DIKSIMERDEKA.COM – LIMA – Peru memasuki babak baru dalam peta politiknya. Keiko Fujimori akhirnya memenangkan pemilihan presiden setelah mengalahkan kandidat sayap kiri Roberto Sanchez dengan selisih suara yang sangat tipis. Kemenangan ini sekaligus menandai kebangkitan kembali kubu konservatif di Amerika Latin.

Hasil akhir penghitungan suara menunjukkan Keiko Fujimori unggul kurang dari 50.000 suara dari lebih dari 18 juta suara sah yang masuk dalam putaran kedua pemilihan presiden pada 7 Juni lalu.

Komisi Pemilihan Nasional Peru dijadwalkan mengesahkan hasil tersebut secara resmi pada 3 Juli, setelah selama beberapa pekan memeriksa berbagai surat suara yang sempat dipersengketakan.

Melalui akun media sosial X, Keiko menyampaikan rasa syukur sekaligus janji kepada rakyat Peru.

“Setiap hari kita semakin dekat untuk memulai jalan menuju ketertiban dan harapan bagi seluruh rakyat Peru,” tulisnya.

Menang pada Percobaan Keempat

Kemenangan ini memiliki arti istimewa bagi Keiko Fujimori.

Putri mendiang Presiden Alberto Fujimori itu akhirnya berhasil meraih kursi kepresidenan setelah tiga kali gagal dalam pemilu sebelumnya.

Politikus berusia 51 tahun tersebut akan mulai menjabat sebagai Presiden Peru pada 28 Juli 2026 dengan masa jabatan selama lima tahun.

Selama kampanye, Keiko mengusung janji untuk memulihkan keamanan nasional yang terus memburuk akibat meningkatnya aksi pemerasan, pembunuhan bayaran, dan kejahatan terorganisasi.

Ia berjanji akan memimpin dengan tangan yang tegas seperti yang pernah dilakukan ayahnya.

Bayang-Bayang Alberto Fujimori

Nama Fujimori tetap menjadi pedang bermata dua dalam politik Peru.

Di satu sisi, Alberto Fujimori dikenang sebagai pemimpin yang berhasil menghancurkan kelompok pemberontak Maois serta mengendalikan hiperinflasi yang sempat melumpuhkan ekonomi Peru.

Namun di sisi lain, pemerintahannya juga meninggalkan catatan kelam.

Alberto Fujimori kemudian dijatuhi hukuman penjara atas kasus korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan dalam operasi pemberantasan terorisme.

Warisan politik tersebut membuat Keiko memiliki basis pendukung yang loyal sekaligus penentang yang sangat besar.

Selama bertahun-tahun, jutaan warga Peru menolak memberikan suara kepada siapa pun yang menyandang nama Fujimori.

Meski demikian, pada pemilu kali ini Keiko berhasil mematahkan kutukan tersebut.

Lawan Tolak Akui Kekalahan

Sementara itu, Roberto Sanchez belum memberikan pernyataan resmi setelah hasil akhir diumumkan.

Sebelumnya, ia sempat memimpin penghitungan suara sebelum akhirnya disalip Keiko Fujimori.

Selama proses rekapitulasi, Sanchez juga menuding adanya berbagai kejanggalan administratif, terutama dalam penghitungan suara pemilih Peru di luar negeri.

Ia bahkan sempat menyatakan tidak akan mengakui pemerintahan yang dipimpin Keiko apabila dugaan pelanggaran tersebut tidak diselesaikan.

Meski demikian, otoritas pemilu Peru tetap melanjutkan proses verifikasi hingga akhirnya menetapkan Keiko sebagai pemenang.

Tantangan Berat Menanti

Keiko Fujimori akan mewarisi kondisi politik yang tidak mudah.

Dalam satu dekade terakhir, Peru mengalami krisis politik berkepanjangan dengan pergantian delapan presiden hanya dalam waktu sekitar sepuluh tahun.

Situasi keamanan juga memburuk akibat meningkatnya aksi kriminal dan kelompok pemeras yang beroperasi di berbagai kota besar.

Karena itu, pemerintahan baru di bawah Keiko Fujimori akan menghadapi tekanan besar untuk segera memulihkan stabilitas politik sekaligus mengembalikan rasa aman bagi masyarakat.

Kemenangan Keiko juga memperkuat tren menguatnya kubu konservatif di Amerika Latin dalam beberapa tahun terakhir, setelah sejumlah negara di kawasan mulai memilih pemimpin berhaluan kanan sebagai respons terhadap ketidakpuasan publik terhadap pemerintahan sebelumnya.

Kemenangan Keiko Fujimori diperkirakan akan membawa perubahan arah kebijakan Peru, terutama di bidang keamanan, ekonomi, dan stabilitas pemerintahan. Selama kampanye, ia menegaskan akan memperkuat penegakan hukum untuk menekan meningkatnya kejahatan terorganisasi yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi perhatian utama masyarakat. Selain itu, pemerintahan baru diharapkan mampu memulihkan kepercayaan investor dan mendorong pertumbuhan ekonomi setelah Peru dilanda ketidakpastian politik berkepanjangan. Meski demikian, tantangan yang dihadapi tidak ringan. Polarisasi politik masih tinggi, sementara oposisi diperkirakan akan terus mengawasi setiap kebijakan yang diambil pemerintahan Keiko. Keberhasilannya memenuhi janji kampanye akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah masa depan Peru selama lima tahun ke depan demi kesejahteraan rakyat Peru.