LAMPUNG SELATAN DIKSIMERDEKA.COM – Kerasnya ombak Selat Sunda kembali menyimpan tanda tanya besar. Lima jurnalis nasional yang tengah menjalankan tugas liputan dan dokumentasi menuju kawasan Gunung Anak Krakatau dilaporkan hilang kontak. Memasuki hari kedua, Kamis (10/9/2026), operasi SAR gabungan terus dipacu, menyisir perairan di sekitar Pulau Sebesi, Lampung Selatan.

Keberangkatan rombongan dari Pantai Marina Carita, Pandeglang, Banten, awalnya murni misi jurnalistik. Kapal tersebut diisi oleh Arta selaku nakhoda, Bonsai sebagai pemandu, dan Kasurahman di posisi ABK.

Mereka membawa lima awak media, yakni M Bagus Khoirunnas (ANTARA), Ari Basuki (Merdeka), Yudhis (iNews), Daus (Anadolu/Kompas), serta Donal (jurnalis freelance). Nahas, alih-alih pulang membawa karya visual dari sisa erupsi Krakatau, kapal yang mereka tumpangi justru lenyap dari radar komunikasi.

Baca juga :  25 Jam Mengamuk, Erupsi Anak Krakatau Mereda, Status Tetap Siaga!

Menantang Maut di Jalur Anak Krakatau

Merespons insiden memilukan ini, Satpolairud Polres Lampung Selatan langsung tancap gas. Bersama armada KP XXV-2003 Bakauheni, jajaran TNI AL, dan Basarnas, tim membelah lautan dengan Rigid Inflatable Boat (RIB) dan perahu karet.

Area pencarian dipecah ke dalam dua titik krusial berdasarkan riwayat komunikasi terakhir. Kapal RIB Basarnas membelah rute hingga menembus arah Pulau Sebesi, sementara armada perahu karet menyapu titik-titik rawan di area perairan Selat Sunda.

Kasat Polairud Polres Lampung Selatan Iptu Panpan Hermayadi menegaskan langkah taktis timnya di lapangan.

“Personel kami bersama Tim SAR gabungan melakukan pencarian di sekitar Pulau Sebesi. Kami terus berkoordinasi dengan unsur terkait dan mengikuti perkembangan informasi di lapangan untuk menentukan titik pencarian berikutnya,” ujar Panpan.

Baca juga :  25 Jam Mengamuk, Erupsi Anak Krakatau Mereda, Status Tetap Siaga!

Fokus Pencarian dan Kendala Cuaca di Lapangan

Bukan rahasia lagi jika cuaca dan arus Selat Sunda kerap berubah buas dan tak bisa ditebak. Keputusan operasional di laut tidak bisa hanya mengandalkan insting, melainkan kalkulasi teknis yang presisi.

“Pencarian di laut tentu membutuhkan koordinasi dan perhitungan yang matang. Kami menyesuaikan penyisiran dengan perkembangan informasi, kondisi cuaca, arus dan situasi di perairan,” katanya.

Dalam operasi ekstrem semacam ini, mata dan telinga masyarakat lokal adalah ujung tombak. Aparat tak mau bekerja sendirian. Jaring informasi diperluas dengan merangkul syahbandar dan pemerintah Desa Pulau Sebesi.

“Koordinasi dengan Syahbandar dan aparat Desa Pulau Sebesi juga kami lakukan. Informasi dari masyarakat pesisir maupun nelayan sangat penting untuk membantu mempersempit area pencarian,” ujar Panpan.

Baca juga :  25 Jam Mengamuk, Erupsi Anak Krakatau Mereda, Status Tetap Siaga!

Namun, di tengah urgensi menyelamatkan nyawa, SOP penyelamatan tetap menjadi panglima.

“Kami tetap mengutamakan keselamatan personel. Setiap pergerakan dilakukan berdasarkan koordinasi dan informasi terbaru dari Tim SAR gabungan,” katanya.

Imbauan Kritis untuk Nelayan dan Warga Pesisir

Hingga berita ini diturunkan, operasi SAR masih terus berlangsung. Publik dan keluarga kini hanya bisa menahan napas, menanti kabar baik yang kelak terbawa oleh ombak Selat Sunda. Satpolairud Polres Lampung Selatan memastikan koordinasi dengan Basarnas Banten dan instansi terkait tidak akan putus sampai nasib kedelapan penumpang kapal tersebut menemui titik terang.