Buka Rakernas, Wamenpar Ni Luh Puspa Ajak KMHDI Hadirkan Kritik Logis dan Konstruktif
DIKSIMERDEKA.COM, BOGOR – Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) RI Ni Luh Puspa mengajak mahasiswa Hindu untuk senantiasa mengedepankan logika, data, dan fakta dalam melayangkan kritik terhadap jalannya pemerintahan maupun kebijakan publik.
Langkah ini dinilai krusial guna menghasilkan kritik konstruktif yang mampu merawat persatuan bangsa di tengah polarisasi yang kian tajam.
Hal tersebut ditegaskan Ni Luh Puspa saat memberikan sambutan dalam Pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XIV Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) yang berlangsung di Bogor, Jawa Barat, Kamis (16/7/2026).
Di hadapan ratusan kader mahasiswa, ia mengingatkan bahwa menjaga keutuhan bangsa adalah tanggung jawab moral bersama.
“Saya melihat bahwa persatuan Indonesia menjadi barang mahal saat ini di republik ini. Dan adik-adik membawa pesan persatuan Indonesia, maka adik-adik bertanggung jawab di situ,” ujar Ni Luh Puspa.
Mantan jurnalis ini mengingatkan mahasiswa agar jangan terseret dalam arus penyampaian pendapat yang hanya didorong oleh sentimen emosional sesaat tanpa landasan argumentasi yang kuat.
Menurutnya, ketajaman nalar mahasiswa khususnya merespon kebijakan pemerintah harus mencerminkan objektivitas berpikir kritis yang berdasarkan data, fakta dan konsep akademis.
“Adik-adik mahasiswa adalah orang-orang kritis, tapi sikap kritis, khususnya saat merespon kebijakan pemerintah mesti selalu berdasarkan logika, data dan juga teori yang relevan. Karena kalian adalah insan akademis. Kritisnya jangan hanya berdasarkan emosional masing-masing, apalagi sekedar sentimen pribadi,” pintanya.
Lebih lanjut, Ni Luh menguraikan bahwa penajaman logika berpikir dalam merumuskan kritik akan melahirkan solusi-solusi yang solutif bagi pembangunan negara, bukan justru memperlebar jurang perpecahan.
“Logika berpikir yang dikedepankan dalam sikap kritis itu akan menghadirkan kritik-kritik yang konstruktif, bukan destruktif. Jadi, kita harus selalu menghadirkan dengan sesuatu yang konstruktif. Dan karena pikiran-pikiran yang konstruktif itu yang akan menjaga persatuan Indonesia,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Ni Luh Puspa juga merefleksikan sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang tidak pernah lepas dari peran sentral pemuda. Ia mencontohkan bagaimana proklamator sekaligus Presiden pertama RI, Soekarno, telah memulai langkah besar sejarahnya sejak masih berstatus sebagai mahasiswa.
“Sejak awal bangsa ini dibuat, pemuda itu bukan hanya datang sebagai penontonnya. Tapi negara, republik ini dibentuk dan digerakkan itu oleh pemuda. Presiden Soekarno itu ketika membentuk negara ini, dia adalah mahasiswa,” terangnya memberi semangat.
Menutup sambutannya, Wamenpar menekankan agar KMHDI tidak bersikap pasif terhadap berbagai dinamika kebangsaan saat ini. Organisasi mahasiswa, sekecil apa pun skalanya, dituntut untuk mengambil peran aktif di masyarakat.
“Jangan berpikir bahwa kita hanya menjadi penonton. Jangan berpikir bahwa pemuda, sekecil apa pun organisasi yang kita miliki kita kemudian hanya datang untuk melihat, tetapi kita harus ikut menjadi penggerak,” pungkasnya.
Editor: Agus Pebriana

Tinggalkan Balasan