JAKARTA DIKSIMERDEKA.COM – Nasib ngenes menimpa mahasiswa di daerah-daerah yang sedang babak belur dihantam bencana. Di saat warga dan kampus kelimpungan berjuang bangkit dari puing-puing, pos anggaran dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) untuk menyelamatkan nasib pendidikan mereka ternyata masih zonk alias belum ada!

Fakta miris ini langsung memantik reaksi keras dari Senayan. Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti, langsung “menyemprot” Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto. Ia menyoroti tajam nihilnya alokasi anggaran khusus untuk mahasiswa dan kampus di daerah terdampak bencana. Padahal, urusan perut dan pemulihan saja sudah berat, apalagi bayar kuliah!

Dalam Rapat Kerja di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (7/9/2026), Esti melontarkan kritik pedasnya secara blak-blakan ke wajah sang menteri.

“Saya harus menyampaikan bahwa di dalam penganggaran ini (Anggaran Kemendikti Saintek Tahun 2027) Bapak (Menteri Brian Yuliarto) belum memperhitungkan bagaimana Dikti ini harus memberikan perhatian kepada mahasiswa yang berada di wilayah-wilayah atau dari wilayah yang terkena dampak bencana, padahal ini banyak,” ujar My Esti dengan nada tegas.

Nasib Kampus NTT: Gedung Hancur, Duit Cekak, UKT Tetap Jalan?

Kritik Esti bukan omong kosong. Ia membawa temuan lapangan yang bikin miris hasil kunjungan kerja Komisi X DPR RI ke Nusa Tenggara Timur (NTT) pascagempa bumi. Salah satu kampus, Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng, sampai harus ‘ngemis’ keringanan agar mahasiswanya dibebaskan dari jeratan Uang Kuliah Tunggal (UKT) setidaknya selama satu semester.

Menurut Esti yang juga anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR RI ini, melempar beban UKT ke pihak kampus yang juga sedang hancur lebur adalah sebuah kemustahilan. Pemerintah pusat harus turun tangan!

“Setidaknya satu semester ini minimal bebas dari UKT. Tapi kalau UKT ini dibebankan kepada perguruan tinggi, pasti enggak mampu Pak dalam situasi seperti ini. Maka dimana pos kita untuk bisa memberikan kepada mereka yang terkena dampak bencana ini?” tutur Esti tajam, mempertanyakan empati anggaran dari pihak kementerian.

Esti mengingatkan, recovery pascabencana itu butuh waktu panjang. Gak bisa diselesaikan dengan sulap dalam satu semester. Pemerintah wajib hadir dengan dompet anggaran yang memadai, jangan sampai mahasiswa putus kuliah gara-gara kantong negara yang “tutup mata” terhadap daerah langganan bencana.

Minta Kuota Daring: Kampus Hancur, Masa Depan Jangan Ikut Hancur!

Tak berhenti di urusan UKT, Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini juga menuntut kementerian putar otak soal perkuliahan darurat. Kampus yang gedungnya rusak parah jelas terpaksa beralih ke kuliah online atau daring. Masalahnya, kuliah daring butuh kuota internet, dan di tengah bencana, beli beras saja susah apalagi beli paket data.

Esti mendesak agar Kemendikti Saintek tidak pelit untuk menyiram bantuan kuota internet darurat bagi dosen dan mahasiswa korban bencana.

“Daring ini menggunakan kuota, mungkin tidak kita juga memberikan kuota kepada mereka? Meskipun kalau yang praktek-praktek mungkin agak susah, tapi menurut saya ini juga perlu kita pikirkan,” pungkasnya menutup kritik.

Kini, bola panas ada di tangan Menteri Brian. Publik menanti, apakah Kemendikti Saintek mau merevisi dan menyelipkan dompet empati untuk mahasiswa korban bencana, atau membiarkan mereka berjuang sendirian di tengah reruntuhan? Kita tunggu nyalinya!