172 Ribu Hektar Hutan Terbakar, Spanyol dan Prancis Berpacu Jinakkan Api
PARIS, DIKSIMERDEKA.COM-Kebakaran Hutan Eropa memasuki fase kritis. Sebanyak 172 ribu hektare hutan di Spanyol telah terbakar, sementara Prancis dan Spanyol berpacu melawan waktu untuk menjinakkan kobaran api sebelum suhu kembali melonjak hingga 40 derajat Celsius, yang dikhawatirkan membuat kebakaran semakin sulit dikendalikan.
Dilansir The Guardian, upaya pemadaman kebakaran hutan di Prancis dan Spanyol memasuki fase krusial. Petugas pemadam kebakaran bekerja tanpa henti sebelum gelombang panas baru diperkirakan melanda mulai pertengahan pekan, yang dikhawatirkan akan membuat kobaran api semakin sulit dikendalikan. Selasa (28/7/2026).
Menteri Dalam Negeri Spanyol Fernando Grande-Marlaska mengatakan Senin dan Selasa menjadi hari yang sangat menentukan sebelum suhu kembali meningkat mulai Rabu.
Pejabat Uni Eropa bahkan memperingatkan musim kebakaran tahun ini berpotensi berlangsung hingga awal November dan menjadi salah satu yang terburuk dalam sejarah kawasan.
Kebakaran Terbesar di Spanyol
Kebakaran di kawasan berbukit Ávila, sebelah barat Madrid, kini tercatat sebagai salah satu kebakaran hutan terbesar yang pernah terjadi di Spanyol. Api telah melalap sekitar 50.000 hektare lahan atau setara lebih dari 125 ribu acre.
Sementara itu, dua titik kebakaran lain di barat laut Madrid membuat total luas lahan yang terbakar di sekitar ibu kota mencapai sekitar 70.000 hektare.
Pemerintah Spanyol mencatat sepanjang tahun ini sedikitnya 172.000 hektare kawasan hutan telah terbakar, atau enam kali lebih luas dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Perdana Menteri Pedro Sánchez menegaskan kebakaran tersebut bukan lagi peristiwa yang berdiri sendiri.
“Ini adalah manifestasi paling menyakitkan dari darurat iklim yang membuat kebakaran hutan semakin ganas dan gelombang panas semakin sering terjadi. Ini bukan lagi pengecualian, melainkan sudah menjadi aturan,” katanya.
Prancis Berpacu Melawan Waktu
Di Prancis, petugas pemadam juga menghadapi situasi serupa. Juru bicara dinas pemadam kebakaran Eric Brocardi menyebut negaranya kini “berpacu melawan waktu” sebelum suhu udara kembali melonjak hingga 40 derajat Celsius di sejumlah wilayah.
Kebakaran terbesar terjadi di wilayah Gironde, barat daya Prancis. Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez menggambarkan kobaran api sebagai kebakaran yang sangat intens dan sulit diprediksi karena mampu menciptakan hembusan angin sendiri sehingga arah penyebarannya berubah-ubah.
Presiden Emmanuel Macron, saat meninjau Bordeaux, mengatakan beberapa pekan ke depan akan menjadi masa yang berat.
“Minggu-minggu ke depan akan sulit dan kita harus bertahan,” ujar Macron.
Kebakaran di Gironde telah menghanguskan sekitar 42.000 hektare lahan, menjadikannya salah satu bencana kebakaran terbesar di Prancis sejak Perang Dunia II.
Sebanyak 220.000 orang telah dievakuasi akibat kebakaran tersebut. Di wilayah Landes yang berdekatan, lebih dari 30.000 warga juga sempat dievakuasi meski kondisi kebakaran mulai berhasil dikendalikan.
Uni Eropa Kerahkan Bantuan
Menghadapi situasi yang terus memburuk, Uni Eropa mengaktifkan mekanisme bantuan darurat.
Komisi Eropa mengirim tujuh pesawat dan empat helikopter pemadam kebakaran ke Prancis, serta enam pesawat dan tiga tim pemadam hutan ke Spanyol.
Sejumlah negara anggota, termasuk Italia, turut mengirimkan personel dan peralatan pemadam kebakaran meski mereka juga menghadapi kebakaran besar di dalam negeri.
Di Italia selatan, lebih dari 400 orang dievakuasi melalui jalur laut dari kawasan Semenanjung Gargano setelah api mendekati area perkemahan wisata. Sebanyak 58 warga lainnya juga dievakuasi dari wilayah Maratea.
Italia diperkirakan menghadapi gelombang panas keempat tahun ini dengan suhu yang diprediksi mencapai 38 hingga 40 derajat Celsius mulai Rabu.
Dampak Perubahan Iklim Kian Terasa
Komisi Eropa menilai krisis iklim menjadi salah satu faktor utama yang memperburuk musim kebakaran tahun ini. Serangkaian gelombang panas, termasuk suhu ekstrem yang terjadi pada Juni lalu, membuat tanah semakin kering dan vegetasi mudah terbakar.
Pejabat Komisi Eropa bidang transisi hijau, Teresa Ribera, mengatakan Eropa belum sepenuhnya siap menghadapi dampak perubahan iklim. Komisi Eropa berencana meluncurkan strategi adaptasi baru pada Oktober mendatang untuk memperkuat upaya menghadapi cuaca ekstrem.
Selain ancaman api, asap pekat dari kebakaran di Prancis juga menyebabkan kualitas udara memburuk di wilayah Nouvelle-Aquitaine dan sekitarnya. Otoritas kesehatan mengimbau lansia, ibu hamil, penderita gangguan pernapasan, serta masyarakat rentan lainnya untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, menutup jendela rumah, dan menggunakan masker FFP2 saat harus beraktivitas di luar.

Tinggalkan Balasan