Taipan Malta Sewa Pembunuh Bayaran Rp3 Miliar untuk Habisi Jurnalis Investigasi
DIKSIMERDEKA.COM, VALLETTA — Delapan tahun setelah sebuah bom merenggut nyawa jurnalis investigasi Daphne Caruana Galizia, tabir kasus yang mengguncang Malta akhirnya dibuka di ruang sidang. Seorang taipan properti, Yorgen Fenech, didakwa menjadi otak pembunuhan dengan menyewa tiga pembunuh bayaran dan menggelontorkan dana 150.000 euro atau sekitar Rp3,06 miliar untuk menghabisi jurnalis yang dikenal vokal membongkar korupsi tersebut.
Dilansir The Guardian, Fenech adalah seorang pria berusia 44 tahun Dirinya merupakan pewaris kerajaan bisnis properti yang memiliki sejumlah aset bergengsi, termasuk Hilton Malta Hotel & Casino. Dalam sidang perdana yang digelar di Pengadilan Valletta, Rabu (1/7/2026), ia membantah seluruh dakwaan dan menyatakan dirinya tidak bersalah.
Jaksa mendakwa Fenech atas dua tuduhan, yakni terlibat dalam pembunuhan berencana terhadap Caruana Galizia serta bersekongkol dengan sejumlah orang untuk melakukan tindak pidana tersebut.
Kasus ini menjadi salah satu pembunuhan jurnalis paling menggemparkan di Eropa. Daphne Caruana Galizia tewas pada 16 Oktober 2017 setelah bom berkekuatan tinggi yang dipasang di bawah kursi pengemudi mobilnya diledakkan dari jarak jauh ketika ia meninggalkan rumahnya di Desa Bidnija.
Jurnalis berusia 53 tahun itu dikenal luas karena laporan-laporan investigatifnya yang membongkar dugaan korupsi, pencucian uang, hingga hubungan erat antara elite politik dan pebisnis di Malta. Pemberitaannya kerap membuat tokoh-tokoh berpengaruh terusik dan memicu berbagai bentuk intimidasi terhadap dirinya sebelum akhirnya tewas mengenaskan.
Diduga Dipesan Sejak April 2017
Dalam surat dakwaan, jaksa mengungkap dugaan bahwa rencana pembunuhan mulai disusun pada April 2017. Fenech disebut menghubungi rekannya, Melvin Theuma, seorang sopir taksi sekaligus bandar judi, untuk mencarikan orang yang bersedia membunuh Caruana Galizia.
Theuma kemudian mempertemukan Fenech dengan kakak beradik George Degiorgio dan Alfred Degiorgio, yang akhirnya sepakat menjadi eksekutor dengan bayaran 150.000 euro atau sekitar Rp3,06 miliar.
Sebagai uang muka, Fenech diduga menyerahkan 30.000 euro atau sekitar Rp612,45 juta melalui Theuma kepada para pelaku.
Namun rencana itu sempat ditunda karena Malta menggelar pemilihan umum pada Juni 2017. Setelah pemerintahan Partai Buruh kembali memenangkan pemilu, Fenech disebut memerintahkan agar operasi pembunuhan segera dijalankan.
Bom Disembunyikan di Kotak Sepatu
Jaksa membeberkan bahwa para pelaku sempat mempertimbangkan menggunakan senapan untuk menghabisi korban. Namun mereka akhirnya memilih bom rakitan yang disembunyikan di dalam sebuah kotak sepatu anak-anak dan dipasang di bawah kursi pengemudi mobil Caruana Galizia.
Bom tersebut dipasangi penerima sinyal telepon seluler dan diledakkan dari jarak jauh melalui pesan singkat yang dikirim George Degiorgio ketika berada di atas perahunya di Grand Harbour, Malta.
Ledakan itu membuat mobil Caruana Galizia keluar jalur sebelum terbakar hebat. Putranya, Matthew Caruana Galizia, menjadi orang pertama yang tiba di lokasi dan menemukan jasad ibunya di dalam bangkai kendaraan.
Bayar Biaya Hukum Para Pelaku
Beberapa hari setelah pembunuhan, Alfred Degiorgio disebut mengambil sisa pembayaran melalui Melvin Theuma. Selain itu, jaksa juga menuding Fenech menggelontorkan puluhan ribu euro untuk membiayai proses hukum para pelaku setelah mereka ditangkap.
Theuma kemudian ditangkap pada 2019. Ia membawa sejumlah rekaman percakapan yang diklaim berisi komunikasi rahasia dengan Fenech. Rekaman tersebut kini menjadi salah satu alat bukti utama dalam persidangan.
Meski demikian, tim kuasa hukum Fenech membantah seluruh tuduhan. Mereka menyebut kesaksian Theuma dipenuhi “setengah kebenaran” dan “kebohongan terang-terangan”, serta menolak interpretasi jaksa terhadap rekaman tersebut.
Ancaman Penjara Seumur Hidup
Yorgen Fenech menjadi orang terakhir dari tujuh tersangka yang diadili dalam kasus pembunuhan ini. Lima orang telah divonis bersalah, sementara Melvin Theuma memperoleh pengampunan setelah bersedia menjadi saksi utama.
Jaksa Agung Malta meminta majelis hakim menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Fenech atas dakwaan pembunuhan, ditambah hukuman 20 hingga 30 tahun penjara atas tuduhan bersekongkol melakukan tindak pidana.
Kasus pembunuhan Daphne Caruana Galizia juga memicu krisis politik besar di Malta. Tekanan publik yang terus meningkat setelah penangkapan Fenech memaksa Perdana Menteri saat itu, Joseph Muscat, mengundurkan diri pada Desember 2019.
Kini, persidangan Yorgen Fenech dipandang sebagai babak penentu dalam upaya mengungkap siapa dalang di balik pembunuhan jurnalis yang selama hidupnya dikenal berani membongkar praktik korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan di negara kepulauan kecil kawasan Mediterania tersebut.

Tinggalkan Balasan