GILA! Pakar Bongkar Rencana AI Bakal Musnahkan Seluruh Umat Manusia dalam 10 Tahun ke Depan!
Raksasa Teknologi Dituding Sengaja “Jual Nyawa” Demi Ambisi Gelar Juara!
JAKARTA DIKSIMERDEKA.COM— Bayangkan sebuah teknologi yang awalnya Anda kenal sekadar sebagai mesin pencari yang interaktif, namun di balik layar, para pengembangnya justru ketakutan setengah mati. Dalam kurun waktu 48 jam terakhir, gelombang peringatan tingkat tinggi mengguncang dua sisi Atlantik. Pertanyaannya: apakah kecerdasan super buatan (artificial superintelligence / ASI) benar-benar membawa ancaman yang jauh melampaui daya hancur senjata nuklir?
Ketakutan itu bukan sekadar bumbu fiksi ilmiah. Di Inggris, para anggota parlemen dan kaum bangsawan peers mulai jungkir balik memikirkan bahaya ketika AI melampaui kapasitas akal sehat manusia. Peringatan bernada nuklir ini dilontarkan langsung oleh mantan Menteri Pertahanan Des Browne serta Prof Stuart Russell, ilmuwan komputer terkemuka dari Universitas Berkeley.
Beatrice Fihn, peraih Nobel Perdamaian 2017 yang memimpin Kampanye Internasional Penghapusan Senjata Nuklir, melontarkan kritik tajam di hadapan para legislator.
“Ini bukan kali pertama kita berhadapan dengan kemampuan yang bisa berujung pada kematian kita semua.” katanya seperti dilansir The Guardian.
Sesi krusial di Westminster tersebut diinisiasi oleh Control AI, sebuah kelompok lobi yang mati-matian mendesak regulasi global. Mereka mendukung penuh rancangan undang-undang (RUU) yang diajukan oleh politisi Partai Buruh, Alex Sobel, guna melarang penciptaan kecerdasan super buatan (ASI).
Orang Dalam Pasrah: “Mereka Berjudi dengan Nyawa Kita!”
Tekanan moral ini mencapai puncaknya ketika seorang pegawai senior di perusahaan AI terkemuka, Anthropic, secara terbuka mengaku bahwa ada peluang lebih dari 10% teknologi tersebut bakal “membunuh seluruh umat manusia” dalam dekade mendatang. Ia bahkan memperingatkan bahwa perusahaannya tidak memiliki cetak biru pengamanan agar ASI selaras dengan keselamatan manusia.
Pernyataan itu diungkapkan oleh Evan Hubinger, pimpinan ilmu penyelarasan (alignment science) di Anthropic. Komentar tersebut dilontarkan menyusul pengunduran diri Jacob Coxon, peneliti berusia 28 tahun asal San Francisco yang sebelumnya malang melintang di OpenAI. Coxon secara telak menuding bahwa “kedua perusahaan tersebut tidak bertindak secara bertanggung jawab” dan tengah “memperjudikan nyawa kita.”
Coxon membeberkan bahwa risiko di tubuh Anthropic sebenarnya sudah dipahami betul, namun mereka terperangkap dalam lingkaran setan. “Mereka terkunci dalam perlombaan untuk menjadi yang pertama mencapainya.”
Di sisi lain, OpenAI merespons melalui pernyataan Kepala Ilmuwannya, Jakub Pachocki. “Koordinasi internasional mengenai pengembangan AI masa depan harus menjadi prioritas utama bagi pemerintah di seluruh dunia.”
Peneliti Anggap Manusia “Spesies Buangan”
Kelompok lobi Control AI sendiri disokong penuh oleh Jaan Tallinn, miliarder pendiri Skype yang menjuluki dirinya sebagai seorang “anti-ekstinctionist”. Tallinn mendedikasikan sebagian hartanya demi kampanye keselamatan AI setelah mendengar pernyataan mengerikan dari para eksekutif industri.
Berdasarkan estimasinya, sekitar 10 hingga 15 persen pekerja di lab-lab AI meyakini bahwa kecerdasan buatan ciptaan mereka adalah penerus yang jauh lebih layak ketimbang umat manusia.
“Seorang peneliti AI yang cukup terkenal berkata kepada saya, ‘Jaan, jangan khawatir soal ini. Manusia adalah spesies buangan.’ Dari pemahaman saya, dia baik-baik saja dengan kepunahan kita,” beber Tallinn.
Kendati demikian, respons di lapangan terbelah. Sejumlah kalangan akademisi meminta publik agar tidak gampang panik. Dr. Andrew Rogoyski dari Surrey Institute berpendapat bahwa sistem AI saat ini masih jauh dari kata serbaguna layaknya manusia. Senada dengan itu, Sandra Wachter dari Oxford Institute menegaskan bahwa skenario “Terminator” hanyalah distorsi. “Skenario Terminator adalah pengalihan perhatian besar dari masalah nyata seperti lingkungan dan disinformasi,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan