Hormuz Membara! AS Gempur Iran Tujuh Malam Beruntun
TEHERAN, DIKSIMERDEKA.COM – Konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran semakin membara. Militer AS melancarkan serangan udara selama tujuh malam berturut-turut ke sejumlah wilayah Iran, sementara pertempuran di sekitar Selat Hormuz terus meningkat dan memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia.
Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command/CENTCOM) menyatakan serangan terbaru dimulai pada Jumat (18/7) pukul 19.00 GMT. Washington menegaskan operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran.
“Serangan ini dilakukan untuk terus mengurangi kemampuan militer Iran,” tulis CENTCOM melalui platform X.
Media Iran melaporkan ledakan terdengar di sejumlah kota, termasuk Sirik, Ahvaz, dan Yazd.
Iran Klaim Dua Kapal Tanker Meledak
Ketegangan semakin meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim dua kapal tanker minyak terkena ranjau di Selat Hormuz hingga meledak.
Namun, militer Amerika Serikat langsung membantah klaim tersebut dan menyebut informasi itu tidak benar.
Pertempuran berlanjut hingga Sabtu (19/7). Iran mengaku menyerang pangkalan udara Sheikh Isa di Bahrain yang menjadi lokasi pesawat tempur AS, pusat data intelijen Batelco, dermaga logistik Angkatan Laut AS di Pelabuhan Al-Ahmadi, Kuwait, hingga pusat komunikasi militer Amerika.
Serangan rudal dan drone Iran juga memaksa Bandara Internasional Kuwait menghentikan operasional sementara.
Infrastruktur Iran Jadi Sasaran
Sebelumnya, serangan udara AS menghantam sejumlah jembatan strategis di Provinsi Hormozgan yang menjadi jalur penting menuju Pelabuhan Bandar Abbas.
Televisi pemerintah Iran melaporkan sedikitnya tujuh orang tewas akibat serangan tersebut.
Militer AS juga mengaku menghancurkan menara di Pelabuhan Chabahar yang disebut digunakan IRGC untuk mendukung serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz.
Selain itu, fasilitas kelistrikan dan Bandara Iranshahr ikut menjadi sasaran.
Akibat kerusakan infrastruktur energi, Kementerian Energi Iran meminta masyarakat mengurangi penggunaan listrik dan pendingin ruangan karena jaringan listrik mengalami tekanan berat di tengah cuaca panas ekstrem.
Korban Terus Bertambah
Juru Bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, mengatakan hingga Jumat pagi sedikitnya 38 orang tewas dan lebih dari 400 orang terluka akibat gelombang serangan terbaru Amerika Serikat.
Sejumlah pakar hak asasi manusia mengingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil yang tidak digunakan untuk kepentingan militer dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Iran Ancam Negara yang Menampung Pangkalan AS
IRGC memperingatkan negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer Amerika Serikat akan menghadapi “harga yang sangat mahal” apabila serangan terhadap Iran terus berlanjut.
Sebagai balasan, Iran mengaku meluncurkan serangan ke sejumlah wilayah di Bahrain, Kuwait, Yordania, Oman, dan Qatar.
Di Kuwait, serangan dilaporkan merusak pembangkit listrik sekaligus fasilitas desalinasi yang memasok sekitar 90 persen kebutuhan air minum negara tersebut.
Sementara di Qatar, puing rudal dilaporkan melukai seorang anak setelah sistem pertahanan udara mencegat serangan.
Selat Hormuz Jadi Titik Perebutan
Fokus konflik kini mengarah ke Selat Hormuz, jalur pelayaran yang sebelum perang mengangkut sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.
Aktivitas pelayaran di kawasan tersebut turun drastis dalam beberapa hari terakhir karena meningkatnya aksi saling serang antara kedua pihak.
Laporan Lloyd’s List Intelligence menyebut pengiriman kargo melalui Selat Hormuz telah turun hampir seperempat sejak awal bulan.
Banyak kapal kini memilih berhenti beroperasi atau mematikan sistem pelacak lokasi demi menghindari risiko serangan.
Ancaman Meluas ke Laut Merah
Iran juga dikabarkan meminta kelompok Houthi di Yaman bersiap menutup jalur pelayaran di Laut Merah apabila Amerika Serikat terus menyerang fasilitas energi Iran.
Jika ancaman itu benar-benar diwujudkan, para analis memperingatkan pasar energi global dapat mengalami gangguan besar karena dua jalur distribusi minyak dunia, yakni Selat Hormuz dan Laut Merah, berpotensi lumpuh secara bersamaan.
Di tengah meningkatnya konflik, Presiden AS Donald Trump tetap optimistis.
“Kami juga meraih kemenangan besar di Iran, dan Anda akan segera melihat hasilnya,” kata Trump dalam pidatonya kepada publik Amerika Serikat.
Konflik yang terus berlangsung membuat pelayaran internasional melalui Selat Hormuz semakin berisiko. Sejumlah perusahaan pelayaran mulai mengurangi aktivitas di kawasan tersebut, sementara pelaku pasar energi memantau perkembangan situasi karena jalur ini merupakan salah satu rute utama distribusi minyak mentah dunia. Para analis memperingatkan bahwa jika eskalasi terus meningkat, dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara di Timur Tengah, tetapi juga pasar energi global melalui kenaikan biaya logistik dan harga minyak.

Tinggalkan Balasan