni mematahkan segala spekulasi liar masyarakat.

Secara logika cuaca normal, makin tinggi sebuah tempat, suhu udaranya harusnya makin dingin. Namun, dalam kondisi inversi, hukum alam ini seolah terbalik: udara di atas justru lebih hangat daripada di permukaan tanah.

“Lapisan inversi terbentuk ketika udara di dekat permukaan mengalami pendinginan lebih cepat dibandingkan udara di atasnya. Pendinginan ini dapat terjadi akibat pendinginan radiatif di permukaan, masuknya adveksi udara dingin dan kering, maupun proses meteorologis lainnya,” jelasnya secara gamblang.

Perbedaan suhu yang tak wajar antar-lapisan langit inilah yang mempermainkan gelombang akustik dari sang gunung. Suara letusan yang sejatinya menyebar ke atas langit malah mengalami pembiasan (refraksi) atau pemantulan (refleksi) dan dipaksa kembali turun ke bumi.

“Pada kondisi inversi, pembelokan gelombang akustik menyebabkan lintasan sinar gelombang melengkung kembali ke arah bawah sehingga suara dari sumber yang jauh masih dapat terdengar di permukaan,” ujarnya.

Kondisi ini makin parah gara-gara kontur wilayah Bandung yang berbentuk cekungan raksasa. Cekungan ini ibarat mangkuk yang menampung dan menjebak udara dingin di malam atau pagi hari, menciptakan arena bermain yang sempurna bagi gelombang suara Anak Krakatau.

“Lapisan inversi dapat membuat suara letusan terdengar lebih jauh. Secara sederhana, kondisi ini seperti terbentuknya ruang yang membantu mempertahankan energi suara sehingga tidak langsung menyebar ke atmosfer bagian atas,” katanya.

Topografi wilayah juga sangat menentukan nasib rambatan suara ini. “Cekungan Bandung merupakan salah satu wilayah yang secara topografis rentan mengalami akumulasi udara dingin. Ketika kondisi atmosfer mendukung terbentuknya inversi, wilayah ini dapat menjadi jalur yang memungkinkan energi suara merambat lebih jauh,” ungkapnya.

Jadi, jangan buru-buru panik apalagi percaya hoaks jika tiba-tiba kaca jendela, pintu, atau atap rumah ikut bergetar hebat saat dentuman terjadi. Energi gelombang yang merambat dari Selat Sunda ke cekungan Bandung ini masih punya sisa tenaga yang cukup untuk menggoyangkan benda padat. Fakta ilmiah ini membuktikan bahwa dentuman keras yang terdengar di telinga warga tidak melulu berarti sumber bencananya ada di depan mata. Semuanya hanya kombinasi mematikan dari aktivitas vulkanik, cuaca atmosfer yang sedang ‘terbalik’, dan mangkuk topografi wilayah.