DIKSIMERDEKA.COM, DENPASAR – Indonesia perlu mempercepat pemanfaatan energi surya untuk memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat, memperkuat kemandirian energi, sekaligus mendorong pembangunan ekonomi rendah karbon. Komitmen tersebut menjadi fokus utama Indonesia Solar Summit (ISS) 2026 yang digelar di Bali pada 14–16 Juli 2026.

Forum yang diselenggarakan Institute for Essential Services Reform (IESR) bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Dewan Energi Nasional (DEN), dan Pemerintah Provinsi Bali itu untuk pertama kalinya berlangsung di luar Jakarta.

ISS 2026 menghadirkan tiga gubernur dari provinsi yang telah menetapkan target net zero emission (NZE) lebih cepat dari target nasional, yakni Bali pada 2045, serta Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 2050.

Chief Executive Officer IESR Fabby Tumiwa mengatakan setiap daerah memiliki karakteristik dan potensi energi terbarukan yang berbeda sehingga strategi pengembangannya harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Menurut dia, Bali berpotensi menjadi contoh destinasi pariwisata rendah karbon berbasis energi surya, sementara NTB dan NTT dapat berkembang sebagai pusat pengembangan energi surya dan industri hijau nasional.

“Setiap daerah perlu diberikan ruang untuk berkontribusi sesuai potensi, kebutuhan, dan struktur ekonominya masing-masing. Pemerintah daerah juga harus dilibatkan sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan proyek energi terbarukan,” kata Fabby.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Bali mempercepat transisi menuju energi bersih melalui pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Ia mengatakan Bali tengah menyiapkan peningkatan kapasitas listrik berbasis energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan energi daerah hingga 2030.

Salah satu program prioritas adalah menjadikan Nusa Penida sebagai kawasan percontohan Green Island dengan target menggunakan 100 persen energi terbarukan pada 2030.

“Kami juga akan mendorong seluruh mobilitas di kawasan tersebut menggunakan kendaraan listrik berbasis baterai sehingga Nusa Penida menjadi kawasan rendah emisi dan rendah karbon,” ujar Koster.

Selain membahas pengembangan energi surya, ISS 2026 juga menjadi ajang peluncuran laporan kajian IESR berjudul Peta Jalan Pengembangan Industri Rantai Pasok Fotovoltaik Surya Domestik di Indonesia.

Kajian tersebut menilai Indonesia memiliki peluang besar membangun industri panel surya yang terintegrasi. Namun, peluang tersebut dinilai belum optimal karena masih terbatasnya pasar domestik, regulasi yang belum konsisten, serta rantai pasok industri yang belum terintegrasi.

IESR merekomendasikan pemerintah memperkuat empat aspek utama, yakni memperluas pasar PLTS dalam negeri, meningkatkan kapasitas industri manufaktur, menyiapkan sumber daya manusia yang menguasai teknologi terbaru, serta memperkuat riset dan inovasi.

Lembaga itu juga mendorong konsistensi kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) serta penyederhanaan perizinan agar mampu memberikan kepastian bagi investor dan mempercepat pembangunan PLTS nasional.

Dalam ISS 2026, IESR turut memberikan Solar Awards kepada sejumlah pihak yang dinilai berkontribusi dalam pengembangan energi surya di Indonesia. Penghargaan kategori pemerintah daerah diberikan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat, kategori perguruan tinggi kepada Universitas Gadjah Mada (UGM), dan kategori industri kepada Danone Indonesia atas komitmennya dalam dekarbonisasi operasional melalui pemanfaatan PLTS.

ISS 2026 merupakan penyelenggaraan kelima sejak pertama kali digelar pada 2022 dan diharapkan menjadi forum strategis untuk mempercepat transisi energi, memperkuat investasi energi surya, serta membangun fondasi kedaulatan energi Indonesia berbasis energi bersih.