Trump Janjikan USD 5.000 Kepada Setiap Warga AS Jika Partai Republik Menang Pemilu Sela
DALLAS DIKSIMERDEKA.COM – Tensi perpolitikan Amerika Serikat kian memanas menjelang pemilihan sela (midterms). Presiden Donald Trump melemparkan manuver yang menuai sorotan tajam sekaligus kontroversi. Dalam pidato maraton di konvensi pemilihan sela Partai Republik di Dallas, Trump menjanjikan uang tunai sebesarUSD 5.000 atau sekitar Rp87,7 juta bagi setiap warga negara dewasa AS asalkan Partai Republik berhasil memperoleh suara terbanyak di DPR dan Senat.
Proposal tak lazim yang diperkirakan akan menelan biaya fantastis lebih dari Rp17.541 triliun ini langsung memicu perdebatan etis. Namun, di balik janji selangit tersebut, tersingkap kepanikan nyata dari kubu Republik dalam menghadapi pemilu November mendatang.
“Jika Partai Republik menang, Anda menang bersama kami, dan Anda mendapatkan USD 5.000 ,” seru Trump di hadapan kerumunan pendukungnya seperti yang dilansir The Guardian . Dalam pidato berdurasi hampir dua jam itu, ia bahkan secara gamblang meminta para pemilih, “Berpura-puralah bahwa saya ada di surat suara.”
Bayang-bayang Popularitas yang Menurun
Gaya meledak-ledak khas Trump tetap mendominasi panggung. Diapit poster-poster bendera Amerika, ia mengklaim tanpa bukti bahwa periode keduanya merupakan “dua tahun paling sukses, secara finansial dan dalam segala hal lainnya, dalam sejarah kepresidenan.”
Dilansir dari CNN, meski tampil percaya diri, realitas politik di lapangan menunjukkan anomali.Tingkat persetujuan Trump yang merosot di angka 38% memicu boikot diam-diam, di mana banyak kandidat Republik di daerah pemilihan kompetitif memilih absen dari konvensi dua hari tersebut. Selain itu, ironi kursi kosong juga tak bisa disembunyikan. Meski Trump mengklaim dari atas panggung bahwa arena penuh sesak hingga banyak massa meluber ke luar, laporan pandangan mata jurnalis di lokasi justru menunjukkan banyak area kursi penonton yang melompong.”
Trump juga membakar panggung dengan retorika ketakutan jika Demokrat menang. “Ada awan kelam yang gila dan sakit di atas negara kita. Kita akan mengalahkan komunisme di Amerika,” tegasnya.
Ia menambahkan, “Jika kita kalah( republik-red) , Anda akan kehilangan perbatasan Anda, Anda akan kehilangan pemotongan pajak Anda, Anda akan kehilangan keselamatan dan keamanan Anda, Anda akan kehilangan kekayaan Anda.” ujarnya
Dari Perang Iran hingga Pertarungan Budaya
Pidato Trump tidak hanya menyoal urusan domestik. Ia turut membela kebijakan perangnya yang tidak populer di Iran. Trump memperingatkan Teheran untuk “jangan macam-macam” atau AS “harus menghantam mereka dengan sangat keras”. Ia berdalih intervensi militer perlu dilakukan karena Iran hanya berjarak “dua, mungkin tiga minggu lagi untuk memiliki senjata nuklir.”
Menariknya, panggung konvensi ini juga diwarnai gimmick ala ajang olahraga bela diri. Trump memilih diperkenalkan oleh dua petarung UFC, Bo Nickal dan Justin Gaethje. Gaethje bahkan memberikan analogi olahraga untuk memotivasi pemilih.
“Satu kesalahan yang saya buat dalam karier saya adalah menjadi terlena saat saya sedang dalam rentetan kemenangan beruntun,” ujar Gaethje. “Jika kita tidak sama bersemangatnya untuk memberikan suara dan menang dalam pemilihan sela ini seperti pada pemilihan presiden lalu, maka kita berisiko tersingkir.”
Kubu Demokrat tak tinggal diam merespons sirkus politik ini. Ketua Komite Nasional Demokrat, Ken Martin, melontarkan kritik pedas yang menyebut acara tersebut sebagai ajang untuk memuaskan “ego yang rapuh” sang presiden.
“Malam ini hanya mengkonfirmasi bahwa presiden adalah ‘bebek lumpuh’ yang gagal, yang menyeret partainya menuju kekalahan,” tandas Martin.
Partai Republik sebelumnya menjanjikan fokus pada isu penurunan biaya hidup dan keamanan perbatasan. Namun, rentetan pembicara justru lebih banyak menyerang Demokrat terkait hak-hak transgender, memberi sinyal kuat bahwa “perang budaya” akan menjadi senjata utama Republik menuju November.
“Saya memberi Anda banyak materi,” pungkas Trump di akhir pidatonya, sebelum kembali memohon satu hal kepada para pemilihnya. “Tolong, berpura-puralah bahwa saya sedang mencalonkan diri.”

Tinggalkan Balasan