Viral Tempel Es di Ketiak untuk Atasi Overthinking, Psikiater IPB Ungkap Fakta Sebenarnya
BOGOR, DIKSIMERDEKA.COM – Belakangan ini media sosial diramaikan dengan tren unik mengompres ketiak menggunakan es batu sebagai cara cepat meredakan overthinking dan rasa cemas. Video demi video yang menampilkan metode tersebut beredar luas di berbagai platform digital dan diklaim mampu membuat pikiran lebih tenang hanya dalam hitungan menit. Namun, benarkah cara ini efektif?
Psikiater sekaligus dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Riati Sri Hartini, SpKJ, MSc, mengingatkan masyarakat agar tidak langsung mempercayai klaim yang beredar di media sosial. Menurutnya, sensasi dingin memang dapat memberikan efek menenangkan, tetapi tidak bisa dijadikan terapi utama untuk mengatasi gangguan kecemasan maupun overthinking.
Ia menjelaskan bahwa kompres dingin bekerja dengan memengaruhi respons tubuh terhadap stres. Sensasi dingin dapat mengaktifkan sistem saraf parasimpatis, yakni bagian dari sistem saraf yang berperan dalam proses relaksasi setelah tubuh mengalami tekanan atau stres.
Selain itu, rasa dingin juga dapat mengalihkan perhatian seseorang dari pikiran yang berlebihan melalui teknik grounding, yaitu metode yang membantu seseorang kembali fokus pada kondisi saat ini.
“Efeknya hanya bersifat sementara, yaitu membantu menenangkan tubuh, bukan mengatasi penyebab kecemasan. Hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang cukup bahwa kompres es di ketiak merupakan terapi untuk mengatasi gangguan kecemasan atau overthinking,” jelas dr Riati.
Menurutnya, fenomena viral di media sosial sering kali membuat masyarakat tergoda mencoba berbagai metode tanpa memahami dasar ilmiahnya. Padahal, rasa cemas yang muncul sesekali berbeda dengan gangguan kecemasan yang memerlukan penanganan medis.
Karena itu, ia meminta masyarakat tidak menjadikan terapi dingin sebagai solusi utama ketika mengalami kecemasan yang terus berulang.
“Kecemasan yang berlangsung terus-menerus hingga mengganggu kualitas tidur, pekerjaan, maupun aktivitas sehari-hari memerlukan evaluasi dan penanganan oleh tenaga kesehatan,” ujarnya.
Selain efektivitasnya yang masih terbatas, penggunaan es secara langsung juga memiliki risiko apabila dilakukan secara berlebihan.
dr Riati mengingatkan bahwa menempelkan es pada kulit dalam waktu terlalu lama dapat menyebabkan iritasi bahkan cold burn, yakni cedera kulit akibat paparan suhu yang sangat dingin.
Oleh sebab itu, kompres dingin sebaiknya hanya dimanfaatkan sebagai pertolongan awal untuk membantu menenangkan diri, bukan sebagai metode pengobatan utama.
“Efektivitas terapi dingin dalam mengatasi kecemasan masih terbatas. Sebaliknya, berbagai teknik yang telah didukung bukti ilmiah, seperti latihan pernapasan, mindfulness, relaksasi, dan grounding, terbukti mampu membantu menurunkan gejala kecemasan,” katanya.
Ia menambahkan, pendekatan psikologis yang memiliki dukungan ilmiah kuat untuk menangani gangguan kecemasan adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT) atau terapi perilaku kognitif.
Terapi ini membantu seseorang mengenali pola pikir negatif yang memicu kecemasan, kemudian mengubahnya menjadi cara berpikir yang lebih adaptif sehingga gejala dapat berkurang secara bertahap.
Menurut dr Riati, penanganan gangguan kecemasan tidak cukup hanya mengandalkan satu metode instan yang viral di media sosial. Pengelolaan kesehatan mental membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, mulai dari perubahan gaya hidup hingga pendampingan profesional apabila diperlukan.
Untuk menjaga kesehatan mental dalam kehidupan sehari-hari, ia menyarankan masyarakat menerapkan pola hidup sehat secara konsisten.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain rutin berolahraga, memenuhi kebutuhan tidur, mengurangi konsumsi kafein, serta membatasi paparan informasi yang berlebihan, terutama konten yang berpotensi memicu kecemasan.
Kebiasaan tersebut sebaiknya dipadukan dengan latihan pernapasan, mindfulness, maupun teknik relaksasi agar kemampuan tubuh dalam mengelola stres menjadi lebih optimal.
Ia juga mengingatkan bahwa setiap orang memiliki tingkat ketahanan psikologis yang berbeda. Karena itu, apabila kecemasan tidak kunjung membaik, berlangsung selama beberapa minggu, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai serangan panik, masyarakat sebaiknya segera mencari bantuan profesional.
“Apabila kecemasan menetap selama beberapa minggu, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai serangan panik, segera berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Penanganan yang tepat sejak dini akan memberikan hasil yang lebih baik, baik melalui CBT maupun dengan pemberian obat-obatan apabila diperlukan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan