Siapa Bilang Spanyol Underdog? La Roja Hajar Prancis 2-0, Tunjukkan Siapa Raja Eropa
DIKSIMERDEKA.COM DALLAS– Jangan pernah lagi meragukan Spanyol. Di tengah sorotan yang lebih banyak tertuju kepada Kylian Mbappé dan lini serang Prancis, justru La Roja tampil sebagai tim yang paling matang. Bermain disiplin, tenang, dan mematikan, pasukan Luis de la Fuente menyingkirkan Prancis dengan kemenangan meyakinkan 2-0 untuk memastikan tiket ke final Piala Dunia 2026.
Mikel Oyarzabal membuka keunggulan lewat titik penalti pada babak pertama, sebelum Pedro Porro mengunci kemenangan melalui gol indah hasil kombinasi apik bersama Dani Olmo di babak kedua. Kemenangan ini membawa Spanyol selangkah lagi menuju gelar juara dunia.
Namun kemenangan Spanyol bukan hanya tercermin dari papan skor. Statistik pertandingan menunjukkan bagaimana mereka mampu memenangkan duel taktik melawan Prancis.
Meski penguasaan bola nyaris seimbang, Spanyol unggul tipis dengan 51 persen berbanding 49 persen, tetapi mereka jauh lebih efektif dalam mengendalikan ritme permainan. La Roja juga mencatat 487 operan dengan akurasi 86 persen, sedikit lebih banyak dibanding Prancis yang membukukan 408 operan dengan akurasi 87 persen.
Prancis memang lebih agresif dalam menyerang. Les Bleus melepaskan 14 tembakan, lebih banyak daripada Spanyol yang hanya menghasilkan 10 percobaan. Namun efektivitas menjadi pembeda. Dari 14 percobaan itu, hanya empat yang mengarah ke gawang, sementara Spanyol mampu mengubah dua dari dua tembakan tepat sasaran menjadi gol. Efisiensi luar biasa yang membuat setiap peluang La Roja terasa mematikan.
Oyarzabal Pecah Kebuntuan
Pertandingan awalnya berjalan hati-hati. Kedua tim saling menghormati dan tidak ingin memberikan ruang sedikit pun.
Momentum datang ketika Lamine Yamal menusuk dari sisi kanan dan dijatuhkan Lucas Digne di kotak penalti. Wasit tanpa ragu menunjuk titik putih.
Mikel Oyarzabal yang maju sebagai algojo menjalankan tugasnya dengan sempurna. Mike Maignan bergerak ke arah yang benar, tetapi bola meluncur terlalu deras ke sudut gawang.
Gol tersebut membuat Spanyol semakin percaya diri.
Porro Menyempurnakan Dominasi
Prancis mencoba bangkit selepas jeda. Didier Deschamps memasukkan Manu Koné demi memperbaiki keseimbangan lini tengah, tetapi dominasi Spanyol justru semakin terasa.
Gol kedua lahir melalui skema yang memperlihatkan kualitas kolektif La Roja. Dani Olmo, meski dalam posisi terjatuh, masih mampu mengembalikan umpan kepada Pedro Porro yang berlari tanpa kawalan di sisi kanan. Bek Tottenham Hotspur itu menyelesaikan peluang dengan sepakan keras yang tak mampu dihentikan Maignan.
Gol tersebut praktis mematahkan semangat Prancis.
Mbappé Tenggelam
Sorotan tertuju kepada Kylian Mbappé yang diharapkan menjadi pembeda. Namun bintang Real Madrid itu nyaris tak mendapat ruang bergerak.
Barisan pertahanan Spanyol tampil disiplin, sementara lini tengah mereka terus memutus aliran bola menuju empat penyerang Prancis.
Ousmane Dembélé kehilangan sentuhan terbaiknya, Michael Olise sulit berkembang, sedangkan Bradley Barcola gagal memberikan ancaman berarti.
Mbappé baru memperoleh peluang emas menjelang laga usai. Namun tendangannya masih mampu ditepis Unai Simón, sebelum satu percobaan lain melambung tinggi.
Statistik Menggambarkan Cerita Sebenarnya
Meski Prancis unggul dalam jumlah tembakan (14 berbanding 10) dan memperoleh tujuh tendangan sudut, tekanan yang mereka bangun gagal menghasilkan gol. Sebaliknya, Spanyol menunjukkan kualitas penyelesaian akhir yang jauh lebih baik.
La Roja juga memancing Prancis bermain terburu-buru. Les Bleus tercatat 12 kali melakukan pelanggaran, sedikit lebih banyak dari Spanyol yang melakukan 11 pelanggaran. Spanyol juga memaksa Prancis terjebak lima kali offside, menandakan koordinasi lini belakang mereka bekerja sangat efektif.
Sebaliknya, lini serang Prancis berkali-kali kehilangan momentum karena jebakan offside yang diterapkan secara disiplin oleh para bek Spanyol.
Final Menanti
Kemenangan ini menegaskan bahwa Spanyol bukan hanya mengandalkan bakat individu seperti Lamine Yamal atau Dani Olmo. Mereka tampil sebagai sebuah tim yang utuh, sabar membangun serangan, disiplin saat bertahan, dan sangat klinis ketika peluang datang.
Kini La Roja tinggal menunggu pemenang laga semifinal lainnya untuk menentukan siapa yang akan mereka hadapi di partai puncak.
Satu hal sudah pasti, setelah menyingkirkan Prancis tanpa banyak memberi ruang bagi Mbappé untuk bernapas, Spanyol mengirim pesan tegas kepada siapa pun lawan mereka di final: mereka datang bukan sekadar untuk bermain, tetapi untuk mengangkat trofi Piala Dunia 2026.

Tinggalkan Balasan